Setelah puas berbincang dan menyelesaikan perjanjian, Pandu mengantar Embun kembali ke kontrakan. Hati mereka sudah semakin tertaut, meski gadis itu memang belum mengambil keputusan final tentang siapa yang akan dia pilih. Bisa Al, bisa Pandu atau bahkan tidak keduanya. Embun masih belum bisa memutuskan. “Nah, kita sampai. Kamu harus banyak istirahat agar kondisimu fit ketika nanti dilakukan penanaman benih.” Pandu menghentikan mobil beberapa meter sebelum kontrakan Embun. “Iya, Mas. Doakan aku sehat dan fit terus, ya.” Embun menjawab sambil melepaskan seat belt. Tanpa mematikan mesin, Pandu menekan tombol bagasi, lalu bergegas keluar dan mengambil bungkusan besar berisi pakaian Embun yang beberapa hari lalu mereka serahkan ke laundry. Ini salah satu cara Pandu memanjakan Embun, meski

