Pertemuan Pertama

1435 Kata
Hanya ingin berjumpa lalu duduk berdua Bertukar cerita dan pulang bersama *** “Hei! Kok, kamu malah ngelamun?” Al membuyarkan lamunan Embun. Ini yang selalu terjadi setiap kali Embun dekat dengan seorang lelaki. Bayangan masa lalu, dua lelaki penting dalam hidupnya yang sudah memberikan tato permanen di hati dalam bentuk luka. “Nggak papa, Al. Sebetulnya, ada hal yang kamu belum tahu juga tentang masa laluku, Al. Suatu hari nanti, pasti aku akan cerita, tapi tidak sekarang, ya. Nggak masalah, kan?” Embun menatap pria di sampingnya yang sedari tadi tidak melepaskan genggaman. Sesekali, pria itu mengusapkan ibu jari di punggung tangan Embun yang sedang dia genggam. “Kapan pun kamu siap, Mbun. Lagian, masa lalu itu ya masa lalu. Kalau kamu merasa lebih nyaman untuk nggak dibahas, ya udah. Lupakan aja. Nikmati hidup, bahagia, dan lebih mikirin masa depan aja. Masa lalu kan udah terjadi. Yang udah ya udah. Kita juga nggak bakal bisa mengubah masa lalu, kan?” Sekilas, pemuda itu melirik ke arah Embun, lalu berkonsentrasi lagi pada jalanan di depannya. “Thanks,” ucap Embun lirih. Kamu terlalu baik. Apakah bisa kita hidup di langit yang sama? Melihat matahari dan bulan yang sama, tinggal di semesta yang sama, sedangkan aku berbeda. “Kamu yakin, nggak mau ditungguin?” “Nggak usah, Al. Kamu pulang aja, terus istirahat. Nanti aku kabari kalau sudah balik ke kosan,” jawab Embun. “Oke, deh. Sekarang ... kita sudah sampai.” Al menghentikan mobil tepat di pintu masuk kafe. Dia mengangkat tangan mungil yang sekarang ada dalam genggaman, mendekatkan ke bibir, dan mengecup dengan lembut. Embun tersenyum melihat sikap Al yang jelas-jelas berubah drastis. Seperti inikah rasanya diperlakukan dengan lembut oleh seorang pria? Kenapa kau tak hadir sejak dulu, Al, sebelum hatiku hancur dan berserak. Mungkin, aku akan menjadi Embun yang berbeda. Tidak seperti diriku yang sekarang. Ada getaran aneh mengalir dari kulit tangan yang tersentuh bibir pria itu, menjalar hingga ke seluruh tubuh. Dahsyatnya sebuah kecupan, mampu membuat merinding sekujur badan. “Kabari aku terus. Udah, buruan masuk. Sebentar lagi jatuh hujan,” ucap Al sembari melongok ke luar jendela. Cuaca berubah drastis. Tadi siang sepertinya panas sekali, kenapa tiba-tiba di sini mendung, kata Al dalam hati. “Hujan itu turun, bukan jatuh. Yang jatuh itu aku, ke hati kamu,” ucap Embun tulus. Bagaimanapun, dia bukan gadis berhati es. Melihat kesungguhan Al dan cara pria itu memperlakukan dirinya, tentu saja dia tersentuh. Embun sadar, bahwa dia mulai terjatuh, tergelincir begitu saja ke dalam relung hati seorang pemuda bernama Alaska. Belum sepenuhnya terperangkap, tetapi dia berharap bisa terpenjara selamanya. “Kamu bikin aku malu.” Al tersipu. “Udah, buruan sana. Masuk,” ucap Al menutupi rasa malu. “Gimana mau masuk, tanganku aja masih kamu pegangin kayak gitu. Lepas dulu, dong.” Embun terkekeh. Rupanya pemuda itu tidak sadar bahwa tangan dia masih menggenggam begitu erat. “hehehe, sori. Ya, udah. Masuk, gih,” ucap Al sembari melepaskan genggaman tangan. “Bye.” Embun menyempatkan mengusap rambut di atas telinga Al. Gadis itu bergegas masuk ke kafe karena memang hujan sudah mulai turun. Dia sedikit berlari. Al memandang dengan gemas dari balik kaca mobil. Dia menggigit bibir bawahnya. Asem. Sikapmu bikin semriwing, tapi aku nggak boleh ngapa-ngapain. Al menertawakan diri sendiri. Biasanya, dia yang cenderung agresif pada para gadis yang dia kencani. Kali ini, Embun selalu saja memancing rasa dan gairah, tetapi sama sekali tak bisa disentuh. Nasib ya nasib, mengapa begini? Dia melajukan kendaraan menuju rumah pamannya untuk mengembalikan mobil dan mengambil motor yang dia tinggalkan di sana. Sementara itu, setiba di dalam kafe, Embun mencoba menelepon Pandu. Tentu saja, karena dia belum tahu wajah pria itu. Dia sempat melihat foto profil Pandu di w******p, tetapi hanya menampilkan gambar gedung tinggi. Tidak ada foto pribadi. “Selamat datang. Untuk berapa orang, Kak?” Seorang pelayan kafe menyapa Embun dengan ramah. “Sebentar, saya nelpon dulu, ya,” ucap Embun. “Silakan, Kak,” jawab pelayan itu sambil tetap tersenyum. Embun menekan nomor telepon Pandu. “Ya, Mbak. Sudah sampai, ya? Saya di meja ujung kiri. Mbak masuk-” Pandu tidak menyelesaikan ucapannya karena dia sudah bertatap pandang dengan Embun. Pandu melambaikan tangan untuk memberi tanda. Embun balas melambai, tersenyum seraya menutup panggilan teleponnya. Dia melangkah mendekati meja Pandu. Pria itu bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan Embun. “Selamat malam, Mbak Embun. Saya Pandu,” ucap pria itu sembari mengulurkan tangan. Embun menjabat sekilas tangan pria itu. “Silakan duduk.” Pandu mempersilakan dan segera mengangkat tangan pada pelayan kafe, memintanya mendekat. “Siap, Pak. Mau pesan apa?” Pelayan itu sedikit membungkuk.   “Mbak Embun, silakan. Santai aja, pesan apa aja boleh, kok.” Pandu memandang takjub pada gadis itu. Ternyata cantik banget, lebih cantik daripada di foto, batin Pandu. Embun membaca sekilas menu di buku yang disodorkan pelayan kafe itu. “Chamomile tea,” ucap Embun singkat sambil melempar senyum. “Makan sekalian, Mbak. Atau ... camilan, mungkin. Saya juga sekalian makan, kok. Saya nasi goreng seafood, sama Toraja coffee, plus air mineral biasa.” Pria itu sengaja mendahului pesan makanan agar Embun tidak merasa canggung. “Baik. Kakaknya?” tanya pelayan itu lagi. “Saya ... chicken rice bowl aja sama air mineral biasa juga. Makasih, ya,” ucap gadis itu ramah. Gadis ini ramah, walaupun introvert. Keren, pikir Pandu. Pandangan mereka saling bertemu, membuat Pandu salah tingkah. Hatinya tiba-tiba berdesir, seolah ada angin dingin yang tiba-tiba meniup. Rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. “Jadi, bisa kita bicara sekarang?” Embun menatap pria itu. “Nggak enak bicara bisnis kalau minuman belum keluar, Mbak. Sambil nunggu, kita ngobrol santai aja dulu, ya.” Pandu tentu ingin lebih mengenal sosok dan kepribadian gadis itu. Dari situ, dia juga akan mampu menganalisa cara paling tepat untuk membujuk Embun menerima tawaran kerja sama. Cara Pandu mengenali kelemahan dan kekuatan lawan memang seperti itu. Hasil analisa sangat penting untuk bisa memenangkan negosiasi. “Mbak Embun aktivitasnya apa sekarang?” Pandu mulai membuka percakapan. “Saya kuliah, sambil kerja di Crown Hotel, bagian waitress. Dari mana Mas Pandu tahu tentang saya, nomor saya, dan-” “Nanti saya ceritakan setelah makanan dan minuman kita datang. Biar kita bisa lebih santai bicaranya.” Pandu memotong pembicaraan. Dia tidak ingin gadis itu tahu lebih banyak dulu sebelum dia sendiri berhasil mengumpulkan banyak informasi tentang Embun dari mulut gadis itu sendiri. Pandu butuh beberapa saat untuk menilai Embun dari sikap, gaya bahasa, dan gerak tubuh. “Sudah lama kerja di sana?” Pria itu mencoba bicara setenang mungkin, tidak menandakan bahwa dia sedang mengorek informasi pribadi dan menganalisa kepribadian Embun. “Hampir dua tahun, sejak lulus SMA.” Embun jadi merasa seperti calon karyawan yang sedang diwawancara. Dia hanya berhak menjawab, tanpa berhak bertanya. “Boleh saya tahu, apa keinginan dan cita-cita yang ingin Mbak Embun wujudkan dalam hidup ini? Sori, ini bukan kepo pada kehidupan pribadi. Anggap saja, kita sedang wawancara kerja. Karena memang kita ketemu malam ini, tidak jauh dari urusan kerjaan dan bisnis.” Pandu menjelaskan perlahan. Sebagai seorang pria, bertemu dan berhadapan sangat dekat dengan gadis secantik Embun, tentu sedikit merusak ketenangan batin. Namun, dia berusaha tetap tenang. “Saya hanya ingin lulus kuliah dengan lancar, bekerja dengan tenang. Itu saja untuk saat ini. Saya hidup tidak pernah berpikir muluk-muluk.” Tatapan Embun tetap lembut, tetapi tegas. “Sesimpel itu? Hanya itu?” Pandu sedikit terkejut. Gadis secantik dia, mestinya layak untuk punya mimpi yang lebih tinggi dan lebih indah. Jadi artis mungkin atau menikah dengan pria kaya yang mampu membuatnya hidup glamour. Tinggal di luar negeri, wisata keliling dunia, ah, masih banyak impian yang lebih indah dari sekadar lulus kuliah lalu bekerja. Bukankah lulus kuliah dan bekerja itu sudah merupakan perjalanan normal bagi manusia? Demikian pemikiran Pandu.   Jawaban Embun makin memikat hati pria itu. Manusia langka. Sangat sulit menemukan gadis seperti Embun di zaman serba materi seperti sekarang ini. Pemikiran dia terlalu sederhana. Tipe wanita idaman untuk dijadikan istri, pikir Pandu. “Sudah punya pacar?” Pria itu memberanikan diri untuk bertanya. Dia sendiri ragu, ini pertanyaan penting terkait pekerjaan atau demi memuaskan hasrat pribadi dia? Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa terkendali. Sebenarnya, tidak hanya Embun yang terkejut dengan pertanyaan itu, Pandu sendiri juga terkejut. “Haruskah saya jawab? Pertanyaan itu terkesan tidak relevan dengan urusan pekerjaan. Itu kehidupan pribadi saya,” tegas Embun. “Tidak usah dijawab kalau Mbak Embun memang tidak berkenan.” Pandu jadi salah tingkah. “Kan, kita hanya berbincang santai, belum masuk ke urusan pekerjaan. Saya hanya ingin mengenal lebih jauh dulu.” Pandu berusaha menutupi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN