Pintu Hati

1417 Kata
Hidup adalah mimpi untuk orang bijak Permainan bagi orang yang tolol Komedi bagi yang kaya Dan tragedi untuk si miskin *** Embun dan Pandu masih asyik berbincang. Percakapan serius tentang pasal-pasal perjanjian sudah selesai mereka lakukan. Kini, hanya berbincang ringan seputar perjanjian maupun kehidupan pribadi masing-masing. “Kenapa saya yang dipilih sama para penyewa? Dari mana mereka tahu soal saya?” Embun tentu saja penasaran. “Mbak bisa menebak bahwa penyewa pasti bukan orang sembarangan. Jadi, apa yang tidak bisa mereka lakukan dengan uang? Mengumpulkan informasi, sampai di titik terdalam sekalipun, buakn hal sulit bagi mereka. Semua proses itu mereka lakukan, hingga akhirnya memang Mbak Embun yang dirasa paling cocok sebagai kandidat. Kami sudah melakukan penyelidikan cukup mendalam tentang kehidupan Mbak Embun selama beberapa hari ini,” jawab Pandu yang segera menyesap minuman untuk sedikit mengurangi debar di jantungnya. “Sejauh apa yang kalian tahu?” Embun sedikit berdebar mendengar area pribadinya dimasuki tanpa permisi oleh orang lain, bahkan orang-orang yang tidak dia kenal. “Cerita almarhum ayah Mbak Embun, pekerjaan, dan kuliah. Hanya sebatas itu, kok. Kalau penyelidikan tidak salah, Mbak Embun juga sedang dekat dengan seorang pemuda bernama Alaska. Tapi, sepertinya kalian bukan pacaran,” pancing Pandu. “Hari ini kami jadian. Karena itulah, saya mau tinggal di luar pulau saja kalau jadi mengambil tawaran kerja sama ini. Saya harus menghindar dari dia. Tidak bisakah saya sekedar telponan sama dia selama hamil?” Embun baru saja jadian, lalu harus tiba-tiba meninggalkan Alaska, tentu berat. Dia juga merasa kasihan pada Al. Pemuda itu sudah terlihat sangat bahagia, bahkan mau berubah jadi lebih dewasa. Apa jadinya kalau dia tiba-tiba meninggalkan Al begitu saja?   Pasti berat dan menyakitkan untuk Al. Alasan apa yang harus kubuat agar dia tidak menderita dan tidak terus mencari-cari? “Terlalu beresiko, Mbak. Sebaiknya, kalian segera putus saja. Bilang saja, Mbak Embun belum siap untuk pacaran dan diterima kerja di luar negeri selama satu tahun. Kalau dia sungguh-sungguh cinta, pasti mau nunggu selama satu tahun.” Pandu sedikit kecewa mendengar pengakuan Embun soal Alaska. “Tapi setahun tanpa komunikasi, apa dia bisa? Saya juga tidak mau menyakiti hati dia. Alaska sudah sangat baik pada saya.” Embun menunduk lesu. “Kirim email saja, masih aman. Saya bisa usulkan itu di perjanjian. Saya yakin, ada peluang untuk disetujui. Tapi kalau telepon, sms, WA, apalagi video call, jelas tidak mungkin.” Pandu mencoba menegaskan. Dia paham situasi yang harus Embun hadapi sekarang. “Tidak sampai satu tahun. Hamil kan hanya sembilan bulan. Anggap saja tambah dua bulan dengan semua prosesnya. Just an eleven months,” ucap Pandu lagi. “Kalau setelah project selesai ternyata dia sudah berpaling ke hati yang lain, saya rasa Mbak Embun pasti akan dapat laki-laki lain juga yang jauh lebih baik dari Alaska. Gadis secantik Mbak ini, pasti tidak sulit untuk menemukan pria yang baik dan berkualitas.” “Menemukan yang baik dan berkualitas memang tidak sulit. Yang sulit adalah hati saya yang tak mudah menerima siapa pun,” kata Embun. Dengan pengalaman hidup Embun, tentu sangat tidak mudah untuk menerima seseorang masuk dalam wilayah hatinya, bahkan sekadar berteman. Alaska hadir seperti gerimis yang menenangkan. Tidak terlalu deras hingga membuatnya takut. Tidak terlalu dingin, hingga membuatnya membeku. Tidak terlalu berisik, hingga membuatnya ricuh. Kehadiran Al mampu memberikan kesejukan di hati Embun. Seperti gerimis membasahi tanah kering di hati gadis itu. Ibarat gerimis yang mampu menutupi tangis, walau tak sepenuhnya mengikis. Belum mencinta, bukan berarti mustahil untuk jatuh cinta. Belum merindu, tak selalu muskil untuk nanti didera rindu. Dengan semua kelebihan, kebaikan, dan kelembutan pemuda seperti Alaska, Embun pun mungkin akan luluh, walaupun dia berbeda dengan gadis lain pada umumnya. “Mbak Embun benar-benar cinta sama Alaska, ya?” Pandu harap-harap cemas menantikan jawaban dari bibir ranum itu. “Dia baik dan mungkin saja saya bisa jatuh cinta padanya suatu saat nanti. Kami hanya butuh waktu bersama dengan intensitas yang lebih dalam dari sebelumnya.” Jawaban Embun sudah mampu menegaskan bahwa gadis itu belum mencintai Alaska. Masih ada peluang bagiku, tekad Pandu dalam hati. “Fokuskan saja dulu perhatian Mbak Embun pada kerja sama ini. Masa depan akan jauh lebih baik jika kerja sama ini berhasil. Mbak Embun bisa melunasi semua utang untuk kemudian meraih impian dan cita-cita seperti yang Mbak katakan tadi. Kuliah, bekerja, hidup dengan tenang. Mbak bisa investasikan sejumlah uang tadi untuk menjamin kehidupan. Nanti, kita bisa sharing-sharing. Insya Allah, saya siap membantu.” Pandu bertekad untuk mendekati gadis itu, terlepas dari dia mengambil kesepakatan sewa rahim ataupun tidak. “Makasih, ya. Saya akan pikirkan lagi nanti. Pastikan saja semua syarat tadi dipenuhi dan yang paling penting, saya mau bicara dulu dengan dokternya,” tegas Embun. “Baiklah. Saya segera kabari Mbak Embun kalau begitu.” Pandu sedikit merasa janggal. Gadis di hadapannya berkali-kali menekankan tentang dokter. Apakah dia punya penyakit tertentu? “Mbak, tapi sebelum perjanjian ditandatangani, memang akan dilakukan tes fisik dan kesehatan. Maaf, jangan tersinggung. Apa Mbak Embun ada penyakit tertentu?” tanya Pandu hati-hati. “Insya Allah tidak ada. Saya sehat. Saya ingin bertemu dokter supaya lebih tahu proses sewa rahim ini seperti apa. Saya perlu mempertimbangkan kesehatan saya juga untuk ke depannya.” Embun seolah tahu arah pembicaraan Pandu. “Oh, syukurlah. Ya, saya bisa paham kalau Mbak Embun perlu berkonsultasi dulu dengan dokter. Satu lagi pertanyaan penting, tapi amat sangat sensitif sebetulnya untuk ditanyakan. Mohon, jangan tersinggung ataupun marah,” ucap Pandu dengan sedikit ragu. “Tanya saja. Kalau saya berkenan, saya jawab. Kalau tidak, ya tidak.” Pandu masih memandang Embun dengan ragu. “Nggak papa. Tanya saja,” ucap Embun lagi. “Maaf banget sebelumnya. Saya lihat Mbak Embun ini gadis yang sangat tertutup dan menjaga diri. Mmmhhh, apakah ... Mbak, aduh nggak enak saya nanya.” Pandu mengembuskan napas panjang. “Kalau Mbak masih perawan, gimana nanti untuk hamilnya?” Pandu nekat mengeluarkan kalimat tersebut. Segera disambarnya minuman untuk melegakan tenggorokan yang tiba-tiba seperti tercekik. Embun terkesiap. Dia tidak menduga kalau pertanyaan seperti itu yang akan dilontarkan oleh Pandu. Dia ikut-ikutan menenggak minuman. “Saya sudah nggak perawan,” ucap Embun setelah beberapa saat mencoba untuk menenangkan diri. Pandu tak mampu bersuara. Sebaik apa pun ditutupi, lelaki itu bisa melihat kilatan luka dalam pandangan dan suara Embun. Sepertinya dia pernah mengalami hal buruk, kasihan sekali. Pandu mencoba mengalihkan pembicaraan. “Ya, sudah. Semoga semua urusan ini berjalan dengan baik, ya. Kita bisa saling memberi manfaat dan tidak ada pihak yang dirugikan. Mbak Embun, saya antar pulang sekalian, ya.” Pandu menawarkan diri. “Nggak usah repot-repot. Saya naik taksi online saja,” tolak gadis itu. “Nggak perlu sungkan, Mbak. Saya punya kewajiban menjaga keselamatan dan kesehatan Mbak Embun sampai project ini selesai. Sudah jadi bagian dari tugas saya, kok.” Tentu saja Pandu mengarang alasan. Tanda tangan perjanjian saja belum. Embun mengangguk. Mereka bangkit dari duduk masing-masing dan menuju pintu kafe setelah Pandu menyelesaikan pembayaran. Hujan ternyata sudah turun dengan cukup lebat. “Mbak tunggu sini aja. Saya ambil mobil, biar Mbak Embun nggak basah.” Pandu melepas jas yang dia kenakan, lalu mengulurkan pada Embun. “Untuk apa?” Gadis itu keheranan. “Tutup kepala sama badan. Jangan sampai sakit.” Tanpa menunggu jawaban, Pandu segera berlari keluar dan masuk ke dalam mobil dengan tergesa. Begitu mobil mendekat, Embun menggunakan jas Pandu sebagai penutup kepala dan tubuh, lalu segera berlari masuk, duduk di samping pria itu. “Lumayan deres, ya. Makasih, Mas. Eh, Pak Pandu,” ucap Embun kikuk. “Panggil mas saja, lebih enak didengar.” Pandu tersenyum menahan jantung yang mulai berdetak tak beraturan. “Oke. Kalau gitu, panggil saya Embun saja, ya. Jangan pakai mbak,” balas Embun. “Sip.” Pandu beringsut mendekat. “Biar saya pasang sendiri sabuk pengamannya,” cegah Embun dengan sigap. Dia sudah paham bahwa pria biasa mencari perhatian dengan cara seperti itu. Sial, tahu aja. Padahal, pengen romantis kayak di film Korea, umpat Pandu dalam hati. Pandu mengangguk sambil tersenyum. “Hobinya apa, Mbun?” Pandu bertanya sembari melajukan kendaraan setelah dia mengatur GPS di mobil, sesuai alamat Embun. “Bentar. Kok, tahu alamat kos saya?” Embun heran karena dengan santai pria itu mengetikkan alamat kosnya tanpa bertanya. “Kan, sudah masuk di penyelidikan, Mbun.” Pandu tersenyum. “Oh, baiklah. Hobi, cuman membaca, apa pun itu. Saya suka jalan-jalan di alam. Sayangnya, tidak banyak kesempatan untuk melakukan itu.” “Nanti setelah project ini selesai, kamu bisa lakukan semua itu. Hiduplah dengan tenang dan bahagia. Saya berdoa yang terbaik untukmu, Mbun.” Pandu berucap tulus.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN