Nathan ketar-ketir karena ini adalah waktu yang direncanakan bersama Helen untuk menjalankan rencana mereka. Kemarin giliran Nathan dan Salsa, kini giliran Helen untuk membawa Gio ketemu sama Maria.
Berkali-kali Nathan melihat ke arah handphone-nya, namun Helen belum mengirimkan pesan kepadanya. Suasana butik juga sudah sedikit sepi dan biasanya kalau sore seperti ini Maria akan berada di bawah bersama karyawannya.
"Sayang!" Nathan menoleh ke arah tangga, siapa lagi kalau bukan ibunya. Ini adalah jam biasa Maria turun ke bawah untuk ikut melayani pengunjung. Nathan kembali mengantongi gawainya. Kecewa sekaligus lega karena Helen belum menghubunginya.
"Iya, Ma." Nathan kembali berpikir, bagaimana reaksi mamanya jika tahu Helen membawa pria bersamanya?
Apa hati Mama bakalan hancur? Atau juga kecewa? Rasa cemas tak henti menggelitik hati Nathan. Dia sangat tidak bisa membuat ibunya sedih dan kecewa.
Maria berjalan mendekat ke arah Nathan. Wanita itu mesti mendongak jika ingin berbincang dengan anaknya. Ada rasa haru saat melihat anak laki-laki satu-satunya. Anak yang dulu ada di gendongannya kini telah tumbuh menjadi anak yang tampan dan juga tinggi.
Meski secara akademis bukan yang terbaik, tapi Maria sudah bersyukur memiliki Nathan sebagai anaknya.
"Gimana, Sayang? Rame?" Maria melihat sekeliling yang mulai sepi. Hanya tinggal tiga pengunjung saja sore ini.
"Tadi sih rame, Ma. Tapi nggak serame Minggu kemarin. Mungkin ada sedikit penurunan omset," ucap Nathan jujur. Maria manggut-manggut mendengar laporan Nathan.
"Nggak papa, Nathan. Namanya juga orang jualan. Kadang rame kadang sepi. Kita mesti bersyukur dengan semua pemberian Tuhan." Maria selalu mendidik Nathan menjadi pribadi yang lapang dan juga bersyukur. Jangan mengeluh pada apa pun yang diberikan Tuhan.
"Iya, sih, Ma. Biasanya juga rame. Baru kali ini aja kelihatan sepi. Mungkin karena mendung jadinya pada males untuk keluar." Keduanya kini sama-sama melihat ke arah luar. memang kali ini langit terlihat begitu gelap. Angin dingin pun merasuk hingga menembus pori-pori.
Nathan sedikit terlonjak ketika gawai di kantungnya bergetar. Dengan segera dia mengambil benda pipih itu. Dapat terlihat getaran tangannya saat memegang benda itu.
[Gue udah di luar. Gio lagi markirin mobil.] Begitulah isi pesan yang diterimanya. Nathan sangat tahu siapa yang mengirim pesan itu. Berkali-kali Nathan mengatur napasnya agar ibunya itu tidak curiga.
[Oke! Gue bakal ngilang dulu. Mumpung Mama lagi di depan.] send to Tante Galak.
Dengan cepat Nathan mengantongi hape-nya kembali dan mengumpulkan keberanian untuk berbohong pada ibunya.
"Ma!" Maria yang tengah mengamati keadaan sekitar kembali beralih menatap purtranya. Udara benar-benar dingin kali ini, hingga Maria memeluk tangannya untuk mengurangi rasa dingin yang dirasa.
"Ehm ... Nathan ke toilet dulu, ya," pamitnya. Setelah mengucapkannya, Nathan langsung saja ngacir ke arah tangga dan menuju ke kantor ibunya. Dia tidak bisa berlama-lama bersama ibunya dengan keadaan dia sedang berbohong atau menutupi sesuatu.
Maria hanya menatap heran ke arah anak lelakinya yang terlihat aneh sedari tadi, "Nathan kenapa, ya?" gumamnya. Namun setelahnya, dia hanya geleng-geleng kepala.
Maria kembali menatap ke arah pengunjung. Matanya memicing kala menemukan sosok yang dikenalnya. Dia tersenyum lantas berjalan mendekat untuk menyapa sosok itu.
"Helena!" pekiknya. Tangannya dia rentangkan bersiap untuk memeluk gadis itu.
"Tante!" Helen hanya kedip-kedip dan mematung di tempat. Sama seperti Nathan, Helen juga takut ketahuan jika tengah berakting kali ini. Meski pembangkang dan juga suka membantah, nyatanya Helen juga bukan pembohong yang ulung. Saat ini saja tubuhnya gemetar karena merasa takut.
Maria langsung memeluk Helen dengan sayang. Dia yang hanya memiliki anak laki-laki, begitu menyayangi Helen seperti anaknya sendiri. Helen masih dalam posisinya, tak membalas pelukan Maria hanya diam tak bergerak.
"Kamu sama siapa? Sama mama kamu?" Maria melerai pelukannya, celingukan mencari sosok yang ada dalam kepalanya.
"Beb!" Gio masuk dan segera menghampiri Helen. Dia menatap ke arah Helen dan Maria bergantian.
"Ehm ... Helen sama dia, Tante." Helen segera menggandeng tangan Gio dan itu membuat Maria terlihat begitu kecewa. Wanita hampir paruh baya itu menatap kosong ke arah tangan keduanya yang saling bertautan.
"Oh ...!" Hanya kata itu yang terucap dari bibir Maria. Entah kenapa hatinya merasa terluka.
"Kami lihat-lihat dulu, Tante!" pamit Helen pada Maria. Dia tersenyum mengangguk pada ibu satu anak itu. Gio pun berlaku sama. Setelahnya, Helen segera berlalu dari hadapan Maria untuk melihat-lihat gaun yang ada di butik itu.
Semoga saja Nathan tidak melihat mereka, harapnya dalam hati. Maria menghela napas dan melihat punggung keduanya dengan perasaan yang sulit diartikan. Di satu sisi dia sangat ingin menjadikan Helen sebagai menantu. Tapi di sisi lain, dia juga mengerti perasaan anak muda seperti mereka.
Maria terus menatap punggung keduanya yang terlihat begitu mesra dari belakang. Helen yang nampak tersenyum bahagia saat bersama pemuda itu. Kembali dia mempertanyakan tentang rencana pertunangan keduanya. Haruskah tetap dilaksanakan atau tidak?
"Entahlah! Besok dibicarakan lagi dengan Jenk Sofia." Akhirnya Maria memutuskan untuk tak memperhatikan keduanya lagi. Dia lantas berbalik dan bersiap menaiki tangga.
Di dalam kantornya, Maria melihat Nathan sedang sibuk menata manekin yang sebenarnya sudah tertata rapi. Maria kembali menatap heran ke arah Nathan. Seharian ini rasanya anak itu sedikit aneh. Dari pagi nggak konsen, siang tadi juga nggak fokus. Sore ini apalagi, ngerjain yang tidak perlu.
Maria membuang napas kasar, "Sayang ... kamu ngapain pindahin itu lagi?" tanyanya untuk mengobati rasa penasaran yang kadung bersemayam di hati. Nathan terlonjak kaget saat mendengar suara ibunya. Raut mukanya mendadak sulit diartikan.
"Ehm ... Nathan lagi nyari kerjaan, Ma. Buat ngusir hawa dingin." Kebetulan udara sore ini memang terasa begitu dingin. Dengan sengaja, Nathan mendekatkan tangannya ke arah tubuhnya dan berlagak seperti orang yang sedang menggigil kedinginan. Meski hatinya terus-terusan merasa bersalah karena sedari tadi terus berbohong.
Maria hanya manggut-manggut dan kemudian berjalan ke arah meja kerjanya. Entah kenapa perasaannya terasa lelah kali ini. Kembali dia kepikiran tentang Helen yang sedang membawa pacarnya itu. Sesaat dia melirik ke arah putranya yang kini tengah duduk di sofa panjang dengan gawai di tangannya.
Seakan cemas, Nathan terus melihat ke arah layar gawainya itu.
Ada yang aneh di sini, tapi apa? batin Maria. Hatinya terus saja mempertanyakan tentang perilaku putranya itu.
"Nathan!" Nathan hampir telonjak saat mendengar namanya disebut. Maria semakin curiga jika ada yang dia sembunyikan.
"I-iya, Ma," jawab Nathan dengan gugup.
Maria menatap anaknya tajam, "Kamu nyembunyiin sesuatu?" Mendapatkan pertanyaan itu, tentu saja Nathan hanya diam membisu.