Kamu tak terlupakan bagiku
Karena kamu punya hutang padaku
KAPAN BAYAR?
***
“Tentu saja, tidak akan saya jawab.” Embun menatap Pandu tepat di lingkaran hitam bola matanya.
Tatapan teduh yang bisa seketika berubah tajam dan menusuk. Rupanya, seperti inilah cara gadis itu melindungi diri. Dia bisa sekejap berubah, dari seekor angsa putih yang rupawan menjadi seekor harimau yang siap untuk melawan.
Suasana menjadi sedikit kikuk karena pertanyaan Pandu tadi. Untunglah, pelayan segera datang membawa pesanan mereka. Suasana kaku bisa segera buyar.
“Silakan, Mbak. Kita bisa berdiskusi sambil makan.” Pandu mencoba untuk mencairkan suasana.
Embun hanya membalas dengan anggukan dan mulai menyantap makanan, sembari menunggu Pandu melanjutkan pembicaraan. Dia memutuskan untuk berhenti berbicara.
Biar pria ini saja yang menjelaskan semuanya, batin Embun.
Pandu seolah mampu membaca maksud dan pikiran gadis itu. Dia segera menceritakan tujuannya menemui Embun. Dia ceritakan detail tawaran kerja sama yang dia tawarkan untuk gadis itu.
“Apakah orang yang menyewa rahim saya adalah owner perusahaan tempat Anda bekerja?” Embun berusaha setenang mungkin mengucapkan kalimat. Hatinya berontak, terkejut, tetapi juga ingin tahu lebih banyak tentang urusan ini.
“Saya tidak bisa mengatakan apa-apa. Kebetulan, saya memang bekerja di PT tersebut. Namun, bisa dibilang urusan ini di luar urusan pekerjaan. Saya sengaja menyebutkan perusahaan tempat saya bekerja, hanya sebagai pertimbangan saja untuk Mbak Embun bahwa saya bukan orang yang tidak jelas. Tentang saya, juga bisa diakses atau diselidiki dengan sangat mudah. Tapi sekali lagi, ini tidak ada urusan dengan pekerjaan dan perusahaan tempat saya bekerja.”
Pandu memberikan penjelasan dengan tegas. Tentu saja, dia harus melindungi kerahasiaan identitas kedua bosnya, Kala dan Lady.
“Jadi, saya tidak boleh tahu siapa yang bekerja sama dengan saya?”
“Tentu tidak, Mbak. Semua itu untuk menghindari resiko dan melindungi kepentingan semua pihak. Ini, saya bawakan salinan perjanjiannya. Mbak Embun bisa membaca dan mempelajarinya pelan-pelan. Santai saja.” Pandu mengulurkan sebuah amplop cokelat.
Embun menerima amplop itu, mengeluarkan tiga lembar kertas putih di dalamnya, lalu membaca pasal demi pasal perjanjian yang tertulis berderet rapi.
“Mbak bisa sampaikan pasal-pasal mana yang keberatan, perlu dikurangi atau ditambahi.” Pandu sedikit kelu menyampaikan kalimat.
Gadis ini sangat cantik. Semoga saja dia mau menerima kerja sama ini, lalu menikah denganku. Aku tidak keberatan menerima dia sebagai istriku. Pandu berharap dalam hati.
“Boleh saya bawa pulang untuk saya pelajari?” Tatapan Embun masih belum beralih dari kertas di tangannya.
“Maaf, tidak bisa. Mbak Embun bisa membaca sambil saya tunggu di sini. Lama juga nggak papa, kok,” ucap Pandu.
Lumayan, bisa melihat wajah kamu yang cantik di depanku, ucap Pandu dalam benaknya. Dia memang tidak merasa keberatan jika harus berlama-lama memandang wajah Embun. Cinta pada pandangan pertama? Entahlah. Pandu juga belum pernah jatuh cinta sebelumnya.
Pandu mengulurkan pena pada gadis itu. “Mungkin butuh untuk coret-coret, atau apa.”
Benar saja, Embun terlihat menulis beberapa hal dan memberi tanda pada bagian-bagian tertentu di kertas perjanjian.
Cukup teliti juga rupanya si cantik ini, batin Pandu yang matanya tak lepas dari Embun. Dia terus menatap lekat.
“Saya belum bisa memberikan jawaban tentang setuju atau tidak karena ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan dan perlu saya nyatakan. Pertama, saya terima uang satu milyar. Soal ini, saya maunya lima milyar karena resiko dan kerugian saya cukup besar.” Embun memulai negosiasi.
Pandu segera merekam apa yang Embun sampaikan.
“Sebentar, Mbak. Biar saya rekam sebagai bukti dan bahan diskusi dengan si penyewa. Jangan sampai mereka mengira ini adalah kemauan saya.” Pandu menyetel telepon genggamnya ke perekam audio, lalu meletakkan di atas meja, dekat ke arah Embun.
“Diulangi lagi, Mbak,” perintah Pandu.
“Pertama, saya mau minta lima milyar rupiah sebagai imbalan atas kesediaan saya bekerja sama dengan mereka. Kedua, saya harus mengasingkan diri di vila? Kenapa?”
“Saya bantu jawab, ya, Mbak. Agar urusan ini tetap jadi rahasia kita, tidak melibatkan siapa pun, maka Mbak Embun perlu disendirikan, jauh dari jangkauan dan komunikasi dengan pihak luar. Tidak ada yang boleh tahu. Ini bukan hanya demi kerahasiaan kerja sama ini, tapi juga demi Mbak Embun juga.
Coba bayangkan, kalau Mbak Embun tetap di sini. Pas keluar rumah, ketemu sama orang-orang yang Mbak Embun kenal. Mereka akan bertanya-tanya, Mbak Embun hamil sama siapa? Mbak Embun menikah sama siapa? Ini tentu akan mengganggu kehidupan Mbak Embun juga.
Belum lagi, nanti setelah melahirkan, orang akan bertanya-tanya lagi. Bayi Mbak Embun ke mana? Dibuang? Diadopsi orang? Dibunuh? Digugurkan? Terlalu banyak kerumitan yang akan terjadi. Tidak hanya akan mengganggu kehamilan karena Mbak Embun stres dan tertekan, tetapi juga akan sulit untuk Mbak Embun memulai hidup baru lagi pasca melahirkan.
Karena itulah, kami mengajukan solusi seperti itu. Aman untuk semua pihak.” Pandu menegaskan.
Apa yang dijelaskan oleh Pandu bisa Embun mengerti. Memang benar alasan itu. Akan jauh lebih mudah jika tidak ada seorang pun yang tahu tentang kehamilan dia. Nanti setelah melahirkan, dia bisa menata hidup baru lagi. Orang tidak ada yang bertanya-tanya. Anggap saja, dia merantau luar kota selama satu tahun. Toh, dia juga tidak banyak mengenal orang. Lingkungan dia hanya seputar kampus dan tempat kerja.
“Kalian mau membunuh saya setelah melahirkan?” tanya Embun curiga. Bagaimanapun, dia tidak mengenal orang-orang yang mengajaknya bekerja sama.
Tentu saja, dia patut curiga. Apalagi, tidak seorang pun tahu tentang perjanjian mereka ini. Akan sangat mudah bagi mereka untuk melenyapkan dia begitu saja. Lebih baik dia bertanya, daripada mengganjal di dalam hati.
“Wah, nggak bakal, Mbak.” Pandu sangat terkejut. Tidak menyangka pertanyaan itu akan terlontar dari bibir manis dan menggiurkan itu.
“Bisa saja, kan? Toh, nggak ada yang tahu tentang perjanjian kita. Sepertinya, kalian sangat ingin merahasiakan hal ini. Membunuh saya, tentu jadi jalan terbaik dan termudah untuk kalian, kan?” ucap Embun seraya menatap penuh selidik.
“Yang kami inginkan hanyalah sewa rahim. Kalau niatnya hanya membunuh, sekalian saja kami culik Mbak Embun dari awal. Tidak perlu repot-repot bernegosiasi seperti ini.” Pandu tidak kalah akal untuk menjawab.
Hmmm, betul juga, pikir Embun.
“Setelah melahirkan, saya tidak boleh sama sekali melihat bayi saya?”
“Tidak sama sekali. Ini untuk menjaga resiko Mbak Embun tidak tega dan lain-lain,” ucap Pandu.
Gila, ternyata gadis ini bisa tenang membahas perjanjian. Sepertinya, dia berminat untuk bekerja sama. Tidak kusangka akan semudah ini, ucap Pandu dalam hati.
“Semua kebutuhan saya akan dicukupi selama hamil. Saya tidak boleh keluar sama sekali dari vila?” Tatapan Embun masih tetap berkutat di deretan huruf, tanpa memedulikan Pandu yang terus menatapnya dengan penuh kekaguman.
“Stres harus dihindari oleh ibu hamil. Jadi, Mbak Embun diizinkan keluar jalan-jalan, tapi tidak boleh bertemu dan berkomunikasi dengan siapa pun yang Mbak Embun kenal. Akan ada orang yang menemani Mbak Embun selama di vila, juga untuk jalan-jalan. Dia juga akan memastikan kebutuhan Mbak Embun tercukupi, mengawasi kesehatan Mbak Embun dan janin juga. Ingat, ini janin mereka. Mereka tentu ingin bayinya tumbuh sehat dan tanpa masalah.” Pandu kembali menegaskan.
“Kalau begitu, saya minta vila yang disiapkan untuk saya ada di luar pulau Jawa. Ya, untuk menghindari tanpa sengaja saya bertemu dengan orang yang saya kenal. Kalau masih di sekitaran Jabodetabek, saya rasa masih besar kemungkinan untuk bertemu tanpa sengaja dengan orang-orang yang saya kenal atau mengenal saya.”
Embun berpikir, jika dia menerima tawaran ini, Alaska pasti akan jadi penghalang utama. Kalau harus terjun, maka terjunlah dengan sungguh-sungguh. Tak boleh kepalang tanggung. Al bisa saja mencari dia ke mana-mana. Lebih gila lagi, Al bisa saja menyebarkan foto dia ke mana-mana. Tentu tidak aman kalau masih di sekitaran Jabodetabek.
“Tapi, dokter yang akan menangani Mbak Embun ada di Jakarta. Mmmh, coba saya bicarakan lagi nanti dengan para penyewa, ya. Usulan Mbak Embun bagus juga, sih, sebetulnya.” Pandu semakin kagum dengan pemikiran teliti gadis itu.
“Lampung bukan tempat yang jauh dari Jakarta. Naik pesawat juga nggak sampai satu jam. Sepertinya, Lampung akan jadi pilihan lokasi yang paling tepat. Saya mau vila di tepi pantai, di Lampung.” Embun memberikan usul. “Toh, tidak setiap hari kontrol ke dokter, kan? Saya rasa masih sangat memungkinkan. Saya lebih suka vila di pinggir pantai daripada perbukitan.”
“Baik, Mbak. Nanti akan saya sampaikan. Ada lagi?” Pandu menenggak air mineral langsung dair botolnya. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering melihat sikap Embun dan semua kalimat yang gadis itu luncurkan.
Embun memilih Lampung karena beberapa kali dia berbincang ringan dengan tamu ketika di tempat kerja. Dia mendapatkan banyak informasi dari sana. Jadi, dia tahu bahwa waktu yang harus ditempuh untuk perjalanan menggunakan pesawat dari Jakarta ke Lampung, tidaklah lama.
Lampung memiliki beberapa area vila yang sepi dan sangat privacy. Cocok untuk mengasingkan diri sesaat tanpa perlu merasa bosan. Bukan mal atau tempat lain yang ingin Embun datangi. DIa ingin suasana alam yang tenang dan hening.
“Syarat terakhir saya, saya mau bicara dulu dengan dokter yang akan menangani masalah ini,” ujar Embun sembari memasukkan kembali kertas perjanjian itu ke dalam amplop. Dia mengulurkan kembali amplop cokelat itu pada Pandu.
“Kenapa harus bertemu dulu dengan dokter?” Pandu heran dengan permintaan terakhir Embun.
“Saya mau memastikan tubuh saya sehat dan tentu berkonsultasi dengan dia. Saya ingin bicara berdua dengan dokternya. Hanya berdua. Kalau dokter menyatakan saya layak untuk perjanjian ini, insya Allah saya akan tanda tangani perjanjian ini segera. Setelah saya menandatangani, saya minta uang muka pembayaran sebesar satu milyar rupiah. Sisanya, bisa dibayar setelah saya melahirkan.”
Pandu terkesiap memandang Embun. Gadis itu bisa melontarkan semua kalimat dengan sangat tenang, seolah sedang berbicara tentang kisah dalam novel saja. Padahal, ini adalah keputusan besar tentang hidupnya. Dia seolah tidak terbebani sama sekali.
“Uang muka?” Pandu mengernyitkan dahi.
“Ya. Kalian sudah menyelidiki saya. Pasti kalian sudah tahu bahwa saya punya banyak utang yang harus segera dilunasi. Saya perlu uang muka itu untuk menyelesaikan semuanya sebelum saya menghilang. Saya harus jadi orang yang bertanggung jawab. Tidak mungkin lari dan melupakan utang begitu saja.
Selain itu, saya tidak mau kepikiran apa-apa. Saya mau menjalani perjanjian ini dengan tenang. Selesai perjanjian, saya juga akan menata hidup saya lagi. Seperti saya bilang tadi, impian saya adalah menyelesaikan kuliah, lalu bekerja dengan tenang. Saya akui, hidup saya sedang sulit saat ini. Saya kondisi terjepit. Perjanjian ini bisa dibilang berkah dan bantuan tiba-tiba yang sama sekali tidak saya duga.
Kerja sama ini memberi saya harapan bahwa nantinya saya bisa kuliah sampai selesai tanpa bingung memikirkan biaya, lalu mencari dan mendapatkan pekerjaan, hidup tenang. Karena itu, kalian tidak perlu khawatir. Saya ingin perjanjian ini terlaksana dengan baik. Sama-sama menguntungkan untuk semua pihak.”
Ya, sekadar menyewakan rahim, apa susahnya untuk dia? Begitu pemikiran Embun. Toh, hanya dipinjam sebentar. Tidak sampai satu tahun. Namun, kerja sama ini akan membuat hidupnya berubah drastis. Dia punya peluang untuk hidup tenang, bahkan selamanya. Semua masalah utang bisa terselesaikan. Masalah biaya kuliah juga akan teratasi. Tidak ada yang dirugikan.
“Saya paham. Utang itu bukan mantan. Jadi, tidak boleh dilupakan seenaknya. Saya rasa, para penyewa juga pasti menyetujui hal ini. Saya berani memberikan garansi. Mereka tidak akan keberatan,” jawab Pandu meyakinkan.
“Untungnya, saya belum pernah punya mantan.” Embun tersenyum simpul menanggapi omongan Pandu.
“Wah, belum pernah pacaran berarti ya, Mbak. Syukurlah, nggak ngerasain kehilangan. Pacar itu seperti bolpen di kelas, Mbak. Kalau nggak hilang, ya diambil teman.” Pandu terkekeh.
Gadis ini masih bisa santai dan berkelakar di situasi seperti sekarang ini. Benar-benar gadis yang kuat, walau sudah cukup lama hidup susah, puji Pandu dalam hati.