Sepeninggalan Helen, Nathan terus gelisah. Hatinya tak tenang, dia berjalan mondar-mandir di dalam kamar, menantikan kepulangan Helen. Rasa kantuk yang tadi datang, kini tiba-tiba saja lenyap tak bersisa. Yang ada hanya rasa yang terus bergemuruh di dalam d**a. Entah perasaan apa Nathan tidak yakin. Nathan mengepalkan tangannya, marah akan keputusan Helen yang mau pergi ke tempat Gio. Pintu kamar diketuk, Sofia masuk dan melongok ke dalam kamar, mencari keberadaan anak itu. Memberanikan diri masuk untuk mengajak Nathan makan siang. Seingatnya, sepulang dari puncak, Nathan belum makan. "Nathan ...." Sofia terus melangkah, hingga menemukan sosok yang tengah berdiri di balkon memandang ke kejauhan. "Makan dulu, gih. Makan bareng." Nathan terlonjak mendengar suara dari belakangnya, membali

