Bibirmu tak mengucap pergi Tapi hatimu mendorong lari Kau beri senyuman sinis Dan tatapan teramat sadis *** “Gimana hadiahnya? Kamu suka nggak?” Pandu teringat pada kaktus pemberiannya. “Kenapa ngasih aku kaktus, Mas?” Embun segan mau berkata biasa saja. Gadis itu memang heran. Dia bukan penggemar tanaman, bahkan kamar kosnya juga hampir tak ada aksesoris atau hiasan apa pun. Embun hanya berpikir tentang hal-hal yang pokok dan penting saja. Simpel. “Itu melambangkan dirimu. Kamu itu seperti kaktus, melindungi diri dari orang luar, hidup di tanah gersang, panas, tandus, tapi selalu mampu bertahan. Suatu hari nanti, aku ingin memindahkan kamu ke tempat yang jauh lebih nyaman ... bersamaku.” Embun tersenyum mendengar ucapan Pandu. Dia meletakkan kaktus itu di samping kasur. Walau ti

