“Hai, Al. Maaf, tadi ada telepon dari Mas Pandu.” Embun buru-buru melakukan panggilan video pada Al. “Oh, pantesan. Aku dilupakan. Lama banget nelponnya,” gerutu Al sambil mencebikkan bibir. “Banyak hal yang harus kami diskusikan, Al. Kan, sebentar lagi aku sudah harus berangkat.” Embun kasihan melihat ekspresi Al. Pemuda itu terlihat sangat kecewa. “Besok kita ke rumah kamu. Jadi, kan?” Embun mencoba menghibur Al. “Jadi, dong. Emang si Panda d***u nggak ngajak kamu keluar lagi, kan?” “Tidak, Al.” Embun sengaja menutupi kalau Pandu akan datang malam hari ke kontrakan. Kalau dia ceritakan pada Al, sudah pasti besok dia akan sengaja menahan Embun untuk tidak segera pulang ke kontrakan. Embun sudah hafal kelakuan Al yang kadang kekanak-kanakan. Mereka terus berbincang santai, semen

