14. Kencan dengan Gio

1016 Kata
"Ma! Helen keluar dulu, ya?" Helen sudah berpakain rapi dan berdandan cantik. Tak lupa aroma wangi pun menguar dari tubuhnya. Hidung Sofia mencium ada yang aneh dari baru harum sewangi bunga yang jarang tercium dari tubuh Helen. "Mau ke mana, Helen? Tumben wangi dan juga dandan cantik gitu." Sofia masih menatap heran ke arah Helen yang wajahnya begitu nampak berseri. Wajahnya yang jarang berdandan, terlihat begitu cantik kali ini. Nggak mungkin jika jalan sama Nathan dia segirang ini. "Keluar 'kan, Ma! Nongkrong sama temen," jawab Helen. Helen kini tersenyum manis dengan memasang wajah tanpa dosanya agar ibunya mengijinkannya untuk pergi. "Tapi, ini hampir sore lho, Len." Memang sekitar jam tiga sore saat ini, dan sebentar lagi akan jam enam sore yang pastinya akan gelap. Helen hanya meringis, "Iya, Ma. Janji nggak pulang lebih dari jam delapan." Helen membentuk huruf 'V' dengan jari tengah dan jari telunjuknya. Dan jangan lupakan puppy eyes-nya yang sering bikin Sofia nggak tega. "Kamu perginya sama siapa?" Sebagai seorang ibu, tentunya rasa khawatir terus menggelitik rongga dadanya. Tidak mungkin 'kan dia akan membiarkan Helen pergi dengan seseorang yang mencurigakan? "Rame-rame, Ma. Nanti ketemuan di sana." Helen nampak menggigit bibir bawahnya. Sepertinya dia juga tidak yakin dengan jawaban yang dia berikan. Sofia nampak memicingkan mata melihat gelagat Helen yang aneh itu. "Beneran janji, deh, Ma. Aku pulangnya nggak lebih dari jam delapan." Kembali Helen membentuk huruf 'V' dengan kedua jarinya itu. Sofia nampak berpikir sejenak. "Ya sudah. Hati-hati!" Akhirnya jiwa keibuan Sofia luluh juga. Meski sering kesal dengan sikap Helen yang suka membantah, nyatanya dia tetap seorang ibu. Dan sisi itulah seringnya yang muncul dalam menghadapi Helen. "Makasih, Ma." Tentu saja senyum bahagia tidak lepas dari bibir Helen. Dia segera memeluk ibunya dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi wanita yang telah melahirkannya itu. Mendapat perlakuan seperti itu dari anak bungsunya itu sukses membuat pipi Sofia memerah. Selama ini jarang sekali Helen bersikap manis. Jadi, saat dia sedikit menjadi manis, hal itu menjadi kesenangan tersendiri bagi Sofia. Sebelum ibunya itu berubah pikiran, Helen segera berlalu dari hadapan wanita paruh baya itu. Sofia hanya bisa menatap punggung Helen sembari geleng-geleng kepala. "Helen ... Helen. Coba tiap hari manis gitu, pasti aku bakalan awet muda," ucap Sofia sembari memegang pelan pipinya yang sudah terasa berkerut itu. Dengan langkah bahagia, Helen berjalan menuju ke arah jalan raya depan gerbang perumahan tempatnya tinggal. Kali ini dia ada janji dengan seseorang yang tengah membuat hatinya dipenuhi dengan bunga. Seseorang yang telah membuat hari-harinya berwarna. Helen terus bersenandung kecil sepanjang jalan. Tak ada yang yang lebih membahagiakan selain bertemu dengan pujaan hatinya ini. Alangkah bahagianya jika yang akan dijodohkan dengannya adalah Gio, bukan Nathan, bocil yang sudah membuat dirinya naik darah sejak pertama bertemu. Teringat Nathan, tiba-tiba suasana hati Helen sedikit memburuk. Di pikirannya, Nathan hanyalah bocah SMA tengil yang sangat menyebalkan. "Kenapa gue malah keinget tu bocah, ya?" Helen merasa heran, bukannya terus memikirkan wajah Gio, tapi nyatanya malah wajah anak SMA itu yang terlintas di bayangan. "Sudah-sudah! Jangan pikirin lagi! Bisa-bisa bikin mood kamu ilang lagi, Len!" Helen terus menasihati hatinya agar tidak lagi membayangkan wajah Nathan, yang sedari tadi terus tersenyum mengejek. Dalam bayangan saja dia sudah menyebalkan, apalagi dalam kenyataan? Helen terus berjalan hingga hampir tiba di gerbang perumahannya. Di sana dia sudah melihat mobil Gio tengah menunggunya di seberang jalan. Helen melambai ke arah pengemudi mobil itu yang juga dibalas lambaian tangan. Beberapa hari ini Helen lumayan senang, karena Gio sepertinya semakin mudah untuk diajak jalan. Nggak sesusah kemarin-kemarin yang ada saja alasannya. "Mungkin Gio sekarang sudah nggak banyak urusan seperti kemarin." Helen berusaha menenangkan hatinya dan terus berusaha percaya pada Gio. Tak butuh waktu lama bagi Helen untuk berada dalam mobil Gio. Pria itu menyambutnya dengan sebuah senyuman dan tidak lupa sebuah kecupan mendarat di punggung tangan Helen. "Kamu cantik sekali, Beb," ucap Gio setelah mengecup punggung tangan gadis itu. Dipuji seperti itu, membuat rona merah di pipi Helen semakin terlihat. Gadis itu menunduk malu atas pujian itu. Siapa sangka gadis yang keras dan pembangkang itu begitu manis jika di hadapan seorang Gio. Seperti seorang singa yang telah menemukan pawangnya. "Makasih ...."  Helen begitu kaget ketika Gio menarik dagunya, kini wajah mereka terasa begitu dekat hingga membuat Helen membola. Tak siap dengan sikap tiba-tiba Gio membuat jantung Helen berdetak begitu kencangnya. Sebuah benda hangat nan basah mendarat di bibir Helen, yang membuat gadis itu semakin hanyut akan permainan yang dibuat Gio. Laki-laki itu begitu lihai dalam permainan ini. Kecupan itu tak berlangsung lama, setelahnya Gio segera melepaskan bibirnya dari bibir Helen, "Ciuman pembuka," ucap Gio sembari mengedipkan sebelah matanya. Hal itu berhasil membuat pipi Helen semakin bersemu merah. Tak lama, Gio langsung melajukan mobilnya menjauhi area itu. Sepanjang perjalanan, tak sedikit pun Gio melepaskan genggaman tangannya pada tangan Helen. Berkali-kali dia menoleh ke arah Helen yang sukses membuat perasaan gadis itu semakin melambung. "Ehm ... Beb." Helen sedikit merasa ragu untuk menanyakan sesuatu yang sedari tadi bersarang di pikirannya. Tapi jika tidak dia tanyakan, pastinya dia akan semakin penasaran. "Hm ... kenapa, Beb?" Gio menoleh ke arah Helen dan kembali mengecup punggung tangan kekasihnya itu. "Ehm ... sebenarnya kita mau ke mana?" Helen memang tidak tahu ke mana Gio berencana mengajaknya kali ini. Bukannya tidak ingin percaya dengan Gio, tapi selentingan yang tadi dia dengar di kampus, membuatnya sedikit ragu bersama Gio. "Kenapa? Pokonya rahasia dan kamu pasti suka."  Tanpa mau menjawab, Gio malah semakin membuat Helen penasaran. Meski dalam hati ketar-ketir, tetapi tidak bisa dipungkiri jika Gio begitu pintar mengaduk-aduk perasaannya. Mau tidak mau, Helen hanya bisa mengangguk dan tersenyum, menandakan bahwa dia akan menunggu hingga mereka tiba di tempat yang dimaksud Gio. Tak ada pertanyaan lagi setelah itu. Helen lebih memilih menikmati momen yang begitu langka ini.  Sikap Gio yang bertambah manis, membuatnya enggan untuk kehilangan momen ini. Helen berharap ini akan berlangsung seterusnya. Untuk sesaat dia ingin melupakan kenyataan jika dirinya tengah dijodohkan dengan seorang siswa SMA. Setelah perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit, tibalah mereka di suatu tempat yang sama sekali tidak ada dalam bayangan Helen. Gadis itu benar-benar tidak menyangka kekasihnya itu akan membawanya ke tempat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN