Helen tengah berdiri menatap takjub akan apa yang ada di hadapannya. Sebuah taman yang di depannya telah ditata balon dan juga bunga sehingga membentuk jalan yang menuju ke sebuah meja yang di atasnya masih kosong. Gadis itu tidak percaya jika Gio mampu berbuat seromantis ini.
Apa Gio sedang bikin surprise buat gue? Helen sedikit berbunga jika membayangkan hal itu. Pipinya bersemu merah melihat pemandangan ini.
"Beb, ini 'kan belom malam, masak udah mau makan malam?" tanya Helen. Gio kini tengah berada di depan mobil dengan kap yang terbuka. Bukannya memperhatikan omongan Helen, namun padangannya terus tertuju ke arah bagian mobil yang berasap.
"Makan malam? Siapa yang makan malam?" jawab Gio masih tanpa menoleh ke arah Helen.
"Kenapa, Beb?" Merasa tidak diperhatikan, Helen mencoba mencari tahu kenapa Gio terus melihat ke arah itu? Mata Helen memicing tertuju pada bagian yang sama dengan yang Gio lihat.
"Mogok, Beb! Mana belom nyampe tempatnya lagi," jawab Gio sambil tangannya berusaha mengutak-atik sesuatu.
Dahi Helen mengkerut, dia kembali menatap ke arah semua hal indah dan romantis yang ada di hadapan matanya.
Jika belom sampe, terus ini apa? Helen yang sudah terlanjur berbunga melihat bunga dan juga balon, seperti yang sering dia lihat di televisi, kini mendadak kecewa dan juga sedih. Mukanya yang tadinya berseri indah layaknya bunga di musim semi, berubah menjadi mendung seperti awan sesaat sebelum datangnya hujan.
"Jadi, ini bukan tempat tujuan kita, ya, Beb?" tanya Helen ragu. Dia melirik ke arah Gio, berharap Gio akan mengatakan bahwa ini memang tujuan mereka.
"Bukan!" jawab Gio tanpa menoleh ke arah Helen, "bentar, ya, Beb. Aku coba benerin ini dulu." Gio mengelap keningnya yang telah basah oleh keringat. Belum ada satu jam, tapi keringat yang mengucur dari tubuh Gio telah mampu membuat kaos pemuda itu basah.
Helen membuang napas kasar, kecewa dengan apa yang sebenarnya. Hatinya yang telah melambung, kini terpaksa jatuh karena anggapan yang tidak tepat.
Celingukan, Helen mencari tempat untuk dia duduk. Lututnya terasa nyeri karena dia berdiri lumayan lama. Berdiri dengan perasaan yang kurang baik ternyata begitu menyita energi. Buktinya Helen kini merasa begitu lelah. Tak seperti awal dia berangkat tadi.
Hari sudah benar-benar sore dan matahari mulai tenggelam, tapi tidak ada tanda-tanda mobil Gio dapat segera berjalan. Helen masih menunggu tanpa menanyakan apa pun lagi. Dia melirik ke arah tatanan indah yang ada di dalam taman, siapa gadis beruntung yang mendapatkan kejutan seperti ini? Jika itu dia, pastinya Helen akan merasa begitu bahagia.
Pria yang melakukannya benar-benar romantis. Dia benar-benar bisa mengambil hati wanita. Betapa bahagianya jika Gio melakukan hal yang sama. Pandangannya kini kembali beralih pada Gio yang belum beranjak sedikit pun dari tempatnya itu.
"Panggil bengkel aja, Beb," usul Helen yang tidak yakin dengan kemampuan Gio memperbaiki mobil. Sudah berjam-jam dia seperti itu dan tidak ada perkembangan pada mobil yang sedari tadi diutak-atiknya itu.
"Sabar, dong, Beb. Ini juga lagi usaha." Gio masih dengan pendiriannya, tak mengindahkan usulan Helen. Bahkan untuk sekedar menoleh ke arah kekasihnya itu pun tidak. Helen hanya bisa menghela napas berkali-kali melihat Gio yang keras kepala.
Untung ganteng, coba kalau enggak. Udah gue tinggalin tadi. Helen terus-terusan merutuki keputusan Gio dalam hatinya. Coba kalau manggil bengkel, tinggal duduk manis udah ada yang benerin.
Hari sudah malam dan kini Helen merasa begitu lapar. Dia kembali melirik ke arah Gio yang kini lebih mirip seorang montir dari pada mahasiswa. Dengan kaos yang telah kotor oleh oli dan jangan lupakan wajahnya juga sama.
"Beb! Lo udah selesai belom?" tanya Helen lagi. Dia ingin memastikan kejelasan kencannya kali ini. Helen nampak kesal karena tubuhnya juga sudah mulai lelah. Apalagi taman ini letaknya bukan di pinggir jalan, jadinya Helen merasa sedikit horor.
Dia melihat sekeliling yang mendadak begitu sepi dan dingin. Menatap ke atas, sepertinya akan hujan. Helen kembali menghela napas, bertanya pada dirinya sendiri, kapan Gio akan selesai dengan mobilnya?
"Lo pulang duluan aja, Beb! Gue masih harus benerin ini." Sedikit kecewa, sebenarnya ada apa dengan Gio? Kenapa dia begitu terobsesi dengan mobilnya?
Helen akhirnya berdiri, setengah kesal dia mengambil tas yang sedari tadi dia geletakkan di bangku yang didudukinya. Kesal? Pasti! Harusnya jadi kencan yang indah, nyatanya malah nungguin Gio berkutat dengan mobilnya.
"Ya udah! Gue pulang!" Helen menghentakkan kakinya sebelum dia pergi meninggalkan Gio seorang diri. Gio masih sibuk dengan mobilnya tanpa memperhatikan kepergian Helen. Hal itu yang membuat Helen semakin merasa kesal.
Helen berjalan meningalkan Gio seorang diri di tempat itu. Rasanya horor banget berjalan sendirian seperti ini.
"Bego, gue! Kenapa nggak pesen ojek onlen aja?" Helen merutuki kebodohannya, dari pada dia terus berjalan bingung mesti nyari tumpangan di mana, bukannya lebih baik dia pesen ojek atau taksi onlen dulu.
Segera Helen mengeluarkan gawainya dari dalam tas.
"SIAL!" Ternyata hari ini dia benar-benar sedang sial. Pasalnya kini handphone gadis itu dalam kondisi mati karena habis baterai.
Helen berdecak, berkacak pinggang. Meratapi nasibnya yang kurang beruntung di hari ini.
"Ke mana coba gue mesti nyari tumpangan untuk pulang? Mana serem lagi." Helen bergidik ngeri melihat suasana sekeliling yang begitu gelap.
"Apa balik sambil nungguin Gio aja, ya?" Helen nampak mempertimbangkan untuk tetap berada di taman bersama Gio. Lama dia berpikir hingga tidak sadar ada motor yang berhenti di belakangnya.
"Tin! Tin!" Helen terlonjak kaget ketika motor itu mengklaksonnya.
"b******k! Siapa, sih?" Helen berbalik dengan cepat, hendak mengomel pada orang yang telah membuat jantungnya hendak melompat.
Matanya menyipit, seolah mengenal sosok di atas motor itu, "Bocil!" pekiknya tidak percaya. Kenapa anak kecil itu malam-malam ada di sini?
"Tante ngapain di sini?" tanya Nathan dengan nada heran. Pasalnya ini jalanan yang lumayan sepi, untuk apa anak gadis di sini sendirian?
"Gue, ehm ... jalan-jalan aja!" jawab Helen masih dengan nada ketus. Tidak mungkin dia harus berkata jujur, jika dia sedang bersama pacarnya dan akhirnya berjalan sendirian karena mobil pacarnya macet.
"Jalan-jalan? Malem-malem gini?" Nathan menaikkan sebelah alisnya karena sangsi dengan jawaban Helen. Tidak ada orang waras yang bakalan sengaja jalan-jalan di tempat gelap seperti ini.
"Iya-iya, bawel. Sudah sana! Jangan gangguin!" Helen mengibaskan tangannya memberi isyarat agar Nathan segera menyingkir dari hadapannya.
Tanpa bertanya lagi, Nathan segera berlalu dari hadapan Helen.
"Hati-hati ya, Tante. Di sini banyak setannya," ucap Nathan saat melewati Helen. Helen hanya bisa mendelik mendengar kata 'setan' disebut.
"Dasar, Bocil!" teriak Helen saat motor Nathan semakin menjauh.
"Dasar bocil nggak peka! Ada cewek cantik gini sedang kesusahan, bukannya ditolongin tapi malah kabur aja." Seperti biasa, Helen akan ngomel-ngomel sendiri jika sedang dalam kondisi mood yang kurang baik.
Helen kini benar-benar merinding membayangkan jika dirinya tengah diperhatikan oleh setan.
"Hi ...!"