Hari sudah semakin sore. Sebentar lagi, senja akan melahap matahari dan mengundang malam untuk segera datang. Al sempat terlelap hampir satu jam karena belaian lembut tangan lentik Embun di rambutnya. “Anterin aku pulang, ya. Aku belum mandi. Lengket ini, Al.” Embun tersenyum melihat wajah Al masih sendu, belum sepenuhnya hilang rasa kantuk. “Sebentar, aku cuci muka dulu, ya.” Al beranjak lalu melangkah menuju kamar mandi. Embun menandaskan air mineral yang tadi sempat diambilkan oleh Al. Keluarga Al benar-benar keluarga sempurna bagi seorang gadis yang mengalami cobaan seberat Embun. Sebenarnya, kalau dia sampai menikah dengan Al, sudah pasti hidupnya bahagia. Dengan uang yang didapat dari menyewakan rahim, dia bisa membuka usaha kecil-kecilan bersama Al. Dia juga akan mencoba mengi

