Rasa Jatuh Cinta

1365 Kata
Kita seperti sajak yang berbicara saat nada tak lagi mampu melantunkan suara ketika kata tak cukup mampu mengutarakan rasa ***** “Ya, udah. Kita makan dulu, yuk, Beib. Di bawah sana ada warung bambu. Dia punya menu andalan rica-rica mentok pedas. Enak banget, deh. Udah lama gue nggak makan di sana,” ajak Al. “Wait, aku geli dengan semua panggilan-panggilan sayang. Never do that. Biasa aja, panggil aku Embun seperti biasanya,” ujar gadis itu sambil bergidik. Embun memang jijik dengan panggilan-pangilan mesra semacam yang, beib, cin, dan lain-lain. “Hahaha. Lo emang beda banget ma cewek lain, Mbun. Cewek lain malah marah kalau nggak dipanggil pakai nama khusus. Nama kesayangan,” celetuk Al sembari tertawa. “Justru karena itu kan kamu suka sama aku. Coba kalau aku sama seperti cewek-cewek lain, pasti bakalan kamu pakai sehari dua hari terus dibuang seperti yang sudah-sudah.” Embun mencibir pada Al. “Dih, itu kan masa lalu-“ “Iya masalah lu, bukan masalah gue,” potong Embun sambil tertawa. “Daripada bahas masa LA-LU, mending bahas masa depan kita. Iya, nggak?” Al sengaja menekankan kata LA-LU supaya Embun tidak lagi ngeles seperti bajaj. “Gayanya, masa depan. Tumben banget sih serius gitu, sekarang? Biasa juga pecicilan nggak jelas.” Embun mencibir pada pemuda itu. Embun sebetulnya senang dengan perubahan sikap Al. Lelaki ini tiba-tiba menjadi dewasa dengan cepat hanya karena jadian dengan dia. Semoga saja bisa berubah jadi laki-laki yang lebih baik lagi. Perubahan itu menunjukkan bahwa Al memang serius menjalani hubungan dengan dia. Satu hal yang tak pernah dia lihat dari seorang Alaska sebelumnya, keseriusan. “Karena gue bener-bener serius sama lo, Mbun. Dih, gue jadi lebay, ya. Jijik sendiri gue.” Alaska tertawa sambil menggaruk-garuk kepala yang sebetulnya tidak gatal. “Gue serius dan pengen jaga hubungan kita ini, Mbun. Syukur-syukur memang bisa sampai nikah dan sampai nenek kakek malahan.” “Nggak papa. Itu tandanya kamu sudah mulai dewasa, Al. Aku seneng, kok,” puji Embun sambil melemparkan senyum. Tiba-tiba wajah Al menjadi merah padam, bercampur antara senang, malu, juga semangat. “Idih, kenapa muka kamu jadi merah? Kayak anak perawan lagi dilamar aja.” Embun tertawa keras sekali. Dua tahun mengenal pemuda ini, belum pernah melihat dia salting apalagi tersipu seperti sekarang ini. Al merupakan tipikal pemuda selengekan yang selalu bebas melakukan apa pun yang dia mau, tanpa peduli perasaan orang lain. Malu, tersipu, mungkin adalah dua kata yang sudah hilang dalam perbendaharaan di otaknya. “Shut up. Anjir dah. Sekarang, jadi lo terus yang godain gue. Biasa juga gue. Kenapa jadi kebalik, ya?” Alaska menutup wajahnya, berusaha agar perasaan dia netral kembali. Muka dia terasa memanas. “Itu resikonya orang jatuh cinta, Al. Hahaha. Eh, once more, jangan pernah ajak aku aneh-aneh, ya. Kita baru boleh awok-awok nanti setelah menikah. No awok-awok sebelum menikah. Janji?” Embun menyodorkan jari kelingkingnya. “Foreplay, gimana?” Al mencoba melakukan penawaran. Dih, seperti orang beli sayur saja pakai nawar segala. “No,” jawab Embun singkat dan menarik kembali kelingkingnya. “Huge and kiss, please,” kata Al pantang menyerah sambil menangkupkan kedua tangan di depan d**a. Dia sengaja berkedip-kedip manja dan memajukan bibirnya membentuk huruf O. “Peluk, boleh. Kiss ... cuman boleh di pipi dan di dahi. Tidak boleh di bagian selain itu,” jawab Embun tegas. “Alamak, nasib gue. Sedih banget. Gini amat jatuh cinta.” Al pura-pura tersedu. Embun ngakak melihat kelakuan pacar barunya itu. “Eh, ada lagi. No raba-raba, no pegang-pegang selain tangan,” tambah Embun. “Idih, bisa meledak ini kepala gue,” gerutu Alaska lagi. “Kepala mana yang meledak, Al?” Embun terbahak-bahak. Alaska terlihat cemberut. Kebiasaan buruknya tiba-tiba harus dipangkas habis. Ibarat orang pergi ke tukang cukur, ini langsung gundul plontos, cukur habis. Apa kayak gini ya resikonya orang jatuh cinta. Anjir, gerutu Al dalam hati. “Deal, nggak? Lebih baik kamu deal, daripada nggak dapet apa-apa sama sekali, lho,” kata Embun dan kembali menyodorkan jari kelingking. “Hah! Ya, sudahlah. Deal,” jawab Al lesu sembari mengaitkan jari kelingkingnya. “Hahaha.” Embun tertawa penuh kemenangan. Akhirnya, bisa juga dia menaklukkan jiwa m***m seorang Alaska. Gadis ini ingin membantu Alaska menjadi pria yang lebih dewasa dan matang. Sifat tengil juga kekanak-kanakan pemuda ini harus dikurangi. “Kamu itu mirip banget sama artis loh, Al,” kata Embun mencoba menghibur Alaska yang sedang manyun. “Artis horor!” Pemuda itu menjawab dengan ketus. Hari ini, dia bahagia karena akhirnya bisa mendapatkan Embun sebagai kekasih. Ada perasaan yang tak bisa dia jabarkan dengan kata-kata. Rasa yang tidak pernah dirasakan Al ketika jadian dan jalan dengan gadis-gadis lain sebelumnya. Namun, Embun yang seolah tidak bisa disentuh sedikit pun, tentu membuat jiwanya juga memberontak. Ini serasa tidak punya pacar secara fisik, hanya hati. “Dih, kok sewot gitu, sih. Kamu jadi seperti anak perawan yang ditinggal kawin sama pacarnya,” goda Embun. “Habisnya, punya pacar tapi nggak bisa dipegang,” gerutu Al. “Kita benerin dulu pikiranmu yang korslet itu ya, Al. Yang normal adalah boleh pegang dan lain-lain itu after married. Kalau belum, memang nggak boleh. Jadi, bukan aku yang salah dalam situasi ini, tapi kamu.” Embun mencoba menjelaskan. “So, please. Berubahlah. Coba lebih dewasa menyikapi,” lanjut Embun. “Justru karena gue dewasa, makanya gue bisa lakukan adegan dewasa. Nggak kayak lo, masih anak-anak. Makanya, nggak berani, kan? Cuman berani pegangan tangan. Kayak anak TK tuh yang lagi pacaran. Pegangan tangan, main ayunan, main prosotan, lari-lari. Dih,” cerocos si Al. “Astaga. Otak kamu ini ya, kalau dibongkar isinya m***m doang. Belajar bahagia dengan pacar tanpa harus m***m. Kalau yang kamu butuhkan cuma m***m, mending sama cewek lain aja, deh. Belum terlambat kalau mau dibatalin perjanjian kita,” ancam Embun. “Ssssh, ini kan ceritanya gue yang lagi ngambek. Lo mustinya yang bujuk-bujuk gue, dong. Malah ngancem-ngancem. Masa baru jadian dah diancem putus, sih. Nggak asik.” Pemuda itu makin manyun. “Oh, jadi maunya dibujuk-bujuk gitu? Kayak anak kecil aja. Tadi katanya udah dewasa. Orang dewasa itu nggak perlu dirayu-rayu. Kita bisa bicara baik-baik, discuss. Ya udah, kita mampir swalayan dulu habis ini,” kata Embun. “Mo beli apa?” Al heran, lagi marahan kok tahu-tahu bahas swalayan. “Mau beli permen yupi sama kinder joy. Buat ngebujuk dan ngerayu kamu biar nggak manyun lagi. Hahaha.” Embun terpingkal-pingkal melihat Al berhasil kena jebakan. “Asem lo. Emangnya gue balita!” Alaska akhirnya ikut tertawa. Gadis ini memang berbeda, pikir Al. “Ya udah, Bu Hajjah Embun Swastika yang suci tanpa noda, dewasa tanpa awok awok, gue nurut, deh. Gue nggak paham dewasa dalam pemikiran lo tuh kayak gimana. Tapi gue nurut deh, daripada gue kehilangan elo,” ucap Al tulus. “Dewasa itu soal berpikir dan berperilaku. Bukan awok awok. Kita bisa dilihat kedewasaan kita dari bagaimana cara kita menyikapi masalah. Bersikaplah jantan tanpa harus mengandalkan alat kejantananmu, tapi jantan dalam sikap dan tanggung jawab.” “Widiw, Bu Hajjah ceramah,” ledek Al. “Ish, dikasih tahu malah nggak serius. Males, ah.” Embun pura-pura ngambek. “Iya, didengerin, kok. Soal kejantanan kan tadi? Gue mah udah ahli kok, kalo soal menggunakan kejantanan gue. Tenang aja. Dijamin lo puas, sampe lemas,” goda Alaska. “Hadeh. Tuhan, kok ada manusia kayak gini kamu ciptakan. Mesumnya, ampun, dah,” teriak Embun. “Tapi ngomong-ngomong, lo tahu nggak sih bedanya orang yang sudah dewasa sama yang belum dewasa kalo lagi tidur?” Alaska memandang gadis di sampingnya. “Orang dewasa tidurnya sama pasangan, yang belum dewasa sendirian,” jawab Embun. “Salah. Yang belum dewasa, tidurnya merem. Kalo udah dewasa, tidurnya merem melek.” Alaska tertawa gembira. “Eaaa ....” “Dih, itu mah bedanya tidur sama ditidurin. Kalau tidur, merem. Kalau ditidurin merem melek. Dasar kadal mesum.” Embun ikut tertawa. “Eh, tumben jadi kadal m***m. Biasa juga buaya m***m,” kata Al. “Iya, karena aku yakin kamu akan berubah jadi lebih baik,” jawab Embun lembut. Al lagi-lagi tersipu karena ucapan gadis itu. Rupanya ini rasanya jatuh cinta. Menyenangkan, Al terkekeh dalam hati dan senyum-senyum sendiri.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN