Tragedi Pagi

1388 Kata
Hati memiliki nalarnya sendiri, sedangkan nalar tak pernah memiliki hati. ****** Embun mencoba menyamankan diri ketika sepanjang perjalanan balik ke Jakarta, Al terus saja menggenggam tangannya sembari satu tangan lagi berkonsentrasi dengan setir mobil. Aku mencoba, Al. Aku mencoba untuk membiasakan diri, kata Embun dalam hati. Mereka memang tetap bercanda dan tertawa seperti biasa. Namun, ada sedikit hal yang berubah. Nada bicara mereka tak lagi sama. Kini, terdengar lebih lembut dan siapa pun yang mendengar pasti bisa menebak bahwa keduanya adalah pasangan kekasih, bukan sebatas teman. Kalau selama ini orang hanya memandang curiga pada mereka atau berspekulasi dengan mengatakan bahwa Embun dan Al adalah TTM alias Teman Tapi Mesra, sekarang pasti tidak lagi. Mereka pasti yakin bahwa keduanya memang sepasang kekasih. Alaska tak akan mampu lagi menutupi kilatan netra penuh cinta ketika dia memandang Embun, wanita tercintanya. Mulut bisa berkata bohong, tetapi mata jelas tidak bisa. Mata selalu lebih jujur daripada mulut dan lidah. Rasa sayang Embun memang meningkat pada pria ini dibanding sebelumnya. Ibarat menaiki tangga menuju pelaminan, dia beringsut setapak demi setapak. Tak bisa terlalu cepat juga karena masih terjerat dengan hiruk pikuk jeritan hati sendiri. Seribu keraguan coba ditepis dan diganti dengan sejuta harapan. Memang tidaklah mudah, tapi Embun mencoba keras untuk itu. Bayangan lelaki b******k yang dia kenal selalu melintas. Pria-pria itu membuatnya benci pada manusia berjenis kelamin laki-laki. Dua lelaki yang pernah ada dalam kehidupan Embun. Keduanya hadir hanya untuk menorehkan luka yang teramat dalam dan sulit untuk disembuhkan. Ayahnya dan Bara. Ayah yang dulu memang baik dan sangat perhatian. Kemudian dia berubah menjadi serigala kejam yang tak bosan mengoyak jiwa dan raga Embun. Derita tak hanya dialami oleh fisik, tapi juga hatinya. Sembilu tajam terlanjur ditancap, menggores, dan mengoyak. Saat hidup terombang-ambing itulah, Bara hadir dalam kehidupan Embun. Dia adalah satu-satunya adik kandung almarhum ibu Embun. Bara awalnya hadir sebagai super hero yang selalu siap mendekap saat dia butuh pelukan. Pria ini satu-satunya tempat berkeluh kesah bagi Embun yang memang tidak memiliki teman dalam kesehariannya. Bara sering datang mengunjungi Embun. Tentu saja siang atau sore hari sebelum sang ayah pulang karena lelaki itu juga tidak cocok dengan ayah Embun. Selalu saja terjadi cekcok dan timbul pertengkaran kalau dua manusia itu bertemu. Tak jarang, Bara datang sambil membawa teman dia, wanita tentunya. Setelah berbincang sebentar, mereka akan masuk ke kamar tamu dan mengunci pintu. Entah apa yang mereka lakukan, Embun tidak pernah mau tahu. Satu atau dua jam berlalu, baru Bara akan keluar dari kamar. Biasanya dia langsung pergi dengan teman wanitanya itu setelah keluar dari kamar. Teman wanitanya itu pun selama ini selalu berganti-ganti. Namun, tak jarang pula si wanita pergi dan Bara masih di rumah Embun untuk berbincang-bincang. Setidaknya, Embun merasa tidak sendirian. Masih ada keluarga yang bisa dia ajak bicara, walaupun mungkin bukan orang yang sepenuhnya baik. Begitu yang ada dalam pemikiran Embun saat itu. Makanya, dia tak pernah mau peduli dengan apa yang dilakukan sang paman di kamar tamu. Sudah beberapa hari Bara tidak muncul di rumah Embun. Tidak seperti biasa, paling lama tiga hari, laki-laki itu pasti menampakkan batang hidungnya. Ini sudah hampir sepuluh hari. Ke mana gerangan dia? pikir Embun. Gadis itu tidak mau menghubungi Bara karena takut akan mengganggu. Siapa tahu, dia lagi sibuk dengan pekerjaan. Setahu Embun, pria itu bekerja di sebuah perusahaan kontraktor. Bara lebih sering melakukan pekerjaan di rumah. Dia bilang, sesekali saja ke kantor untuk setor kerjaan dan meeting. Embun juga tidak terlalu paham, jadi iya-iya saja mendengar penjelasan sang paman. Semalam, ayah Embun membuat ulah. Pria itu memukuli dia sampai babak belur di sekujur tubuh. Memang sang ayah tidak sadar karena sedang dalam pengaruh alkohol akibat beberapa botol yang sudah dia tenggak. Embun selalu menjadi pelampiasan kemarahan dalam diri yang tak pernah bisa dia ungkapkan pada siapa pun. Rasa sepi yang merongrong hati, kekosongan yang memilukan, selama ini dipendam sendiri. Hanya pada Embun, dia bisa lampiaskan semua kesal itu. Keesokan harinya, Embun tak bisa masuk sekolah. Tidak mungkin dia datang dalam keadaan penuh lebam serta luka. Dia juga jengah karena pasti akan menjadi pusat perhatian dan gunjingan di sekolah, baik di kalangan para guru maupun para murid. Tubuh Embun terasa sakit semua, bahkan untuk berjalan saja susah. Sang ayah seolah tak lagi peduli. Pagi-pagi buta, dia sudah pergi lagi meninggalkan rumah. Entah ke mana. Embun terpaksa menghubungi pamannya, karena dia benar-benar kesakitan untuk bangkit dari tempat tidur. Pagi itulah Bara datang menjenguk ke rumah. “Kamu nggak papa, Mbun? Kita ke dokter aja, yuk. Biar dicek semuanya,” ajak Bara. Tentu saja Embun menolak. Buat makan aja susah, boro-boro ke dokter, pikir gadis itu. “Nggak usah, Om. Udah dikasih obat juga. Besok palingan udah sembuh, kok,” kata Embun menyembunyikan rasa perih dan ngilu di sekujur tubuh, serta pilu di dalam hati. “Om ada uang, kok. Ayo, kalau mau ke dokter. Om anterin.” Bara memegang tangan Embun, mencoba mengajak gadis itu bangkit. “Nggak usah, Om. Beneran, Embun nggak papa, kok.” Embun memaksakan diri untuk tersenyum dan terlihat baik-baik saja. “Lukamu itu sudah dikasih obat semua? Ada yang belum?” Bara memandang keponakan semata wayangnya dengan khawatir. “Tinggal yang di bahu sama punggung, Om. Susah.” Embun menunjuk bagian bahunya. “Ya, sudah. Sini, Om olesin,” ujar Bara. Embun sedikit terkejut. Walaupun pria ini adalah adik kandung ibunya, tetap saja mereka adalah manusia dengan jenis kelamin yang berbeda. Pun sudah sama-sama baligh. Ada rasa jengah menjalar di dalam hati. Melihat ekspresi wajah Embun, Bara tersenyum. “Kenapa? Malu sama om sendiri? Santai aja. Kayak sama orang lain aja kamu ini,” kata Bara dengan tenang. Melihat sikap Bara yang tenang, tentu saja Embun jadi tidak berpikir macam-macam. Apalagi dia tahu, pamannya ini punya banyak stok wanita yang jauh lebih cantik dan seksi dibanding dia. Dia hanya anak ingusan kelas tiga SMP. Sedikit ragu, dia menggeser duduknya membelakangi Bara yang sedang mengambil obat luka di atas meja kamar. Dia menunggu dengan sabar. “Angkat kaosnya sampai leher. Kalau kamu malu, belakangnya aja yang diangkat,” ujar Bara masih dengan nada tenang. Bara segera mengoles obat luka di punggung Embun yang penuh lebam dan luka menggunakan kapas. Gadis itu meringis menahan sakit. “Tahan sebentar, ya. Biar cepet kering lukanya. Jadi, harus dioles obat semua. Ini kalau sampai infkesi, bahaya, Mbun.” Dengan lembut, Bara mengoleskan obat ke seluruh luka di punggung. Kelembutan dan ketenangan Bara membuat rasa perih yang menyapu kulit punggung gadis itu sedikit mereda. Beruntung, masih ada Om Bara, kata Embun dalam hati. Tiba di area bahu, agak kesulitan untuk melihat luka Embun karena terhalang kaos yang dia kenakan. “Udah, sih, Mbun, dibuka aja. Toh, hanya sebentar ini. Nggak sampai lima menit, deh. Habis itu, pake lagi kaosnya,” kata Bara yang memang kesulitan untuk mengoleskan obat di bahu Embun. Akhirnya, gadis itu mengalah, membuka kaos, dan menutupkannya pada area d**a. Bara masih sibuk mengoleskan obat di bahu Embun. Namun, kali ini, gadis itu merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sikap pamannya. Napas Bara terdengar keras dan terasa sangat dekat dengan leher, membuat dia merinding. Sontak, gadis itu menoleh. Bara tiba-tiba membekap mulut Embun dan adegan selanjutnya sudah bisa ditebak. Ya, pagi itu, Embun diperkosa oleh pamannya sendiri. Teriakan dan tangisan tertahan dari gadis itu sama sekali tidak dipedulikan oleh Bara. Niatnya untuk melampiaskan hasrat terlarang sama sekali tidak surut. Rasa kasihan sudah menguar begitu saja dari diri laki-laki itu. Sungguh menyedihkan. Rasa sakit di tubuh Embun, kini semakin bertambah. Ulah sang ayah dan sekarang Bara ikut andil menyumbangkan rasa nyeri serta ngilu di dirinya. Bukan badan yang sebenarnya remuk redam, tetapi hati. Dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya Embun sayang dan sebaliknya menyayangi dia, itu jauh lebih menyakitkan daripada disakiti oleh orang lain. Dua pria yang sama-sama tak bisa lagi dia percaya. “Sudah lama aku nunggu-nunggu kesempatan ini. Sengaja aku bawa cewek-cewek ke sini sebagai pelampiasan. Aku selalu nggak tahan tiap kali lihat kamu, Mbun. Kamu itu cantik, menarik.” Bara masih bisa berkata dengan tenang setelah memperkosa keponakan sendiri. Pria itu mengenakan pakaian, lalu melempar beberapa lembar uang ratusan ribu ke arah Embun yang masih tidur tertelentang berbalut selimut. Sulit sekali untuk dia menggerakkan tubuh. “Pesan makan aja lewat online. Tuh, duitnya. Om mau ke kantor dulu sekarang, ada meeting penting.” Pria itu pun berlalu, meninggalkan Embun yang masih terkapar, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Kejam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN