Tanya hati
Tentang siapa yang kau cintai
Tentang siapa yang kau lukai
Karena hati memang harus memilih
***
“Oke,” jawab Kala sembari meraih tangan Lady yang duduk di samping dan menggenggamnya. Dia mencium sekilas sembari mata tetap fokus pada jalanan di hadapannya. Kala memang jarang meminta sopir untuk mengantar. Kalau tidak benar-benar lelah, dia lebih suka mengendarai sendiri. Dia suka berpikir sambil mengendarai. Bukan melamun, tetapi seperti ada rasa santai dan rileks ketika mengendarai, membuat dia bisa berpikir dan mendapatkan ide-ide segar. Aneh, memang.
“Tapi kalaupun Embun sudah sesuai dengan kriteria kita, bagaimana kalau dia tidak mau bekerja sama?” Kala menyampaikan keraguannya.
“Kita pikirkan nanti. Tapi kita harus berusaha maksimal dulu agar dia mau bekerja sama. Gimanapun caranya,” jawab wanita itu dengan tegas. Ya, bicara soal ketegasan, Lady memang jauh lebih tegas dan terkesan kejam, tidak berperasaan, dibandingkan Kala yang terkesan lembut dan masih memiliki empati. Hal yang sering diwaspadai wanita itu agar suaminya tidak terlalu mengikuti perasaan ketika mengambil keputusan-keputusan besar.
Dunia ini tak ubahnya perang strategi, bagi Lady. Siapa gesit dan cermat mengatur langkah dan rencana, dialah yang menang. Just that.
Perasaan adalah sebuah kelemahan yang ada dalam diri manusia. Seorang petarung handal pasti memanfaatkan kelemahan lawan, dan kebanyakan itu adalah perasaan serta empati. Bermain di area itu adalah penentu siapa menang dan siapa yang akan kalah. Pengalaman membuktikan bahwa orang yang mengedepankan logikalah, sang pemenang sejati dan orang yang mengedepankan perasaanlah sang pecundang sejati. Itu pemikiran Lady.
Setibanya di ruangan Kala, Pandu segera menjelaskan semua data tentang Embun pada kedua bosnya.
“Tepat feeling gue. Pandu, gimanapun caranya, dia harus mau kerja sama dengan kita. Untuk sementara kamu fokus pada Embun. Kerjaan kantor, serahkan pada yang lain dulu. Kalau perlu, kamu ambil sekretaris satu lagi untuk membantu kamu,” perintah Lady.
“Baik, Bu. Saya akan segera menemui Embun dan mendapatkan kesepakatan. Ini salinan perjanjian dari tim legal, silakan dibaca dulu,” kata Pandu seraya menyodorkan sebuah berkas.
Selama beberapa menit, Lady dan Kala membaca berkas perjanjian sewa rahim dari tim legal itu dengan saksama.
“Fine. Gue rasa cukup. Gimana dengan lo, Bee?”
“Aku juga nggak ada masalah. Tunjangan, juga imbalan, bisa kamu naikkan sesuai permintaan dia. Kami tidak ada masalah dengan itu. Yang penting, gadis itu mau bekerja sama dengan kita,” ucap Kala pada Pandu.
“Baik, Pak. Semoga saya bisa segera memberikan kabar baik,” jawab Pandu.
“Wait, satu tambahan pasal terakhir.” Lady seperti terpikir sesuatu.
Pandu dan Kala sontak menatap dia bersamaan. Keduanya sama-sama menunggu kelanjutan kalimat wanita itu.
“Tambahkan sebagai pasal terakhir, selagi dia masih terikat kontrak perjanjian ini, hidup dan mati para bayi ada di tangan penyewa. Jadi, kalau sewaktu-waktu penyewa meminta untuk digugurkan atau bahkan membunuh setelah bayi itu dilahirkan, dia tidak boleh menolak,” ucap Lady dengan tegas.
“Perlukah pasal seperti itu?” Kala menatap nanar. Dia tidak menyangka sang istri akan menambahkan pasal kejam seperti itu. Bukankah mereka tidak ada niat untuk membunuh bayi-bayi itu nantinya? Bukankah semua ini dilakukan justru demi punya anak? Membunuh bayi-bayi itu, berarti membunuh darah daging mereka sendiri, kan?
“Sangat perlu. Kita tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi nanti. Pasal yang mengikat keras dan segala kemungkinan, tetap perlu disiapkan.” Lady menyilangkan tangan di depan d**a.
“Tapi, membunuh bayi-bayi kita sendiri?” Kala bertanya sekali lagi untuk penegasan.
“Ya. Itu hanya kemungkinan terburuk, Bee. Jangan terlalu dipikirkan. Lo tahu, gue selalu berjaga-jaga pada kemungkinan apa pun. Just do it. Kita sama-sama berharap, pasal itu tidak akan digunakan nantinya. Memang terdengar kontradiksi dengan tujuan kita, tapi pasal itu tetap perlu untuk berjaga-jaga. Feeling gue mengatakan itu.” Tentu saja, itu bukan anak dia. Itu anak Kala dan gadis yang akan mereka sewa rahimnya. Lady tidak terlalu peduli. Dia hanya perlu berjaga-jaga. Kalau sampai terjadi sesuatu, dia harus bisa melenyapkan bayi-bayi itu, bahkan gadis itu kalau perlu.
Pandu melempar pandangan ke arah Kala, menunggu keputusan.
“Ya, sudah. Tambahkan saja pasal itu.” Kala berucap pasrah. Dia tidak tahu apa maksud Lady sebenarnya dengan pasal terakhir itu. Namun, daripada mereka harus bertengkar dan malah batal semua rencana hanya karena satu pasal yang belum tentu dijalankan, dia lebih memilih untuk mengalah dan mengiakan saja.
“Baik, Pak. Saya akan meminta tim legal untuk menambahkan pasal itu,” jawab Pandu sembari sedikit mengangguk.
“Kalau begitu, hari ini lo harus udah temui dia. Gue pengen secepatnya ada kabar supaya tenang,” tegas Lady.
“Siap, Bu. Pasti hari ini saya akan temui dia. Saya permisi dulu.” Pandu melangkah keluar ruangan, membiarkan kedua bosnya melanjutkan perbincangan.
Apa ada gadis yang mau menyewakan rahim sedangkan dia masih perawan? Pandu bertanya-tanya dalam hati.
Ah, belum menikah bukan berarti masih perawan juga, kan? Ini kota besar. Jakarta, Bung! ucapnya lagi dalam hati.
Dia menekan sederetan nomor di telepon genggamnya sesuai yang tertera di kertas yang dia pegang sekarang.
“Halo, maaf bisa bicara dengan saudari Embun?” Rupanya, Pandu menelepon gadis itu.
“Ya, saya sendiri. Dari mana ini?”
“Saya Pandu, dari PT Bathara Amurwa Saka. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Mbak Embun terkait tawaran kerja sama dari perusahaan kamu. Apa Mbak Embun ada waktu hari ini untuk ketemu sama saya?” Pandu bertanya dengan hati-hati untuk tidak meninggalkan kesan negatif. Dia menggunakan alasan pekerjaan sebagai dalih agar bisa bertemu dengan gadis itu.
“Saya kebetulan lagi ke luar kota, Pak. Tapi, maaf, Anda dapat nomor saya dari mana, ya?” Tentu saja Embun heran.
Dia jarang memberikan nomor telepon selain pada teman kerja dan teman kampus. Dia juga sudah lama tidak pernah mengirimkan lamaran pekerjaan lagi. Tentu sangat aneh jika tiba-tiba ada sebuah perusahaan menghubunginya, apalagi menawarkan sebuah kerja sama. Dia takut ini hanya tipu-tipu.
“Nanti saya jelaskan kalau kita sudah ketemu, ya. Jangan khawatir, Mbak Embun. Anda bisa cek di internet tentang perusahaan kami. Perusahaan besar berskala internasional, bukan perusahaan tipu-tipu. Nama saya Pandu, bisa dicek ke kantor juga siapa saya.” Jawaban Pandu terdengar meyakinkan, membuat Embun tidak mencurigai sosok di balik suara itu sebagai penipu.
“Jadi, hari ini saya tidak bisa menemui Mbak Embun? Malam mungkin.” Pandu mencoba untuk membujuk Embun agar mau meluangkan waktu hari ini. Meski malam, tidak masalah. Dia sudah terlanjur berjanji pada Lady bahwa akan menemui Embun hari ini. Dia paham sekali bagaimana karakter bos wanita satu itu. Dia pasti akan marah besar kalau ada yang melanggar janji, meski itu tidak disengaja atau sebuah kemustahilan untuk bisa dipenuhi.
“Saya belum tahu, Pak. Nanti saya kabari lagi, ya,” jawab Embun setengah hati. Di satu sisi dia penasaran, ingin tahu ada urusan apa sampai perusahaan itu menghubungi dia. Namun, di sisi lain, dia memang baru saja berangkat ke luar kota dengan Alaska.
“Ya, sudah. Mohon saya dikabari lagi nanti. Jam berapa pun tidak masalah. Tempat ketemu di mana pun, saya juga tidak masalah, karena ini adalah hal yang sangat penting dan tentu sangat baik untuk Mbak Embun. Sekali lagi, saya tunggu kabarnya. Terima kasih. Maaf sudah mengganggu,” kata Pandu mengakhiri percakapan.
Sengaja dia selipkan sedikit bocoran bahwa apa yang akan mereka bicarakan nanti memberi keuntungan bagi Embun agar gadis itu penasaran dan mau meluangkan waktu untuk bertemu dengan dia.
“Siapa, Mbun? Kok, kayaknya serius amat?” Alaska melirik ke arah Embun.
“Tidak tahu juga. Dari PT Bathara Amurwa Saka, pengen ketemu sama aku. Katanya ada tawaran kerja sama. Mereka tahu nomorku dai mana, ya, Al?” Gadis itu mengernyitkan dahi.
“Eh, itu PT gede, lho. Kalo lo lewat Kuningan, ada gedung warna merah bata. Nah, itu kantor mereka. Widiw, keren amat lo. Ditelpon kerja sama?” jawab Alaska yang juga sedikit heran.
“Serius kamu, Al? Kamu tahu soal PT itu?”
“Cuma denger-denger aja. Mereka punya banyak anak perusahaan. Bisnis mereka juga macam-macam. Dari kuliner, hotel, factory, fashion, property. Gurita raksasa dalam dunia bisnis. Terus, mereka ngajak ketemu kamu? Temuin aja. Jangan sia-siakan kesempatan, Mbun. Sapa tahu ini rezeki lo. Tuhan kirimkan rezeki kan nggak disangka-sangka,” kata Al memberi semangat. “Kan, lo sendiri yang bilang kemarin bahwa siapa tahu ada keajaiban dari Tuhan. Tanpa harus mengandalkan orang lain dan beutang budi, siapa tahu ada jalan keluar dari masalah-masalah lo. Mungkin saja, kemarin ada malaikat lewat, terus dicatata. Nah, habis dilaporin sama Tuhan, Tuhan setuju, deh. Jadinya, lo sekarang dapet kabar baik gitu.”
“Kamu bicara bawa-bawa nama Tuhan. Kayak orang bener aja, Hahahaha.” Embun tertawa.
Tapi benar apa yang dibilang sama Al. Siapa tahu, ini memang doa yang terkabul. Rezeki nomplok yang selama ini selalu kuharapkan, batin Embun.