Sebenarnya dalam hati, Pandu masih ragu bahwa Embun akan menerima tawaran kerja sama ini. Bagaimanapun, dia masih seorang gadis, belum menikah. Seperti tidak masuk akal saja jika seorang gadis mau disewa rahimnya. Dia hamil, lalu melahirkan? Terlepas dari dia sangat membutuhkan uang.
Pandu membayangkan, kalau dia yang jadi gadis itu, jelas dia tidak mungkin mau. Walau hanya sewa beberapa bulan saja, tetapi ada resiko besar di dalamnya. Dia dengar, melahirkan itu pertaruhannya adalah nyawa. Belum lagi, kondisi fisik juga pasti akan berubah. Apakah gadis itu siap dengan badan berubah jadi melar, jadi seperti ibu-ibu, sedangkan dia belum menikah? Bagaimana kalau dia tidak bisa kembali jadi kurus langsing seperti sebelumnya?
Ah, entahlah. Kurasa itu bukan urusanku, pikir Pandu.
[Pak, saya siapkan berkas dan lain-lain untuk Embun dulu, ya. Boleh saya izin keluar sekalian nanti ketemu Embun?]
Pandu mencoba menggunakan Embun sebagai alasan untuk bisa kabur sejenak dari urusan kantor. Dia merindukan ibunya. Selain itu, permasalahan kerja sama sewa rahim ini memang sedikit mengganggu pikiran dia. Baru kali ini, dia menangani masalah pribadi Kala dan Lady. Biasanya, kalaupun sedikit tersangkut pribadi, tetap fokusnya adalah urusan perusahaan. Misalnya, memberi ucapan atau kado pada relasi dan keluarga. Semua itu biasa diwakilkan pada Pandu untuk mempersiapkan semuanya. Mereka tidak tahu menahu. Mereka tahu jadi saja. a
[Oke. Nggak masalah. Lepas saja semua urusan kantor. Kamu fokus sama masalah Embun saja dulu.]
Kala memberi izin pada Pandu. Saat ini, hal terpenting bagi Kala memang soal anak. Toh, masih banyak karyawan lain bisa membantu mengerjakan tugas Pandu. Dia sendiri sudah meminta sekretaris sementara untuk membantu dia pada bagian HRD. Kala ingin Pandu benar-benar fokus pada masalah Embun.
Pandu melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang menuju rumah orang tuanya. Sudah hampir dua minggu dia sama sekali belum sempat mampir. Pekerjaan laki-laki itu memang sudah menyita waktu terlalu banyak. Hampir tidak ada kesempatan untuk kehidupan pribadi dan keluarga.
Pandu tiba di depan sebuah rumah yang terbilang cukup mewah. Tidak terlalu besar, tetapi dibangun dengan nuansa elegan. Bangunan bergaya semi kolonial, dengan warna didominasi hitam dan putih tulang, tampak lengang karena rumah sebesar itu hanya dihuni oleh dua orang saja. Ayah dan ibu Pandu.
“Siang, Ma.” Pandu menyapa ibunda tercinta yang sedang duduk santai di ruang tengah sembari membaca novel.
“Hai, anak Mama. Kok, tumben siang-siang ke sini?” Sinta menyambut kedatangan buah hati dengan senyum semringah.
Pandu mencium punggung tangan Sinta, lalu wanita cantik paruh baya itu mencium kedua pipi Pandu bergantian, kiri dan kanan.
“Papa ke mana, Ma?” Pandu mengedarkan pandangan ke sekeliling, tak nampak sang ayah di sana.
“Biasa, papamu lagi main golf sama teman-teman dia. Kerjaan orang yang sudah penisun, apa lagi, toh? Habisnya, kamu juga jarang ke sini, sih. Papa sama Mama jadi nggak ada teman ngobrol.”
“Maaf, Ma. Tahu sendiri kerjaan Pandu kayak mana. Sibuk banget.” Pandu menghempaskan tubuh di sofa panjang, tidur tertelentang.
“Iya. Mama paham, kok. Papa kamu dulu juga sibuk minta ampun waktu masih jadi sekretaris ayahnya Pak Kala. Makanya, sekarang Mama biarin Papa pergi-pergi. Biar dia menikmati hidup setelah sekian puluh tahun terjerat pekerjaan.” Sinta mengangkat kepala Pandu, lalu merebahkannya di pangkuan. Pandu menatap sang ibu sambil tersenyum. Wanita itu memang sangat menyayangi anak semata wayangnya. Sikapnya demikian lembut.
“Apa orang kaya seperti mereka memang selalu egois, memaksakan apa pun yang mereka inginkan, Ma?” Pandu memang sering merasa terganggu dengan kesewenang-wenangan yang dia lihat. Kala memang tidak terlalu arogan seperti itu. Dia berbeda dengan Lady, juga bos-bos lain yang Pandu kenal.
“Sudah biasa. Ketika manusia punya power, ya, memang cenderung untuk seperti itu, Sayang. Yang penting, mereka tidak kelewatan. Misal, sampe ngebunuh orang. Nah, itu jelas sudah melanggar batas. Tapi kalau cuman egois, mmmh ... Mama rasa memang seperti itu mereka. Kenapa? Kamu ada masalah di kantor?” Sinta mengusap lembut rambut Pandu.
“Nggak ada sih, Ma. Pandu kadang kasihan aja sama beberapa pihak yang harus berbenturan dengan ego para bos. Itu aja, sih. Kalau Pandu sendiri, nggak pernah ada masalah sama mereka. So far, semua berjalan dengan lancar dan baik-baik aja.”
Pandu tidak berbohong. Dia memang tidak pernah bermasalah dengan Kala maupun Lady. Sesekali ada ketidakcocokan, itu hal yang wajar. Namun, tidak pernah menjadi masalah besar. Tentu saja, karena dia lebih memilih untuk mengalah. Bagaimanapun, mereka adalah orang-orang yang menggaji dia. Tidak mungkin dia melawan bos sendiri.
“Tempatkan empatimu pada sisi yang tepat. Bijak mengamati situasi dan mengambil langkah. Yang penting posisi kamu aman, tanpa harus mengingkari kebenaran hakiki. Itu aja yang kamu pegang, Sayang.” Sinta berusaha menenangkan gundah di hati anak kesayangan.
“Mama sama Papa dulu waktu kerja di sana, apa pernah juga merasakan seperti aku gini?” Pandu kembali bertanya.
Keluarga Pandu memang banyak yang bekerja di perusahaan keluarga Kala sejak dulu. Bahkan sampai sekarang, beberapa kerabat juga masih bekerja di sana. Perusahaan raksasa milik keluarga Kala, ditambah lagi milik keluarga Lady, semakin menggurita.
Sinta menceritakan pengalaman selama bekerja di perusahaan keluarga Kala. Banyak tips serta trik yang dia ajarkan pada Pandu. Seorang ibu, tetapi bisa dibilang senior dia juga di perusahaan.
Ayah dan ibu Pandu juga dulu bekerja di sana. Ayah Pandu adalah sekretaris pribadi ayah Kala. Ketika Kala awal menjadi pimpinan di perusahaan, ayah Pandu juga masih sempat mendampingi. Hingga kemudian dirasa dia sudah cukup tua dan ingin beristirahat dari semua kesibukan kerja, ayah Pandu meminta izin untuk berhenti bekerja.
Tidak mudah menemukan sekretaris pribadi yang setia dan bisa dipercaya. Kala meminta Pandu menjadi sekretaris biasa di perusahaan. Pandu pun menerima tawaran itu. Dia malah senang karena tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan, juga tidak perlu berjuang terlalu keras untuk mendapatkan posisi penting, malah sudah ditawari dan disodori di depan mata. Sebagai pemuda cerdas, tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
Seiring berjalannya waktu, Kala melihat potensi serta kemampuan handal di diri Pandu. Lantas dia sendiri yang meminta Pandu untuk menjadi sekretaris pribadinya. Jadi, tidak hanya mengurus segala hal berkaitan dengan perusahaan, tetapi juga masalah pribadi. Hampir semua rahasia Kala diketahui dan dipegang oleh Pandu.
Memang, menjadi sekretaris pribadi akan mampu mendapatkan banyak fasilitas dan uang. Gaji jelas lebih dari cukup. Fasilitas berupa mobil, apartemen, juga ikut ke mana pun Kala pergi, tentu memberi kesempatan bagi Pandu untuk mencicipi kemewahan hidup sebagai seorang konglomerat.
Ya, hanya bersama Kala saja dia bisa leluasa menikmati hidup. Di luar itu, sangat sulit. Waktunya habis hanya untuk mengurus kehidupan bosnya.
Pandu dan Kala memang sudah saling mengenal sejak kecil. Walau tidak sering bertemu, tapi ada kalanya mereka bersama ketika ada acara perusahaan atau acara pribadi ayah Kala. Pandu sesekali diajak serta oleh ayahnya. Kala juga bukan tipikal pria sombong sedari kecil. Dia selalu ramah pada semua orang, termasuk pada Pandu.
Hal itu juga yang membuat Pandu menerima tawaran menjadi sekretaris pribadi Kala. Mendapatkan bos yang berperikemanusiaan seperti Kala di zaman sekarang tidaklah mudah. Jadi, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
Kalaupun tidak seumur hidup bekerja di sana, setidaknya pundi-pundi rupiah bisa dia kumpulkan selagi bekerja sebagai bawahan Kala. Mungkin kalau sudah dirasa cukup, dia ingin mencari pekerjaan lain yang lebih santai agar bisa menikmati hidup. Atau mungkin, membuka usaha sendiri. Itu cita-cita Pandu dari dulu.