Helen merasa jengkel karena Nathan meninggalkannya sendirian di tempat sepi itu. Bukan salah Nathan juga, sih, sebenarnya. Salah dia sendiri yang gengsi dan jual mahal. Kini dia harus berada sendirian di tempat sepi seperti ini.
"Udah gelap, dingin lagi!" Helen memeluk dirinya sendiri. Dia memutuskan untuk kembali ke tempat Gio tadi. Salahnya sendiri dia jalan terlalu jauh. Dari arah kejauhan, Helen melihat pengendara yang tadi mengejeknya, siapa lagi kalau bukan Nathan.
Kini dirinya tengah berdiri di pinggiran parit, dengan kedua tangannya dilipat di depan d**a. Tubuhnya merasa sedikit kedinginan saat ini.
"Untuk apa bocil itu balik?" gumam Helen seorang diri.
"Tante! Beneran nggak mau naik?" Nathan berhenti tepat di hadapan Helen. Helen menatap keheranan ke arah pemuda itu.
"Kenapa lo ada di sini lagi?"
"Udah! Ayo buruan naik. Nggak bakal ada angkutan di sini." Nathan berusaha membujuk Helen untuk mau naik ke motornya.
Helen nampak sedang berpikir, dia melihat ke arah langit yang begitu mendung. Sebentar lagi sepertinya akan hujan. Udara juga semakin dingin. Helen tidak tahu kapan hujan akan turun. Jika berlama-lama di sini, takutnya hanya akan terjebak dan akhirnya tidak bisa pulang.
Nathan yang begitu tak sabar melihat Helen yang masih jual mahal, akhirnya pun turun dari motornya. Dia menarik tangan Helen agar mengikutinya.
"Lo apaan sih?!" Helen mengibaskan tangannya tak ingin ikut dengan Nathan. Dia terlihat menekuk wajahnya saat ini. Meski sebenarnya dia juga takut, tapi bukan berarti Nathan bisa seenaknya saja memaksanya.
"Ck! Hampir hujan dan ini sudah malam. Lo nggak takut kalau ada yang ngapa-ngapain lo di sini?" Mendengarnya, membuat Helen sedikit berpikir. Apalagi kini bulu kuduknya mendadak merinding. Namun Helen masih saja diam, enggan mengikuti Nathan.
"Gue bantuin lo karena merasa ada tanggung jawab sama Tante Sofia, jadi nggak usah geer, ya? Lagian gue juga nggak minat ama lo. Jadi, tenang aja," lanjutnya lagi.
"Tapi, ngapain lo ada di sekitar sini?" tanya Helen heran. Helen melihat ke arah sekitar yang memang sudah gelap dan sepi.
"Bukan urusan lo! Buruan naik! Kala nggak mau, beneran gue tinggal lho." Nathan sedikit geram dengan sikap Helen yang masih saja jual mahal. Apalagi suasana sepi seperti ini. Nathan saja sebenarnya sedikit merinding saat ini. Tapi, sebisanya dia bersikap tenang dan cool biar nggak jadi bahan olokan si tante.
"Ogah!" Helen membuang muka. Dia nampak kesal dengan Nathan yang seolah ingin memaksanya. Padahal dalam hatinya dia ingin segera naik ke atas motor itu. Tapi, rupanya rasa gengsi lebih besar dari rasa takutnya.
Tapi, gimana kalau Nathan beneran ninggalin gue? Beneran horor 'kan di sini? Helen menimbang-nimbang lagi keputusannya sebelum Nathan pergi dan tak kembali lagi.
"Ya sudah! Gue tinggal ya, Tante." Nathan kembali menuju ke motornya, benar-benar akan meninggalkan Helen seorang diri.
"Eh! Tunggu! Iya, gue ikut!" Helen melangkahkan kakinya, namun naas, kakinya tergelincir sesuatu. Mungkin saja botol Kratingdeng. Yang pasti dirinya kini tengah jatuh terjengkang ke belakang dan jatuh ke semak-semak.
"Ah! Sial! Ouch!" Helen berusaha berdiri namun ternyata kakinya terasa nyeri karena terkilir. Gadis itu terus berusaha beranjak tapi lagi-lagi hanya rasa nyeri yang dia dapatkan. tubuhnya juga sakit karena membentur bebatuan.
"Bantuin kek! Jangan dilihatin aja!" Melihat Nathan yang hanya terdiam tanpa berniat membantunya, membuat Helen merasa kesal. Benar-benar memang harus sabar jika berhadapan dengan Helen.
"Ck! Dasar tante-tante. Minta tolong aja masih saja galak!" Meski dengan ngomel, nyatanya Nathan tetap menghampiri Helen untuk menolongnya.
Tangannya dia ulurkan ke arah gadis itu untuk menariknya. Helen dengan wajah masih terlihat kesal menerima uluran tangan Nathan.
"Eh! Eh!" Namun sekali lagi kesialan menimpa Helen. Bukannya dia yang tertarik ke atas, malah Nathan yang ikut terjatuh dan kini menimpanya. Mata mereka saling membola saat wajah mereka jadi semakin dekat.
Helen berkedip-kedip lucu saat ini, dan akhirnya membuat Nathan tersadar.
"S-sorry!" Segera Nathan hendak bangkit namun sepertinya celananya tersangkut sesuatu.
"Aduh ini gimana ini?!" Pemuda itu benar-benar panik. Dia terus menarik celananya tapi nggak bisa.
"Ouch ...!" Terdengar rintihan kesakitan dari mulut Helen.
"Lo berat! Minggir sana!" Helen sedikit mendorong tubuh Nathan agar tidak berada di atasnya.
"Bentar! Celana gue nyangkut ini!" Nathan terus menarik celananya hingga semak-semak itu terlihat bergerak dari luar.
"Ouch ...! Ouch ...!" Sedang Helen terus merintih kesakitan karena kakinya semakin terasa nyeri.
Dari luar, semak-semak yang bergoyang itu menjadi tontonan beberapa orang. Mereka saling berpandangan dengan mata yang melotot. Pikiran mereka pun sepertinya sama.
"Cepat! Panggil Pak RT!" Salah seroang dari mereka berkata lirih terhadap yang lainnya. Yang disuruh pun segera pergi dari tempat itu.
Tak berselang berapa lama, Pak RT datang dengan dua orang warga lainnya.
"Kenapa, Din?"
"Ouch ...!" Pandangan mereka kembali beralih pada semak-semak yang bergoyang itu, ditambah suara rintihan yang semakin membuat telinga mereka panas.
"Sedang apa kalian di situ?!" teriak Pak RT yang membuat Nathan maupun Helen saling berpandangan. Siapa yang orang itu maksud?
Helen langsung terdiam meski kakinya yang terkilir masih merasa nyeri. Begitu pun Nathan, dia menghentikan aktifitasnya menarik celananya yang entah kenapa sulit sekali ditarik.
"Keluar!" titah Pak RT. Kembali kedua muda-mudi yang sedang terjebak itu hanya terdiam karena mereka tidak merasa merekalah yang dimaksud.
"Motor matic berwarna merah ini miliki siapa? Kalau tidak ada yang mengaku terpaksa kami sita!" teriaknya lagi.
"Motor matic warna merah?" Nathan mencoba mengumpulkan kepingan ingatannya.
"Eh! Itu milik saya, Pak!" teriak Nathan karena merasa itu memang motor miliknya.
"Kalau begitu keluar!"
Nathan kembali mencoba menarik celananya yang tersangkut. Dan anehnya saat ini dia dengan mudah melakukannya. Nathan sendiri merasa heran dengan celananya yang seakan mengerjainya.
Akhirnya Nathan bangkit dan melihat di pinggir jalan telah berkumpul beberapa orang. Nathan bingung, menatap mereka bergantian.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya salah seorang itu pada Nathan.
Nathan mendadak menjadi gugup dan lidahnya juga kelu.
"Kami tidak melakukan apa pun." Nathan menggeleng karena memang dia merasa tidak melakukan apa pun.
"Halah! Kalian pasti m***m di sini, 'kan?!" tanya salah seorang dari mereka dengan sangat marah.
"m***m?" Nathan menggeleng, "kami sama sekali tidak m***m!" bantah Nathan. Helen yang mendengarnya mendadak merasa sangat sial hari ini.
"Besok-besok, gue bakalan inget buat keramas," lirihnya. Mendadak dia ingat jika dia tidak keramas hari ini. Dan seperti sebelumnya, dia merasa sial karena tidak keramas.
"Bawa saja mereka ke pos, Pak RT!" usul pria itu tadi.
"Atau diarak sekalian!" usul yang lainya lagi. Mendengar kata 'diarak' membuat keduanya merasa ngeri.
Apa yang akan terjadi pada Nathan dan Helen?