Kukira daging ternyata lengkuas
inginku bersanding ternyata kandas
yang singkat adalah pertemuan
menyisakan rindu berkepanjangan
*****
Lady melepas pakaian yang dia kenakan di hadapan Broto, menyisakan dua buah kain kecil yang menutupi bagian paling rahasia tubuhnya. Baju itu dibiarkan merosot ke lantai begitu saja. Wanita itu meraih tangan Broto dan mengusapkan jemari pria itu dengan perlahan ke lehernya. Dokter tampan itu terkesima, dan menelan ludah berkali-kali.
“Stop, Lady. Nggak begini caranya. Kita bisa bicara baik-baik.” Dengan tergesa Broto menarik tangannya. Dia segera meraih baju Lady yang tergeletak di atas lantai dan mengulurkan pada wanita itu.
“Pakai, Lad. Kita bisa bicara baik-baik, kok. Tidak dengan cara seperti ini,” kata Broto dengan bibir bergetar. Dia sangat bingung saat ini. Pria itu berusaha keras untuk tidak kehilangan akal sehatnya. Satu sisi ingin semua itu terjadi, tetapi di sisi lain, ada yang menghalangi untuk melampiaskan sisi beringas dirinya.
Lady menerima baju itu. Namun, bukan untuk dikenakan. Dia malah melenggang dengan santai ke arah pintu.
“Jadi, lo serius nggak mau? Oke. Kalau begitu, gue bakal cari dokter lain aja. Jangan pernah lagi lo hubungin gue. Mulai detik ini, kita tidak saling kenal. Bye, Broto,” ucap Lady dalam posisi membelakangi Broto.
Broto sangat terkejut mendengar kalimat yang diucapkan Lady.
“Maksud lo, kita nggak akan bisa ketemu lagi?” Broto terjepit antara cinta, akal sehat, juga gairah yang kini mulai memuncak.
“Ya, dong. Buat apa kita saling kenal, kalau lo nggak ada gunanya buat gue. Kala jelas bermanfaat buat gue. Dia bisa urus perusahaan. Tapi lo? Apa manfaat gue kenal sama lo?” Lady menjawab dengan sangat tenang.
Dalam hati, Lady sebenarnya sedang bertaruh. Mungkin saja dia akan kehilangan kesempatan untuk bekerja sama dengan Broto jika pria itu tetap menolak. Namun, ada peluang bahwa dia akan berhasil memaksa dan ini patut untuk dicoba. Dia harap-harap cemas.
Broto tiba-tiba menubruk Lady dari belakang. Dipeluknya wanita itu dengan sangat erat.
“Gue udah pernah kehilangan kesempatan satu kali. Jangan lagi, Lad,” bisiknya lirih di telinga Lady. Wanita itu tersenyum mendengar ucapan Broto.
“Sebaiknya, jangan lo sia-siakan kesempatan yang gue kasih. Lakukan sekarang, and we make a deal atau kita akhiri semuanya sekarang juga. Please, jangan bertele-tele,” ucap Lady masih tetap tidak bergerak dari posisinya. Wanita ini merasakan ada gundukan keras di bawah sana yang terus meronta dan menuntut untuk dilepaskan.
“Gue hitung sampai tiga. Satu, du-“
Belum selesai menghitung, Broto sudah membalikkan tubuh Lady. Pria itu mencium Lady dengan sangat garang dan tentu saja dibalas dengan tak kalah panasnya oleh wanita itu. Mereka berciuman dengan sangat beringas.
Broto tak sanggup kehilangan wanita itu lagi. Penyesalan seumur hidup pasti akan menghantui dia karena melepas kesempatan untuk bisa bersama Lady. Dulu, susah payah dia melepaskan Lady dari dalam hatinya. Sekarang, belum tentu dia sanggup melakukannya lagi. Rasa cintanya pada Lady bukan semakin menyusut, melainkan semakin bertambah seiring berjalannya waktu.
Pergumulan yang sudah lama diinginkan Broto akhirnya terjadi juga. Ruangan ini memang sudah biasa mengaduk-aduk tubuh wanita. Hanya saja, kali ini Broto melakukannya sebagai seorang pria, bukan sebagai seorang dokter.
Ruang praktik yang bersiap untuk menjadi saksi bisu percintaan mereka. Andai saja dia mampu bercerita tentang panasnya suasana siang itu, ornag pasti akan ternganga. Pendingin ruangan seolah tak lagi berfungsi, terkalahkan oleh panasnya gairah dua manusia yang sedang dipacu nafsu. Mudah bagi Broto, karena dia memang mencintai Lady. Sementara Lady harus berkonsentrasi penuh dan fokus menikmati sentuhan dan cumbuan di sekujur tubuhnya. Dia berusaha keras untuk tidak memikirkan hal lain. Dia juga harus menghilangkan rasa risih, tidak nyaman, dan tentu saja ... harga diri.
Belum pernah ada pria lain yang menyentuhnya, selain Kala. Ini adalah kali pertama dan dia tahu bahwa ini bukan untuk yang terakhir kali. Selamanya. Dia harus terus mengikat Broto untuk menjaga rahasia. Sekali dia membuka mulut dan membongkar rahasia, tamatlah sudah riwayatnya.
Gue harus bisa! teriak Lady dalam hati sambil mencoba mengimbangi Broto. Setelah pergumulan hebat selama kurang lebih dua puluh menit itu, mereka sama-sama terkapar, terduduk dengan lemas kehabisan tenaga.
Lady duduk di pangkuan Broto dan keduanya masih sama-sama polos tanpa busana, tanpa sehelai benang pun menempel di tubuh mereka. Mereka beristirahat dan mengatur napas masing-masing. Broto mengusap punggung wanita itu dengan lembut dan penuh kasih sayang, dibalas dengan senyuman sendu wanita itu. Jemari Broto bermain-main di belakang sana.
“Thanks, Lad,” ucap Broto.
“My pleasure, Dear. So, it means that we have a deal? Kamu mau membantuku, kan? Aku sudah tepati janjiku, menjadi milikmu. Sekarang, giliranmu menepati janji.” Lady mengusap pipi pria itu, perlahan dengan jari telunjuknya. Dia bertanya untuk memastikan bahwa Broto sudah setuju untuk membantu. Jangan sampai dia sudah berkorban, tetapi lelaki itu tetap menolak.
“Yes. Gue bantu lo. Tapi lo harus selamanya jadi milik gue,” jawab Broto.
“Gue janji. Gue bakal jadi milik lo, dan Kala tentunya. Selamanya,” kata Lady dengan lega.
Tulalit ... Tulalit ....
Lady beranjak dari pangkuan Broto dan mengambil telepon genggam dari dalam tas. Kala menelepon.
“Hai, Bee. What’s wrong?”
“Nggak papa. Cuma khawatir aja. Gimana, apa kata dokter?” Kala rupanya masih mengkhawatirkan Lady.
“Nggak ada apa-apa. Hanya stres berlebih. Lo tahu kan, gue kepikiran banget soal surrogate mother ini,” elak Lady.
“Everything is ok, Honey. Itu suaramu kok ngos-ngosan. Are you ok?” Terdengar nada suara Kala sangat khawatir pada sang istri.
“I’m ok, absolutely. Ini udah mau pulang, kok,” ujar Lady berusaha mengatur napas setenang mungkin.
Broto yang merasa cemburu melihat Lady berbincang dengan Kala, mendekat ke arah wanita itu, memeluk dari belakang dan mencium bahunya.
“Gue mo nyetir dulu ya, Bee. Bye,” ucap Lady segera.
“Oke, hati-hati, ya,” balas Kala kemudian menutup panggilan telepon.
“Gue apa lo yang cari apartemen buat kita?” Broto bertanya sambil terus memberikan kecupan-kecupan kecil di bahu dan leher Lady.
“Gue aja. Gue cari sekarang juga. Nanti gue kabari lagi kalau sudah dapat,” kata Lady. Dia ingin meyakinkan Broto bahwa dia serius dengan janjinya. Jangan sampai pria ini ragu dan berubah pikiran nantinya.
“Yes. Makasih, ya, Sayang,” kata Broto kemudian mencium bibir Lady. Untuk beberapa lama mereka saling berpagut, menenggelamkan diri dalam dosa penuh kenikmatan bernama perselingkuhan.
“Udah, ya. Gue balik sekarang. Lo juga kudu lanjutin pasien lain, kan?” Lady segera meraih pakaian dan berbenah.
“Ya, sih. Bentar lagi ada pasien. Kabari gue soal apartemen. Kalau bisa, nanti malam kita ketemu di apartemen. Peresmian,” kata Broto dengan ekspresi nakal.
Lady tahu, pria ini masih menuntut jatah untuk menikmati tubuhnya. Satu kali b******a pasti takkan mampu melunasi obsesi Broto yang sudah jatuh cinta pada dia selama bertahun-tahun. Hal yang wajar menurut wanita itu.
“Oke, nanti gue kabari begitu dapat apartemen yang pas,” ucap Lady masih sambil membenahi penampilannya.
“Keliatan acak-acakan, nggak?” Lady bertanya pada Broto.
“Nggak kok. Selalu cantik dan memesona,” jawab Broto.
“Dih, serius gue nanya,” kata Lady.
“Iya, beneran, kok. Nggak akan ada yang ngira kalau habis diacak-acak. Hehehe.” Pria itu terkekeh. Roman muka Broto terlihat sangat bahagia.
Ya, udahlah. Yang penting lo dah setuju bantu gue. Gue lega, kata Lady dalam hati.
“Ya, udah. Gue balik, ya,” kata Lady sembari mencium pipi kiri Broto.
Broto memalingkan wajahnya, memberi isyarat bahwa pipi kanan juga minta jatah. Lady mendaratkan ciuman lagi. Ternyata, Broto masih meminta jatah. Bibirnya dimajukan. Lady tertawa sekilas lalu mencium bibir pria itu.
“Udah, ah. Nggak jadi pergi nanti,” kata Lady melambaikan tangan.
“Hati-hati, Sayang,” kata Broto membalas lambaikan tangan. Lady meninggalkan ruang praktik Broto dengan cukup kikuk. Dia takut asisten Broto curiga.
“Makasih ya, Mbak,” sapa Lady berusaha tetap terlihat biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Oh, iya, Bu. Hati-hati di jalan,” jawab asisten itu.
Kok wajahnya tegang gitu, ya. Jangan-jangan, habis enak-enak di dalam, pikir gadis itu curiga.
Di dalam mobil, Lady menyandarkan tubuh dan berusaha menenangkan diri dan hatinya.
God, damn. Nggak nyangka, gue harus sejauh ini melangkah. Jangan sampai rahasia ini terbongkar, sampai kapan pun, selamanya. Gue tahu yang gue lakuin ini kejahatan dan kejahatan itu harus sempurna biar nggak kebongkar.