Suasana rumah itu terlihat begitu sepi. Hanya ada seorang wanita paruh baya yang tengah menyirami bunga di halaman depan. Suaminya tengah berada di kantor karena memang hari ini bukan akhir pekan.
Dari luar, terdengar suara musik yang suaranya begitu kencang, hingga membuat telinganya merasa berdengung. Berkali-kali dia mencebik karena merasa jengkel dengan suara yang terdengar.
"Tu anak ngapain, sih? Kayak nggak punya tetangga aja. Dikiranya pada budeg kali orang-orang. Ngidupin speaker segitu kencengnya," gumam wanita paruh baya itu seorang diri. Lama dia menahan diri untuk tidak mendatangi anaknya itu dan menjewer telinganya.
"Ck!" Tapi, rasanya dia tidak sabar karena merasa telinganya menjadi semakin sakit. Diletakkannya selang air yang ada di tangannya kemudian dimatikannya keran yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dia berjalan dengan cepat menuju ke lantai atas, tempat kamar anaknya berada. Semakin dekat, semakin terasa sakit telinganya. Hingga rasanya seperti nyaris pecah.
Sofia mencoba membuka pintu anaknya, namun gagal. Sepertinya dikunci dari dalam. Terpaksa dia harus mengeluarkan jurus gedoran yang harus mengerahkan seluruh tenaganya.
"HELEN! HELEN!" Sofia terus menggedor pintu kamar Helen. Namun berkali-kali dia menggedor, tak juga mendapat sahutan.
"HELEN! HELEN! BUKA PINTUNYA!" Dia benar-benar geram saat ini. Bagaimana bisa dia memiliki anak perempuan yang tingkahnya melebihi anak laki-laki? Dia merasa telah salah ngidam waktu hamil dulu.
"HELEN!"
"Apa sih, ma?" Bersamaan dengan gedoran yang sudah berkali-kali, Helen membuka pintu kamarnya. Helen terlihat sedang mengucek matanya saat Sofia melihatnya.
"Ya ampun ... kamu itu bisa tidur dengan suara sebising itu?!" teriak Sofia. Dia saja tidak bisa tenang menyiram bunga karena suara musik yang tak ada jedanya. Malah semakin lama terdengar semakin keras.
"Ngantuk, Ma," jawab Helen santai. Kini gadis itu tengah menggaruk-garuk kepalanya yang author sendiri tidak yakin jika itu gatal. Rambutnya terlihat kusut berantakan, khas orang bangun tidur.
"Helen ... Helen ... kapan kamu bisa menjadi wanita sesungguhnya?" lirih Sofia. Tak ingin berdebat panjang yang hanya membuatnya sakit kepala. Sofia memilih untuk meredam amarahnya yang sesungguhnya sangat ingin dia ledakkan.
"Lha apa Mama kira Helen ini bukan wanita?" Mata Helen belum membuka sepenuhnya. Mulutnya pun. komat-kamit seakan sedang mengunyah sesuatu. Tangan kanannya menggaruk perutnya sedang tangan kiri menggaruk bokongnya.
Sofia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak bungsunya itu. Sungguh mungkin ini karena keinginannya memiliki anak laki-laki, jadinya Helen menjelma tingkahnya seperti anak laki-laki.
Wanita paruh baya itu harus berkali-kali mengatur napas untuk menghadapi Helen. Bukan karena badung ataupun nggak bisa diatur, tapi karena dia selalu memiliki jawaban atas setiap apa yang dikatakan ibunya.
"Helen! Mama lagi nggak mau berdebat, ya. Itu yang di sana, KECILIN!" Telunjuk Sofia mengarah ke arah speaker besar yang tengah berkedip-kedip itu. Helen pun ikut melihat ke arah telunjuk itu menunjuk.
"Itu, Ma? Mana bisa, Ma. Helen 'kan bukan Doraemon yang punya kantong ajaib." Lagi-lagi Helen menjawab perintah ibunya. Hal ini membuat amarah yang sedari tadi dipendam mendadak muncul ke permukaan.
"Helen!" ucap Sofia dengan gigi mengatup rapat, yang tandanya ledakan amarah sebentar lagi akan terjadi.
Helen yang seolah sadar akan kemarahan ibunya, mendadak membuka matanya lebar-lebar. Rasa kantuk yang tadi masih tersisa, kini telah menghilang bersama menghilangnya kesabaran ibunya. Melihat raut wajah Sofia yang menatapnya tajam dengan mata yang membola sempurna, membuat nyali Helen menciut.
Gue bikin salah apaan, sih? Mama kok sampai marah gitu? Sepertinya ingatan Helen mendadak memburuk, bahkan kejadian beberapa menit yang lalu pun dia melupakannya.
Nampak Sofia tengah mengambil napas dan mengeluarkannya perlahan. Itu dia lakukan berkali-kali. Dia perlu mengatur emosinya jika tidak ingin tekanan darahnya naik. Helen melihatnya dengan hati yang ketar-ketir. Seberapa marah ibunya hinga sampai taraf mengatur napas?
Tanpa ingin bicara panjang lebar yang berakhir dengan bantahan demi bantahan yang keluar dari mulut Helen, akhirnya Sofia memutuskan untuk masuk ke dalam dan mematikan sendiri benda itu. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung mencabut colokan dari sumber listrik. Setelahnya, dia segera keluar dari kamar Helen tanpa berucap sepatah kata pun.
Helen hanya terbengong melihat sikap ibunya. Sudah tak bisa lagi membantah kalau begini. Helen nggak mau dikutuk menjadi batu.
Sofia ngomel-ngomel sendiri sepanjang jalan. Hal yang belum sempat dia lampiaskan terhadap Helen. Mending dia ngomel sama angin yang tidak mungkin membantah dari pada dengan Helen sang juara pembantah.
Saat Sofia menuruni tangga, terdengar suara telepon berbunyi. Dia segera berjalan menuju ke ruang tengah. Tempat di mana telepon itu berada.
"Halo, Jenk Sofia." Sebelum sempat Sofia mengucap salam, sang penelpon sudah terlebih dahulu menyapa. Tanpa banyak berpikir, Sofia sangat hafal dengan suara itu. Suara seorang wanita dengan usia di bawahnya yang sebentar lagi akan menjadi besannya.
"Iya, Jenk Maria. Ada apa?" tanya Sofia. Sofia berpikir, mungkin saja ada perencanaan yang mesti mereka persiapkan. Meski kini Sofia diliputi perasaan ragu setelah melihat Nathan dengan kekasihnya tempo hari. Tapi, untuk membicarakan hal ini dengan Maria, sepertinya dia belum menemukan kata-kata yang pas.
"Bisa kita ketemu malam ini?" Sofia mengernyit heran, ada masalah apa hingga calon besannya itu terburu-buru ingin bertemu?
"Uhm ... baiklah, Jenk. Kita ketemu di mana?"
"Nanti aku kasih tahu lagi, Jenk. Sudah dulu, ya. Lagi banyak pelanggan ni." Maria menutup teleponnya sepihak. Sofia merasa resah dan juga bimbang kali ini.
Bagaimana jika Maria tahu jika Nathan telah memiliki kekasih? Apa mungkin rencana mereka bakal tetap terlaksana? Jika gagal, bagaimana nasib keluarga mereka jika perusahaan itu kembali ke tangan pemilik aslinya?
Sungguh bukan niat Sofia untuk menggantikan anaknya dengan harta dan juga kekayaan yang telah mereka nikmati selama ini, tapi dia tidak bisa membayangkan anak-anaknya hidup tanpa fasilitas yang selama ini mereka nikmati.
"Kira-kira, Jenk Maria mau ngomongin apa, ya?" gumamnya seorang diri. Sofia masih tetap berada di depan telepon itu. Dia kembali berpikir, haruskah memberi tahu Doni, suaminya.
Sementara itu, Helen juga tak kalah gusar dengan ibunya. Di satu sisi dia ingin rencana perjodohan itu batal, tetapi di sisi lain, dia sama takutnya dengan ibunya. Pemikirannya pun hampir sama. Apa Nathan bakal menepati janjinya jika mereka tidak jadi dijodohkan.
"Helen ... ngapa, sih, lo bego'? Gimana kalo Nathan nggak nepatin janjinya? Lo mau keluarga lo gelandang di jalan?" Helen saat ini mondar-mandir di depan kaca. Dia sangat bingung dengan apa yang bakal terjadi ke depannya?
Tapi, rencana sudah terlanjur dijalankan dan Maria sudah melihatnya bersama laki-laki lain.