Kasih Erat

1297 Kata
Aku merelakanmu pergi jangan pernah berpikir untuk kembali tidak dirimu, tidak juga hatimu tidak bayangmu, tidak pula kenanganmu ***** Alaska memandang gadis di depannya dengan takjub. Kenapa dia tampak lebih cantik dari biasanya? Rasa hangat menjalar di d**a lelaki itu, bahkan terus naik hingga ke wajahnya. Oh My God, baru kali ini aku bisa mengagumi keindahan cipta-Mu. Biasanya, Alaska tidak terlalu memedulikan wajah gadis yang dia kencani. Bentuk tubuh dan cara berpakaian, lebih banyak menyedot perhatian. Muka urusan ke sekian. Toh, tinggal dipoles dengan make up, beres. Yang tidak bisa dipoles kan bentuk tubuh. Sebuah keputusan nekat yang sudah dia buat, menjadi pacar Embun, sekalipun gadis itu belum menaruh hati padanya sama sekali. Namun, baru kali ini seorang Alaska merasa sangat yakin, juga mantap untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis. Selama ini belum pernah ada keyakinan. Dia hanya menjalani saja apa adanya dan kebanyakan memang bukan dia yang menyatakan suka. Para gadis itulah yang datang, mendekat, lalu menembak. Dia hanya mengiakan. Embun dan Al sedang duduk berdua di sebuah warung bambu bergaya lesehan yang kali ini nampak lebih lengang dari biasanya. Mungkin karena ini hari kerja, jadi tidak banyak pengunjung atau pelancong yang berwisata ke kawasan itu. Karena konsep tempat ini semi outdoor, jadi masih bisa menikmati pemandangan alam nan cantik di sekitarnya. Gugusan bukit, sungai jernih, masih bisa dinikmati dari saung atau gubuk lesehan ini. Persis di samping kanan, Embun bisa melihat hamparan sawah yang luas, juga sebuah sungai yang cukup lebar, membelah di tengahnya. Gemericik airnya bahkan bisa terdengar sampai ke warung itu. Jauh di ujung pandangan, nampak barisan bukit-bukit berjajar acak, tetapi tetap terlihat menawan. Hasil Sang Pencipta yang mungkin sedang ingin membuat karya seni dengan aliran abstrak. “Ngapain liatin aku kayak gitu?” Dari sudut mata, Embun tahu bahwa Alaska sedang mengamati dirinya. Gadis itu memang sedang menatap ke arah sawah, menikmati pemandangan elok yang tentu sulit untuk dia temui di kota metropolitan seperti Jakarta. “Lo cantik,” jawab Al singkat. Entah kenapa, mulut Al terasa kaku. Hanya dua buah kata itu yang mampu dia ucapkan. “Dari dulu, kali. Kamu aja yang baru nyadar sekarang. Ke mana aja kamu selama ini?” Embun tergelak menggoda Al. Tumben, pemuda itu terlihat kikuk dan wajahnya bersemu merah. Embun balas memandang Alaska. Lelaki itu segera menundukkan kepala. Dia tak sanggup berbalas tatap dengan gadis yang dia cintai itu. “Hahaha. Astaga, kamu kenapa jadi kayak gini sih, Al?” Embun sungguh heran dengan perubahan drastis pemuda yang sudah dikenalnya hampir dua tahun ini. “Nggak tahu. Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri, Mbun. Belum pernah aku berasa malu, kikuk, dan kaku kayak gini sama cewek. Anjrit, dah,” keluh Al masih tetap menundukkan kepala. Embun tersenyum. Dengan lembut, dia mengusap rambut di atas kening Al sambil berucap, “Thanks, ya Al. Kamu sudah mau berubah demi aku. Kita bisa sama-sama mencoba untuk berubah, kok. Kita harus jadi orang yang lebih baik dari kita yang dulu, kalau mau hubungan ini berhasil. Yuk, sama-sama jadi versi terbaik diri kita. Aku juga perlu banyak berubah, tidak hanya kamu.” Al mengangkat wajah dan balas tersenyum. “Aku yang makasih banget sama kamu, Mbun. Kamu mau nerima cowok badung kayak aku ini. Aku akan berubah jadi lebih baik lagi,” ujarnya kalem. “Cie cie, sekarang udah pake aku dan kamu bahasanya.” Embun tertawa terbahak-bahak. “Asem kamu. Iya, mulai sekarang aku nggak pake lo gue lagi. Kan, kamu calon istriku.” Al mencoba melawan rasa malu. Pesanan mereka datang. Rica-rica mentok pedas, tempe penyet, juga ada iga bakar yang baunya sudah membuat cacing di perut menggeliat tak sabar untuk bersantap bersama seluruh keluarga mereka. Khas sunda, lalapan dengan beberapa jenis sayur. Ada terong, kubis, selada, kemangi, kacang panjang, timun, dan tomat. Wah, membuat air liur meronta untuk menetes. Untung saja Embun dan Al masih bisa mengendalikan bibir mereka. “Makasih, ya, Teh,” ucap Embun pada pelayan warung. “Ya, sama-sama. Silakan,” jawab si eneng pelayan. “Pas banget, ya. Hawa dingin gini, makan pedas. Mantap pisan euy!” Al segera mengambil nasi dan lauk, buru-buru mengisi perutnya. “Uf, enak banget. Suer,” ucap Al dengan mulut masih penuh makanan. “Makan pelan-pelan.” Embun mengingatkan. Gadis itu tersenyum melihat tingkah Al yang sering seperti anak kecil. Hanya soal hasrat terpendam saja, dia jauh lebih dewasa daripada Embun. Hmmm, ternyata memang enak banget masakannya, kata Embun dalam hati. “Hebat kamu, Al. Tempat ini memang keren. Udah view-nya bagus, masakannya juga mantap,” puji Embun. “Ya, dong, Alaska Abithama. Eh, ngomong-ngomong, kalau kita nikah nanti, namamu jadi Embun Swastika Abhitama, loh. Keren, ih.” Al tertawa sendiri. “Dih, kejauhan ngayalnya,” seru Embun ikut tertawa. “Kenapa? Emang, kamu nggak mau nikah sama aku, Mbun? Jadi, sekarang siapa yang suka mempermainkan hati orang? Kamu cuma main-main, ya, sama aku?” Alaska langsung cemberut. “Astaga, dasar bocah. Aku nggak main-main, tapi masih jauh untuk berpikir soal menikah. Aku mau selesaikan dulu semua masalah-masalah, kuliah kelarin dulu, nabung, banyak, deh. Bukan asal nikah aja.” Embun menggelengkan kepala. Alaska masih saja terlalu menuruti nafsu dan keinginan. Dia melum mau berpikir panjang dan jauh ke depan. “Tahun ini, aku mau daftar kuliah,” ucap Al. Embun terbatuk-batuk dan segera meraih gelas minuman. “Kamu kenapa? Aku disuruh makan pelan-pelan, malah kamunya yang batuk-batuk.” Al memandang Embun dengan heran. Tidak biasanya gadis ini sembrono sampai tersedak. “Aku tersedak saking kagetnya dengar omongan kamu, Al. Serius, kamu mau kuliah? Dalam rangka apa?” Tentu saja Embun heran. Pria yang selama ini selengekan dan hanya mau hepi-hepi, tiba-tiba mengatakan mau kuliah. “Dalam rangka ... merangkai masa depan bahagia bersamamu. Aseeeeek,” ucap Al. Rupanya, sudah mulai kumat lagi badungnya pemuda ini. “Aku serius, Al.” Embun melotot sebal. “Aku juga serius, Mbun Sayang. Aku mau kuliah dan mulai nabung, juga merencanakan masa depan kita. Waktu berjalan cepat. Dalam sekedip mata, tiba-tiba sudah satu tahun, dua tahun. Kalau nggak dipikirkan dari sekarang, kita bakal ketinggalan dan tergerus oleh putaran masa. Kita akan tersingkir oleh arus zaman.” Pria itu mengoceh sambil bergaya ala orang berdeklamasi puisi. “Kamu kesambet jin di kawah putih tadi, ya?” Embun terkekeh melihat gaya tengil Al. “Aku serius kok, Mbun. Aku nggak mau kecewain kamu. Aku mau kuliah, memperdalam ilmu masak memasak. Aku pengen bisa jadi chef handal, lalu kita buka guesthouse dan kafe nantinya. Kita kelola sendiri, berdua. Aku mau kita bahagia, walau mungkin nggak bergelimang harta. Tapi kita tidak akan kekurangan.” Kali ini Al mengucapkan semua itu dengan gaya dan mimik muka yang serius. “Amin. Semoga jin baik yang merasukimu hari ini nggak pergi-pergi, deh,” jawab Embun. Al tersenyum dan melanjutkan makan. Embun menatap lekat sosok Al di hadapannya. Pemuda tampan yang dulu sangat badung, sepertinya sekarang sudah menjadi pria dewasa. Ternyata, cinta memang mampu mendewasakan seseorang. Lengkap sudah kesempurnaanmu sebagai seorang pria. Tak hanya tampan, tetapi juga serius menata masa depan, puji Embun dalam hati. Seperti ini rasanya bersama kekasih. Semilir angin dingin yang memagut sekujur kulit, tak mampu menepis rasa hangat di dalam diri. Kehangatan cinta yang kini sedang memeluk mereka berdua. ~ Rengkuh aku selamanya, dalam dekapmu cinta. Kalau memang harus jatuh ... cinta, izinkan aku jatuh sejatuh-jatuhnya, untuk bisa mencintamu sedalam-dalamnya. Aku tak lagi takut untuk terluka. Terluka karena mencinta dan dicinta. Kuambil resiko itu, asalkan denganmu, selagi bisa bersamamu. Karena melepasmu, tak hanya akan melukaiku, tapi meleburkanku. Hancur tak lagi bersisa. ~ Kenapa aku belum bisa merasakan cinta sedikit pun pada pemuda ini? Dia sudah terlampau sempurna untuk gadis sepertiku. Tuhan, izinkan aku mencintainya. Berikan rasa itu padaku. Aku mohon, kali ini berikan rasa itu padaku. Bukankah jodoh datang karena meminta dan diminta? Kini, aku meminta pada-Mu, Yaa Rabb-ku. Karena dia pun telah memintaku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN