Now or Never

1275 Kata
Jangan menjadi pelangi bagi orang yang buta warna Jangan pernah kau cintai yang tak menganggapmu ada ***** Lady dan Kala tersenyum membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Pandu. Satu tahap lebih dekat, mereka akan mendapatkan kesepakatan dengan Embun. [Harus deal!] Kala membalas pesan Pandu. Bagaimanapun caranya, Pandu harus berhasil merayu Embun. Demikian pemikiran Kala. [Good job! Lanjutkan. Kabari terus perkembangannya] Lady juga membalas pesan tersebut. Tulalit ... tulalit .... Telepon genggam Lady berbunyi. Dari suaminya, Kala. “Ya, Bee. Ada apa?” Lady menjawab panggilan telepon dari suaminya. “Honey, Pandu bilang malam ini dia akan ketemu sama Embun. Semoga semuanya lancar, ya,” kata Kala penuh harap. “Ya, dia juga udah ngabarin gue, kok. Semoga semua seperti yang kita harapkan, ya,” jawab Lady sedikit lesu. “Kamu kenapa lesu gitu, Honey? Ada masalah?” Kala mampu merasakan perbedaan suara dari Lady. Mestinya ini kabar gembira, tapi kenapa Lady terdengar tidak semangat? Tentu saja Kala bertanya-tanya dalam hati. “Nggak ada masalah. Cuma ini tadi kok gue agak nggak enak badan. Gue mo ke dokter dulu ya, Bee.” Lady beralasan. Wanita itu menghela napas panjang. Sebetulnya, masih ada satu masalah yang belum terselesaikan, yaitu Broto! “Hmm, ya, udah. Naik taksi aja daripada nyetir sendiri. Atau aku pulang sekarang?” Kala terdengar khawatir. “Nggak usah. Gue cuma ngerasa badan kayak pegel aja, kok. Gue masih kuat nyetir sendiri,” jawab Lady tegas. “Ya, udah, hati-hati di jalan, ya. Aku pulang agak malam, lagi banyak yang perlu dikerjakan di kantor.” Lady bisa mendengar suara keyboard dari laptop suaminya. Kala memang meletakkan telepon genggam persis di samping laptop dan menekan tombol pengeras suara sementara dia berbincang dengan Lady. “Iya, nggak papa. Gue pergi dulu ya, Bee,” pamit Lady. “Bye.” Lady menutup panggilan telepon. Dia harus segera bergerak. Jangan sampai ketika Embun menyatakan persetujuan, malah dokter belum siap. Bisa celaka. Rahasia yang selama ini dia jaga, bisa terkuak tanpa kontrol. Lady tak sanggup membayangkan jika sampai Kala meminta perceraian setelah tahu dirinya memang tak bisa memberikan keturunan. Kala dan siapa pun juga, tak boleh tahu bahwa anak yang dikandung oleh surrogate mother bukan berasal dari sel telur Lady karena itu berarti bayi tersebut adalah anak Kala dan si ibu surrogate. Posisi Lady sebagai istri akan terancam. Dia buru-buru mengirimkan pesan ke Broto. [Broto, lo lagi di mana?] Lady ingin segera menemui Broto untuk memastikan bahwa laki-laki itu mau bekerja sama. Tak ada banyak waktu yang tersisa. [Lagi di tempat praktik. Kenapa, Lad?] Beberapa menit kemudian Broto membalas pesan tersebut. Broto mengaktifkan nada yang berbeda untuk pesan maupun panggilan masuk dari Lady. Dengan demikian, sesibuk apa pun dia, jika terdengar nada itu, akan selalu bisa meluangkan waktu untuk membalas pesan atau menjawab panggilan telepon. [Gue ke situ sekarang, bisa? Sejam lagi gue sampe. Penting.] Broto mengernyitkan dahi ketika membaca pesan tersebut. Kenapa Lady mendadak ingin ketemu dia? Waktu tiga hari untuk berpikir yang sudah disepakati, belum juga berakhir. [Gimana kalo nanti malam aja, Lad? Kebetulan pasien gue penuh, neh.] Jadwal hari ini memang penuh. Sulit untuk menyelipkan Lady bertemu sampai jam praktik selesai. Toh, pasti yang dibicarakan juga bukan berkaitan dengan kesehatan. Sepertinya lebih nyaman bertemu di luar. [Gue perlu sekarang. Please.] Lady tetap memaksa. Dia tidak mau Pandu bertemu dengan Embun, sementara dia belum memastikan kesediaan dokter itu untuk membantu rencananya. Resiko yang dipertaruhkan terlalu besar. [Is it really urgent?] balas Broto sambil mengernyitkan dahi. [Banget! Hidup dan mati.] Ini memang soal hidup dan mati bagi kehidupan rumah tangga Lady. Broto semakin bimbang. Sepenting itukah masalah Lady? Untuk beberapa saat, dokter itu menimbang-nimbang. [Ok. Gue kosongin jadwal sejam buat lo.] Akhirnya. Mana mungkin Broto menolak permintaan wanita itu. Jangankan mengosongkan jadwal, mengosongkan hatinya pun dia rela untuk diisi oleh Lady seorang. [See you then!] Lady membalas dan segera bersiap menuju tempat praktik Broto. Wanita itu mengganti pakaian yang dia kenakan dengan terusan polos berwarna merah marun tanpa lengan. Dress yang terkesan sangat sederhana tapi elegan dan seksi tentunya. Baju pendek yang menutupi setengah pahanya ini membalut tubuh Lady dengan ketat, mampu mengekspose bentuk tubuh dan tentu saja kulit mulus wanita ini. Uniknya lagi, terdapat resleting panjang dari bagian d**a hingga bawah. Pria yang melihat penampilan Lady kali ini pasti akan penasaran. Apa yang terjadi kalau resleting itu ditarik sampai ke bawah? “Nir, tolong kosongin jadwal dari jam dua sampai jam tiga, ya. Untuk Ibu Ladyane,” kata Broto pada asistennya. “Lah, Dok. Sudah ada yang isi di jadwal itu,” kata gadis itu heran. Tidak biasanya dokter satu ini mengutak-atik jadwal. Dia biasanya pasrah saja. Duduk manis menerima pasien. “Geser aja jamnya. Penting ini soalnya,” jawab Broto singkat dan kembali ke ruangan. Nira hanya manggut-manggut. Dia tak bisa apa-apa kalau ini dokter yang minta.   Alamak, bakal diomelin orang ini, keluh asisten Broto dalam hati. Beberapa menit kemudian, sang asisten sudah sibuk mengatur ulang jadwal dengan alasan ada pasien darurat yang harus ditangani oleh Broto. Alibi yang cukup masuk akal. Untung saja, pasien itu mau mengerti. Nggak biasanya Dokter Broto menggeser jadwal. Tumben-tumbenan. Semoga nggak jadi kebiasaan, gerutu si asisten dalam hati. Jangankan geser jadwal pasien, geser tugu monas juga gue jabanin demi Lady, ujar Broto dalam hati. Masih ada dua pasien lagi untuk ditangani sambil menunggu kedatangan Lady. Broto berusaha berkonsentrasi pada pekerjaan, tapi memang sulit. Kehadiran wanita itu, meski baru sebatas janji ketemu, sudah mampu membuyarkan semua perhatian dan konsentrasi bekerja. Lady tiba di tempat praktek Broto lebih cepat. Lima menit sebelum waktu yang telah disepakati. “Selamat siang. Saya sudah ada janji dengan Dokter Broto,” kata Lady menghampiri meja asisten Broto. “Ibu Ladyane, kan? Silahkan, Bu, sudah ditunggu sama Dokter Broto,” jawab asisten itu ramah sambil menunjuk ke arah pintu ruangan Broto. “Makasih.” Lady melangkah pelan. Asisten itu memandang punggung Lady yang kemudian menghilang, masuk ke ruangan Broto. Dih, pantesan semua jadwal dikosongin. Rupanya, Dokter Broto masih pria normal. Si asisten terkekeh dalam hati. Dia yang wanita saja merasa kagum pada kecantikan Lady, apalagi Broto yang seorang laki-laki. Asisten ini akhirnya bisa memaklumi anomali yang terjadi pada dokternya kali ini. Siapa juga yang mampu menolak kedatangan seorang dewi seperti Lady? “Hai, Lad. Masuk,” sapa Broto. Lady duduk di hadapan Broto seperti layaknya pasien lain. “Tumben, tiba-tiba pengen ketemu. Ada apa?” Broto memandang takjub pada Lady. Penampilannya luar biasa, as always. “Gue nggak bisa menunggu dalam diam soal jawaban lo. Jadi, gue putuskan untuk ke sini dan memaksa lo,” ucap Lady sembari bangkit dari kursi. Wanita itu berjalan mendekati Broto dan berdiri persis di depannya. Secara refleks, Broto menggeser kursinya sedikit mundur ke belakang agar tubuh Lady tidak terlalu menempel dengannya. “Maksud lo apa Lad?” Broto bertanya agak kebingungan, sekaligus nervous dengan sikap Lady yang seperti ini. Dia memandang sosok sempurna di hadapannya sekarang, dari kaki sampai ke wajah. Sebagai pria normal, Broto tentu saja merasa tidak karuan dengan body language dan mimik muka Lady siang ini. Napasnya menjadi berat dan memburu menahan gairah. d**a papa muda itu naik turun menahan gejolak yang membuncah. Wanita itu tidak menjawab. Dia hanya memandang Broto dengan tatapan tajam dan menggairahkan. Lady seperti seekor singa betina yang sedang bermain dengan domba jantan yang dia incar. Lady menarik resleting di bagian d**a. Turun ... dan terus turun hingga bagian paling bawah. Broto membelalak terkejut melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu. Pria itu mematung, tak mampu bergerak. Ada sesuatu yang tiba-tiba membuat sesak di dalam celananya. “Do it now dan sepakati penawaran gue. Now or never,” ucap Lady. Broto tercengang mendengar kalimat Lady.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN