"Lebih dari itu. Dia ...." Nathan menghentikan omongannya, membuat Helen tambah penasaran. "Dia kenapa?" tanya Helen lirih. Melihat raut wajah Nathan, Helen kembali merasa simpati. Sebesar itukah Nathan menyayangi pacarnya? Beruntung sekali yang menjadi pacarnya. "Salsa sedang berada di Singapura." Nathan memberi jeda pada ucapannya. Helen masih terdiam, belum ingin menimpali. Masih menunggu pemuda itu melanjutkan omongannya. Nathan membuang napas kasar, "Besok dia operasi tumor otak." Nathan masih saja bisa tenang kala mengucapkan kalimat itu. Berbeda dengan Helen, kini gadis itu tengah menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena malah melongo. Ya! Helen benar-benar kaget. Dia melihat gadis itu sangatlah ceria, tak menyangka jika menyimpan rasa sakit yang tak bisa digambarkan. "L

