Janjiku

1283 Kata
Tak ingin melukaimu dengan hadirku Tak ingin menyayatmu dengan dekatku Aku yang memilih tiada Aku yang memilih terlupa *** Embun dan Pandu berbincang tentang banyak hal sepanjang perjalanan. Tak ada lagi pembicaraan serius, hanya obrolan ringan untuk saling mengenal satu sama lain. Mereka sesekali tertawa dengan pengalaman-pengalaman lucu mereka berdua. Dua manusia yang sama-sama tertutup, tetapi kali ini seolah menemukan teman yang satu frekuensi dengan mereka. “Makasih ya, Mas Pandu. Tuh, kosan saya.” Embun menggerakkan telunjuk, mengarah pada deretan bangunan yang berjarak sekitar dua puluh meter dari tempat mereka sekarang. Sengaja Embun minta berhenti di situ agar tidak ada omongan tetangga karena melihat dia pulang bersama pria tak dikenal, bermobil pula. “Ini masih hujan. Apa nggak sebaiknya saya antar sampai ke depan kos, Mbun?” Pandu menoleh ke arah gadis itu. Nanti cantikmu luntur. Kan, sayang, batin Pandu. “Santai aja, Mas. Saya ini bukan mermaid yang kalau kena air terus kaki saya berubah jadi sirip. Kehujanan sebentar, langsung dibilas. Aman, kok.” Dia tertawa kecil. Gadis itu sedikit heran. Dia bisa berkomunikasi dengan santai pada Pandu yang baru saja dia kenal. Tidak biasanya seperti ini. Bahkan, rekan kerja Embun yang sudah hampir dua tahun bersama, belum tentu bisa membuat dia santai untuk mengobrol lama. Bertemu Pandu seolah bertemu dengan kawan lama yang memang sudah akrab sebelumnya. Mungkin, pembawaan dia yang hangat dan bersahabat, membuat siapa pun mudah merasa dekat dan nyaman, pikir Embun. “Haha, bukan gitu. Kasihan aja kamu harus lari-lari. Yakin, diantar sampai sini doang? Jas saya bawa aja.” Pandu berusaha meraih jas yang dia lemparkan ke jok belakang. “Nggak usah, Mas.” Embun menahan tangan itu. Selama beberapa detik, mereka saling terpaku. Tatapan saling beradu, tiba-tiba menghadirkan rasa hangat yang menggeliat di wajah dan sekujur tubuh di saat hujan seperti ini. Pandangan Pandu terpenjara dalam netra Embun yang mampu menghadirkan kedamaian. Ingin rasanya tetap tinggal di sana. Teduh, tenang, dan menentramkan. Izinkan aku bersemayam dalam damaimu, ucap Pandu dalam hati. “Eh, maaf. Saya pulang dulu, Mas. Sampai ketemu lagi, ya.” Embun segera turun dari mobil dan berlari kecil. Pandu hanya mampu memandangi punggung gadis itu menjauh. Tubuhnya mematung, masih seperti tadi. Hanya mata yang bisa terus bergerak mengikuti langkah Embun. Gadis itu berlari bukan hanya menghindari hujan, tetapi lebih tepat menghindari pesona Pandu yang mulai menghanyutkan dirinya. Mata itu. Tenang, tapi menghanyutkan. Ada hasrat yang siap menghisap dan menelanku utuh. Melumatku dengan penuh dan seluruh. Aku takut, rintih Embun dalam hati. Embun takut tak mampu menolak gairah itu. Tatapan netra Pandu seperti pasir hisap yang bergeming. Diam di dalamnya, akan membuat gadis itu terperosok secara perlahan. Namun, jika dia melawan dengan keras, hanya akan membuat semakin dalam terperangkap ... dan makin cepat. Pandu meninggalkan tempat itu setelah memastikan Embun masuk dengan selamat di rumah petak sederhana tempatnya tinggal. Embun menutup pintu kos dan menyandarkan punggung di balik pintu. Dia berusaha keras untuk mengatur napas yang lebih memburu dari biasanya. Tuhan, selama ini aku sulit merasa nyaman dengan seorang pria. Kenapa kini kau hadirkan dua rasa, dua pria, di hari yang sama? keluh Embun dalam hati. Embun bergegas meletakkan tas, lalu menuju kamar mandi. Dia berusaha menyegarkan pikiran dengan mengguyur air dingin di seluruh tubuh, dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Selama beberapa puluh menit, dia membiarkan dirinya berdiri di bawah shower. Ini memang bukan cinta. Ini hanya sebatas rasa aman dan nyaman. Bersama mereka, aku merasakan itu. Mereka membuatku jauh dari rasa luka. Segudang masalah di depan, seolah tak lagi ada. Beban berat menjelma menjadi seringan bulu tertiup angin. Selesai mandi, Embun mengambil telepon genggam dari dalam tas. [Aku udah di kosan.] Dikirimkannya pesan singkat itu ke Alaska. Brrr .... Brrr .... Nampak wajah Alaska sedang rebahan di atas kasur. “Tumben video call,” kata Embun. “Ya, dong. Masa sama pacar telponan doang. Rugi amat, nggak bisa liat wajah cantikmu yang bikin aku merindu,” jawab Al. “Sok romantis.” Embun tertawa ngakak. “Udah ketemu sama orangnya? Siapa namanya? Terus mau ngapain?” Lelaki itu bangkit, duduk ,dan bersandar di dinding kamar. “Sabar, Pak. Satu per satu nanyanya. Jadi gini, intinya aja, ya. Mereka nawarin aku untuk beasiswa ke luar negeri sambil kerja part time di tempat mereka. Cuma diploma satu, sih, Al. Aku jawab, masih pikir-pikir.” Embun terpaksa mengarang cerita, jika memang ini tak layak dianggap sebagai sebuah kebohongan. “Mereka nawarin itu? Kok, bisa? Kenapa kamu?” “Aku dulu pernah isi-isi formulir. Juga tes di beberapa tempat memang terkait beasiswa, Al. Kan, kamu tahu, aku memang pengen banget kuliah. Nah, salah satu dari tes yang kulalui itu, ya beasiswa yang mereka tawarkan sekarang ini. Nggak gratis, sih. Aku harus kerja di tempat mereka selama dua tahun sebagai gantinya. Menurut kamu, gimana, Al?” Embun memancing pendapat Al tentang ini. “Setahun doang? Apa dua tahun di luar negerinya?” Al malah balik bertanya. “Satu tahun doang di luar negeri, Al. Habis itu balik ke Jakarta, kerja di mereka selama satu tahun.” “Hmmm, kamu minat? Kalau memang pengen, nggak papa kamu ambil, Mbun. Kesempatan nggak datang dua kali, lho. Aku masih kuat kok nahan rindu satu tahun. Asal kamu janji untuk nggak aneh-aneh dan nggak ninggalin aku.” Alaska mengurai senyum, tetapi tetap saja ada kilatan sendu di kedua matanya. Baru juga jadian, masa udah ditinggal, pikir dia. “Kamu yakin, Al? Nggak marah, kan? Memang sih hanya satu tahun, kok. Kalau soal nggak ninggalin, aku jelas nggak bisa janji.” Embun berbicara sambil mengangkat satu alisnya. “Kenapa nggak bisa janji? Kamu mau cari cowok lain di sana? Nggak ada yang lebih ganteng dari gue. Gue yang the best buat elo, Mbun!” Lelaki itu terlihat gusar. “Ya, namanya aja beda negara. Kalau nggak ninggalin, gimana caranya? Aku tetep di Jakarta dong namanya. Hihihi. Serius amat sih, Om.” Embun terkekeh melihat Al yang terkejut dengan guyonan dia. “k*****t. Awas ya, ngerjain aku. Bikin panas dingin tau omonganmu tadi!” Al pura-pura cemberut. “Cie cie, yang ambekan. Jadi, gimana, Al? Boleh aku pergi satu tahun?” “Boleh, asal cuma satu tahun. Nggak lebih,” jawab Al tegas. “Udah maem?” Alaska memandang lembut wajah gadis yang memenuhi layar gawainya. “Udah. Tadi ngobrol sekalian makan, kok. Kamu udah juga, kan?” “Aseeeeek. Sekarang ada yang nanyain aku udah makan apa belum. Huhuiiii.” Al bersorak. “Hahaha. Dasar. Norak, ih. Kan, cuman nanya doang, bukan mo nyuapin.” Embun tergelak. “Oh, jadi mau nyuapin juga, ya. Besok, ya. Hahaha.” Al malah menggoda. “Eh, Mbun. Napasku tadi pas pulang sesak banget. Susah buat napas lega,” kata Al sembari memegangi d**a. Pemuda itu sedikit mengernyitkan dahi. “Serius? Masuk angin kali, Al. Minum anget, terus badan dibalur sama minyak angin. Selimutan. Tidur sana, gih,” ucap Embun terlihat khawatir. “Bukan masuk angin, tapi karena kamu pergi. Separuh napasku kan ada di kamu. Eaaa ....” Al bersorak girang, berhasil memperdaya Embun. “Adududuh. Sakit gigi dan sakit hati itu sama-sama diawali dari yang manis-manis. Please, ya. Jangan bicara dan janji manis, untuk kemudian sisakan sakit,” tukas Embun. “Aku janji, nggak bakal bikin kamu sakit hati. Aku janji, akan selalu berusaha membuatmu bahagia. Sudah cukup kamu hidup menderita, Mbun. Aku ingin mengganti semua air mata kesedihanmu menjadi air mata kebahagiaan. Kita adalah dua masa lalu yang berbeda, ditakdirkan untuk satu masa depan yang sama. I promise you,” kata Al tulus. Gadis mana yang tidak akan meleleh mendengar itu semua. Hati membeku sekeras batu sekalipun, tak ayal akan mencair seketika. Begitu pula dengan Embun. Serpihan hati, kepingan harap, perlahan mulai tersusun di tempatnya.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN