11. Nathan

1030 Kata
"Nathan, Sayang. Bantuin Mama, gih!" Di sebuah butik yang terletak di pinggiran kota, Maria dan Nathan sedang berada di sebuah ruangan yang menjadi kantornya. "Iya, Ma!" Nathan, seorang siswa kelas XII, meski dia terlihat badung di luar, namun nyatanya dia anak yang sangat manis jika di rumah. Membantu pekerjaan ibunya adalah suatu hal yang menjadi kebiasaannya.  Maria memiliki sebuah butik, dari sanalah dia hidup dan menghidupi Nathan selama ini. Wanita berusia sekitar empat puluh tahun itu tidak ingin Nathan hidup dengan mudah dan akhirnya menjadikannya anak yang manja. Perusahaan warisan suaminya dia titipkan pada seseorang kepercayaannya yang sebentar lagi akan menjadi besannya. Biarlah Nathan dia tempa dulu agar pribadinya matang dan juga tidak lembek. "Ini pindahin ke sana, Sayang!" Maria menunjuk ke arah manekin yang ada di sisi kiri meja kerjanya. Rencananya ingin dia pindah ke bagian depan butiknya. Butik yang dimilikinya memang bukan yang terbesar di kota ini, namun Maria sudah memiliki banyak pelanggan, baik dari kalangan biasa maupun menengah ke atas. "Siap Mama sayang!" Nathan menaikkan tangannya seperti orang yang sedang hormat kepada bendera. Maria hanya tersenyum melihat kekocakan anaknya itu. Beruntung dia memiliki Nathan yang bisa menghibur dirinya. Selama ini dia memang merahasiakan tentang perusahaan warisan suaminya kepada Nathan. Bukan karena ingin menguasai atau tidak ingin Nathan merasakan kemewahan, namun ini sebagai salah satu sarana untuk mendidik Nathan agar tidak bergantung pada warisan. Dan baru diberitahukannya beberapa saat yang lalu agar Nathan menyetujui perjodohan mereka. Dan berhasil! Nathan tumbuh menjadi remaja yang mandiri. Meski di luar sedikit keras, tapi dia sangat penurut kepada ibunya. Nathan pun dengan sigap menjalankan perintah ibunya. Jika hari libur seperti ini, dia akan membantu ibunya untuk mengelola butik. Lebih tepatnya dia juga bekerja di sana. Ya! Maria mengharuskannya bekerja di hari libur jika ingin punya untuk membeli barang-barang kebutuhan selain uang jajan. Bukan pelit, hanya saja itu cara dia mendidik anaknya seorang diri. "Gimana kencan kamu ama Helena kemarin?" Maria kini tengah menata dress pada manekin. Dia memang sedari dulu suka sekali dengan fashion.  Mendengar pertanyaan ibunya, Nathan langsung menghentikan aktifitasnya, "Lancar, Ma!" jawabnya singkat. Tak tahu lagi harus menjelaskan bagaimana, dia tidak ingin melukai mamanya. Nathan ketar-ketir jika mamanya menanyakan tentang pertemuannya dengan Sofia kemarin saat bersama Salsa. Kira-kira apa reaksi mamanya itu? Apakah marah atau malah mencoba memikirkan lagi tentang rencana perjodohan ini? "Bagus, deh. Mama harap, Om Doni dan juga Tante Sofia yang jadi besan Mama. Kita udah hubungan baik lama, perusahaan juga selama ini Om Doni yang pegang. Mama maunya kamu nikah dengan salah satu putrinya, sebagai rasa terima kasih karena dia telah membantu Mama ngurus perusahaan sebelum bisa kamu pegang." Perasaan Nathan merasa tertohok karena ucapan ibunya barusan. Apakah mungkin dia akan menghancurkan keinginan ibunya itu? Selama ini dia tak pernah bisa melihat orang tua satu-satunya itu kecewa. Sebisa mungkin Nathan selalu menurut pada ibunya. Tak pernah sekali pun dia mengecewakan ibunya. "Ma!" Nathan nampak salah tingkah kali ini. Membohongi ibunya seperti ini membuat sisi hatinya terluka begitu dalam. Memikirkan kembali tentang rencananya dan juga Helen untuk menggagalkan rencana pernikahan mereka. "Hmm ...!" Maria melihat ke arah anaknya itu. Sebagai orang tua yang membesarkannya, tentu saja Maria sangat hapal dengan karakter Nathan. Dia itu akan kelihatan jika sedang gelisah atau berbohong. Nathan bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan perasaannya. "Kamu kenapa, Nat?" Maria menaikkan sebelah alisnya karena merasakan ada yang aneh dari sikap Nathan. Nathan berkali-kasi menggigit bibirnya dan meremas tangannya, tandanya ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan. "Ehm ... nggak jadi, Ma. Nathan ke depan dulu. Bantu-bantu di depan. Siapa tahu butuh bantuan?" Setelah mengucapkan hal itu, Nathan segera berlalu dari hadapan Maria. Menyisakan tanda tanya besar bagi ibunya itu. Maria tetap mencium ada yang aneh dengan putranya itu. Nathan menuruni tangga menjauh dari ruangan ibunya. Dia sepertinya tidak bisa mengatakan jika dia tak setuju dengan rencana perjodohan itu. Jika ingin membatalkan, memang lebih baik para orang tua yang memutuskan.  Pemuda berusia 19 tahun itu melihat ke arah depan, ramai pengunjung dan para pekerja ibunya sedikit kuwalahan. Nathan bergegas menuju ke arah depan dan membantu mereka melayani tamu. Melihat brondong yang bikin melek mata, membuat wajah para pengunjung yang kesemuanya wanita mendadak berbinar dan mencuri pandang ke arah Nathan. Nathan hanya bersikap wajar karena hal ini sudah sangat sering terjadi. Bahkan para pelanggan sering datang lagi hanya untuk melihat wajah brondong tampan itu. Terlebih jika hari libur seperti ini, sudah bisa dipastikan omset butik Maria naik berkali-kali lipat. Sepertinya Nathan menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum hawa, baik yang muda atau yang tua. Jika dia digoda, Nathan hanya menanggapinya dengan tersenyum. "Dek ... jadi mantu Ibu, ya?" Salah seorang pengunjung wanita paruh baya sedang menggoda Nathan. Dia datang beserta anak perempuannya yang seusia Nathan. Gadis itu sedari tadi mencuri pandang ke arah Nathan, dan kini menjadi salah tingkah. "Ih! Mama apaan, sih? Malu tahu!" Bibir gadis itu mengerucut kesal. Nathan hanya tersenyum karena pemandangan seperti ini adalah hal biasa. Dan pemuda 19 tahun itu mencoba untuk tidak menanggapi. "Lho! Bukannya kamu sedari tadi curi-curi pandang gitu? Dan ikut Mama ke sini karena pengen ketemu ama Mas ini?" Perkataan blak-blakan ibunya, tentu saja membuat gadis itu menunduk menahan malu.  "Ish! Mama nyebelin!" Gadis itu menghentakkan kakinya dan segera berlalu meninggalkan ibunya. Sebelumnya, dia melirik ke arah Nathan dan bertambah kesal karena nyatanya Nathan malah tersenyum mendengar pertengkaran mereka. "Lho! Kelly ... Kamu nggak jadi beli gaun, Sayang!" Wanita paruh baya itu berteriak sembari mengikuti anaknya hingga ke pintu. Kembali lagi karena tangannya ternyata masih memegang gaun yang tadi hendak dipilihnya. "Ini, ya, Nak! Maaf anaknya malah ngambek. Tapi, tawaran Ibu tadi beneran, ya." Wanita itu mengedipkan sebelah alisnya, "coba pikirkan baik-baik." Setelah mereka pergi, terdengar gelak tawa di ruangan itu. Kebetulan pengunjung juga telah berkurang. Interaksi antara Nathan dan karyawan ibunya tidak ada batas. Mereka lebih menganggap Nathan seperti adiknya sendiri. Dan Nathan nggak keberatan soal itu. "Lagi, ya, Mas Nathan. Tragedi jadiin mantu," ledek salah seorang dari mereka yang hanya membuat Nathan garuk-garuk kepala. Hal seperti ini sering terjadi, bukan hanya sekali dua kali. Meski mereka menganggap Nathan seperti adik, tapi tetap saja memanggilnya dengan sebutan 'mas' untuk menghormati dirinya sebagai putra pemilik butik. Jika sudah seperti itu, biasanya Nathan memilih untuk ngumpet di kantor ibunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN