Terasa singkat saat bersamamu
teramat panjang kala merindumu
berasa sesaat ketika menggenggammu
sangatlah lama untuk menantimu
******
Tawa dan canda sepanjang perjalanan membuat semua lelah tak lagi terasa. Kadang mereka bernyanyi bersama walau dengan suara yang tidak jelas nadanya. Yang penting happy saja. Embun masih bisa bersuara lembut meski kadang miss di beberapa bagian. Wajar, namanya juga penyanyi profesional. Berbeda dengan Al, yang suaranya tidak semanis tampang imutnya. Namun, pemuda satu itu memang selalu percaya diri. Dia tetap saja bernyanyi dengan penuh penghayatan, membuat Embun sesekali tertawa melihat kenekatan Al bernyanyi.
Sepanjang perjalanan, mereka harus melintasi perkebunan teh yang mampu menyejukkan mata dan pikiran. Beda sekali dengan penatnya kota Jakarta. Di sini, suasana masih sangat asri dan udara jelas lebih bersih serta menyegarkan, tidak pengap seperti ibu kota. Oksigen banyak tersedia di sini, dari pepohonan yang terhampar di mana-mana. Jauh berbeda dengan Jakarta, yang terhampar adalah cerobong asap, baik dari pabrik maupun kendaraan bermotor.
Setelah beberapa jam perjalanan, Alaska dan Embun akhirnya tiba di kawasan wisata Kawah Putih. Beruntung, bukan akhir minggu. Kalau akhir minggu, akan sangat sulit menjangkau kawasan ini tanpa terhalang kemacetan parah.
“By the way, ini mobil pinjam siapa, Al?” Embun penasaran.
“Ngapain nanya-nanya. Udah, itu urusan gue,” jawab Alaska sembari memarkir mobil.
“Bukan gitu. Aku takutnya ini mobil nyolong.” Embun ngakak melihat Alaska pura-pura melotot.
“Yuk, turun.” Alaska mendahului turun dari mobil begitu dia mematikan mesin. Pemuda itu merentangkan kedua tangan lebar-lebar, menghirup udara segar.
“Huah, seger banget!” seru Alaska. Dia menghirup napas dalam-dalam sembari menutup mata. Kawasan wisata ini memang terletak di daerah pegunungan. Ya, namanya saja kawah. Iya, kan? Masa iya adanya di pantai.
“Ayo, Al. Aku sudah nggak sabar pengen lihat kawah putihnya.” Embun melangkah dengan penuh semangat ke arah penjualan tiket, disusul Alaska yang tersenyum melihat gadis itu bahagia.
“Eh, gue aja. Kan, gue yang traktir,” kata Alaska menahan tangan Embun yang hendak membayar tiket.
“Gak papa, gantian. Kamu kan udah beli bensin sama bayar tol,” ucap Embun. Namun, Alaska tidak menghiraukan ucapan gadis itu. Diserahkannya selembar uang ratusan ribu ke penjaga tiket. Embun memilih mengalah daripada harus berdebat dan merusak suasana liburan mereka.
“Wah, keren banget memang,” seru Embun kagum begitu mereka tiba di tepi kawah.
Gadis itu memandang takjub ke arah kawah berwarna putih kehijauan dan pemandangan di sekitarnya yang tak kalah apik. Pohon-pohon tampak berpadu sempurna, meski beberapa hanya tinggal batangnya saja. Eksotis. Senyum mengembang dan mata yang berbinar, membuat dia terlihat lebih cantik dari biasanya. Alaska sampai terpesona menatapnya.
Beberapa kali mereka bergantian berfoto dengan kamera yang sudah dipersiapkan oleh Al. Ada kalanya, mereka melakukan swafoto berdua. Keduanya berjalan ke sana kemari menikmati pemandangan sambil terus bercanda. Benar-benar hari bahagia untuk mereka berdua. Sayangnya, pagi seolah berlari, terasa lebih pendek dari biasanya Pagi benar-benar terasa sangat singkat. Matahari seolah tergesa untuk segera naik. Tidak seperti hari-hari sebelumnya.
Relativitas masa. Waktu terasa lebih cepat ketika kita bahagia atau bersama orang tercinta. Waktu terasa demikian lambat ketika kita sedang merindu atau dirundung duka, tersiksa luka.
“Udah mulai panas. Cari tempat berteduh, yuk. Di situ kayaknya asik, Mbun.” Alaska menunjuk sebuah pohon besar, tak jauh dari posisi mereka berdiri. Embun mengangguk dan segera melangkahkan kaki menuju pohon yang dimaksud oleh Al.
“Makasih ya, Al. Aku seneng banget hari ini. Aku bisa melihat sesuatu yang lain, bukan cuma kontrakan dan hotel,” kata Embun sambil tersenyum ke arah Alaska.
“Iya, sama-sama. Oh, ya. Nih, gue bawa teh botol,” jawab Alaska sembari menyodorkan sebotol teh.
“Thanks. Tapi ini tulisannya teh kotak, kenapa dibilang teh botol, ya?” Embun terkekeh menerima uluran minuman dari pemuda itu. Baru dua tegukan, Alaska sudah memandang Embun dengan tatapan lain dari biasanya.
“Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?”
“Mbun, gue mo ngomong sama lo,” ujar Alaska.
“Biasa aja kali. Mo ngomong mah ngomong aja. Ada apaan, sih? Tumben, kamu serius banget. Ekspresimu itu loh, kayak orang lagi nahan kentut di musholla. Suer,” goda Embun sambil tertawa.
“Embun. Kamu yang mengenalkanku pada satu kata, yaitu kita. Kamu yang mengenalkanku pada satu makna, yakni bersama. Kamu juga yang mengenalkanku pada satu rasa, dialah cinta. Sekarang, ajari aku untuk merangkai kata, makna dan rasa itu menjadi satu. Kita, bersama, dalam cinta.” Gaya bicara, bahkan pilihan kata Alaska berbeda dari biasanya.
“Kamu kesambet, Al?” Embun sedikit jengah dengan perubahan sikap Alaska terhadap dirinya.
“Gue serius, Mbun. Lo mau nggak ajarin gue untuk bener-bener tahu arti kita, bersama dan cinta? Lo mau nggak jadi cewek gue? Bahkan, mungkin jadi calon istri gue, bukan sekadar pacar,” kata Alaska dengan sangat lembut.
“Al, kamu tahu kan kehidupanku kayak gimana?” Gadis itu tertunduk lesu.
“Gue tahu, lengkap malahan. Nggak ada masalah buat gue, kok. Ayo, kita hadapi semua bareng-bareng, Mbun. Gue cinta sama lo. Ini serius,” kata Alaska dengan tegas.
“Tapi, aku nggak yakin apa aku juga cinta sama kamu, Al. Sejauh ini, aku cuma ngerasa nyaman aja sama kamu, tidak lebih,” jawab Embun sambil tetap menunduk. Dia tak mampu memandang mata lelaki di hadapannya itu.
“Nggak papa. Kita jalani aja dulu, sembari lo ngeyakinin diri lo sendiri. Kalau toh ternyata lo tetep nggak bisa cinta ma gue atau suatu saat nanti lo nemu cowok lain yang lo ngerasa cinta, gue nggak bakal nahan, kok. Gue pasti biarin lo pergi. Tapi kalo ternyata nggak ada cowok mana pun yang bisa bikin lo jatuh cinta, ya itu berarti lo emang cintanya ma gue. Simpel aja,” ucap Alaska sembari terkekeh.
“Kita coba dulu, Mbun,” ucapnya lagi. Sikapnya sudah mulai kembali seperti Alaska biasanya, santai.
“Ya, udah. Kita coba dulu, ya,” kata Embun setelah beberapa saat terdiam. Alaska tersenyum dan mengangguk.
“Ngomong-ngomong, bisa puitis gitu diajarin siapa?” Embun penasaran dengan kalimat yang tadi diucapkan Alaska.
“Hahaha. Gue minta ditulisin sama temen SMA gue, terus gue hafalin. Habisnya, gue nggak bisa ngomong romantis gitu. Gue tahunya yang e****s-e****s, bukan romantis,” kata Alaska tergelak.
“Astaga, dasar buaya mesum.”
“Biarin. m***m gini, udah resmi jadi cowok lo, kan?” Alaska bahagia. Akhirnya, dia memang sadar bahwa hanya Embun yang mampu membuat hatinya bergetar.
Berbeda dengan gadis lain yang pernah menjalin hubungan dengan dia, Embun demikian sederhana, tidak banyak meminta, tidak banyak menuntut, tapi selalu mampu membuat Al merindu. Sehari tidak bertemu saja, dia sudah kebingungan sendiri, serasa ada yang kurang dalam hidupnya.
Embun adalah satu-satunya gadis yang bisa membuat dia merasa khawatir, rindu, juga cemburu saat ada lelaki lain melihat gadis itu dengan tatapan terpesona, meski Alaska tahu bahwa Embun mungkin belum sepenuhnya mencintai dia. Semua butuh waktu dan proses. Tidak hari ini, tapi pasti suatu saat nanti. Demikian pemikiran Alaska. Dia akan berusaha membuat Embun merasa nyaman dan kemudian bisa sepenuhnya jatuh cinta pada dia. Al akan memberi Embun banyak waktu untuk belajar mencintai dia.
“Jadi, lo mau temuin orang yang tadi telepon nawarin kerjaan?” tanya Al setelah memindahkan setengah botol teh tadi ke dalam perut.
“Kayaknya iya. Siapa tahu memang ada peluang lebih baik soal pekerjaan. Nggak ada salahnya dicoba kan?” Embun memang penasaran dengan perusahaan yang tadi menelepon dia. Tidak ada ruginya untuk mencoba menemui.
“Ya, udah. Nanti gue anter,” kata Al.
“Nggak usah ikut masuk. Turunin aku di Han’s Cafe aja, terus kamu pulang, rehat. Pasti capek kan udah nyetir berjam-jam dari tadi,” ujar Embun.
“Serius? Biasanya, cewek-cewek gue dulu pada manja minta dianter ke mana-mana. Mereka nempel terus kayak ingus,” ucap Al.
“Nah, masalahnya, aku ini bukan ingus. Hahaha,” jawab Embun sembari tertawa.
Ini salah satu alasan Alaska jatuh cinta pada Embun. Gadis ini sangat berbeda dengan gadis lain. Dia tidak manja, tidak pernah meminta ini dan itu. Dia sangat mandiri.
“Ya, udah. Entar gue anter sampe depan kafe, terus gue tinggal pulang, ya,” kata Al.
Embun mengangguk. Dia keluarkan telepon genggam dari tas ransel yang dibawanya. Dilihatnya daftar panggilan terakhir, lalu menekan tombol panggilan. Dia menghubungi Pandu.
“Halo. Ya, Mbak Embun. Gimana? Bisa ketemu hari ini, kan?” Pandu langsung saja memberondong Embun dengan pertanyaan.
“Iya, Pak. Jam tujuh malam di Han’s Cafe, bagaimana? Atau besok saja saya yang ke kantor Pak Pandu?” Embun sedikit merasa jengah untuk bertemu urusan pekerjaan tapi dilakukan di luar kantor, bahkan di luar jam kerja.
“Oh, nggak papa, Mbak Embun. Nanti malam di Han’s Cafe, ya. Saya akan bawakan berkas lengkap untuk Mbak Embun pelajari. Terima kasih. Sampai jumpa nanti malam, ya,” kata Pandu dengan penuh semangat. Sengaja dia sebutkan berkas, supaya benar-benar terkesan ini adalah urusan resmi dan berkaitan dengan pekerjaan. Pandu tidak mau Embun sampai berpikiran buruk dan membatalkan pertemuan mereka.
“Baik, Pak. Sampai ketemu nanti. Selamat siang,” ucap Embun mengakhiri percakapan.
“Tapi kenapa elo diajak ketemu di luar ya, Mbun? Lo yakin ini nggak bahaya?” Alaska sedikit khawatir, karena memang tidak lazim bertemu dan berbincang dengan calon karyawan di luar kantor.
“Santai aja. Kafenya juga ramai, kan. Aku akan terus kasih kabar ke kamu,” kata Embun. Rasa penasaran mengalahkan kekhawatiran Embun tentang Pandu.
Sementara di seberang sana, Pandu tersenyum puas menerima telepon dari Embun. Satu langkah telah dilalui. Next step, memastikan gadis itu menyetujui semua kesepakatan yang sudah mereka persiapkan.
[Embun setuju bertemu saya nanti malam.] Pandu mengirimkan pesan singkat pada kedua bosnya.