Sesat Penuh Nikmat

1518 Kata
Ada rindu yang aku hirup dalam petang teramat redup bercampur rasa takut beraduk sejuta kalut *** “Ya, udah. Ngapain lo di sini? Udah, pulang aja. Kan, gue yang pengen makan mie, bukan lo. Udah deh, jangan ribet. Besok kita kontakan lagi, ya. Bye, my second love.” Lady membisikkan kalimat terakhir dengan lembut di telinga Broto. Wanita itu segera berlalu sembari melambaikan tangan. Broto memandang kepergian wanita itu dengan sedikit heran. Lady seolah tak memiliki beban sedikit pun tentang perselingkuhan ini. Dia menjalani semua, seolah normal-normal saja dan memang tidak ada apa-apa. Pria itu tidak tahu bahwa banyak hal juga berkecamuk di dalam diri Lady. Hanya saja, dia sangat pandai menutupi dan mengendalikan emosi. Dia juga sebenarnya tidak nyaman atau mungkin ... belum nyaman. Dia juga masih membiasakan diri. Kalau dia bisa, gue juga pasti bisa, tekad Broto dalam hati. Broto berbalik arah menuju mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi agar Ningrum tidak terlalu lama menunggu di rumah. Hampir satu jam perjalanan, sedan BMW putih itu akhirnya tiba di garasi. Deru mesin membuat Ningrum bergegas ke garasi. “Loh, kok, cepet banget, Mas.” Ningrum memandang heran. “Nggak jadi makan. Kasihan, kamu nanti terlalu lama nunggu. Yuk, aku udah laper banget.” Broto segera menuju meja makan setelah Ningrum membawakan tas kerjanya. Ningrum tersenyum. Wajahnya terlihat semringah. Bagaimana tidak, suaminya merelakan keinginan untuk makan mie dan lebih memilih makan malam bersama istri tercinta. Bukankah itu menyenangkan? “Mas, nggak ganti baju dulu?” Ningrum memijat pelan leher Broto yang sedang duduk di ruang makan. “Makan, mandi, terus aku mau tidur. Capek banget,” jawab Broto cepat. “Ya, sudah. Aku ambilkan nasi dulu ya, Mas.” Ningrum memang melihat wajah suaminya seperti kelelahan. Kasihan, seharian pasti banyak pasien, batin dia. “Aku belum makan dari siang. Pasien penuh terus. Mana semua minta ditangani karena darurat.” Broto menggerutu, entah ditujukan pada siapa. “Ya, ampun. Lain kai, bisa dong disempetin sebentar untuk makan, Mas. Nggak baik kalau kayak gitu terus,” tutur Ningrum. Broto diam saja. Dia tidak mau membahas masalah itu lebih lanjut. Dilihatnya, Ningrum dengan telaten menyiapkan makanan untuk dirinya. Maafkan aku, Ningrum. Kamu jatuh cinta pada hati yang salah. Broto menyantap dengan lahap makanan di atas piring. Bahkan, dia sampai harus nambah satu piring lagi. Ningrum dengan girang hati melayani sang suami. Melihat pria itu makan dengan lahap saja, dia sudah sangat bahagia. “Pelan-pelan, Mas. Masih banyak, kok.” Ningrum tersenyum melihat gaya makan Broto seperti orang yang sudah beberapa hari belum ketemu sama makanan. Broto tak mampu menjawab karena mulutnya tak ada henti mengunyah makanan. Dia hanya sekejap mengacungkan ibu jari ke arah Ningrum, memuji makanannya enak. Sikap sederhana seperti itu saja sudah mampu membuat hati Ningrum membuncah bahagia. Memang berbeda kalau menghadapi orang terkasih. Perhatian kecil, bahkan isyarat teramat singkat pun bagai setangkup bunga yang disodorkan dengan mesra. Tuhan, jangan ambil kemesraan ini. Lindungi selalu keluarga kami, ucap Ningrum dalam hati. Seutas senyum masih terus tersungging di bibirnya. “Ah, lega. Aku kenyang banget!” Broto setengah berteriak sambil mengusap ujung bibir dengan punggung tangan. “Suer, masakanmu enak banget, Ningrum. Bias gendut aku kalau terus seperti ini.” “Mungkin Mas lagi kelaparan, jadi makanan berasa lebih enak. Biasanya juga nggak pernah memuji masakanku,” jawab Ningrum. Ya, memang. Selama ini, belum pernah sekali pun Broto memuji masakan sang istri. Dia makan dengan tenang sampai selesai. Sudah. Dia tak pernah ada berkomentar, apalagi berekspresi puas seperti malam ini. Apa mungkin ini karena rasa bersalah dia telah melakukan perselingkuhan dengan Lady? Bisa jadi. “Sori. Mungkin selama ini aku nggak terlalu perhatian sama kamu. Makasih ya, Ningrum. Kamu selalu sabar dan jadi istri yang baik untukku.” Broto tersenyum. “Sama-sama, Mas. Kan, memang sudah tugasku juga sebagai istri untuk melayani Mas sebaik mungkin. Mas mau mandi sekarang atau mau dimandiin?” pancing Ningrum. Broto paham, itu isyarat untuknya. Sudah lama mereka tak berbagi kasih. Sejak menjelang kelahiran anak mereka, hingga sekarang si kecil sudah mulai belajar jalan, dia tak pernah menyentuh Ningrum lagi. Bagaimanapun, dia wanita normal. Pasti dia juga butuh sentuhan dan belaian. Namun, Broto memang sudah tidak berminat lagi untuk b******a dengan sang istri. “Aku capek, Ningrum. Aku mau tidur. Maaf, ya.” Broto bangkit dari kursi dan melenggang menuju kamar mandi. Ningrum memandang punggung sang suami dengan sedih. Sudah risiko menjadi seorang dokter, pulang dalam keadaan lelah, apalagi mereka berdua punya profesi yang sama. Sering kali, keduanya hanya bisa saling menyapa sesaat untuk kemudian jatuh terlelap. Pagi pun seringnya seperti itu. Momen berdua seperti malam ini sangat langka untuk bisa terjadi. Karena itu, Ningrum ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa memeluk mesra sang suami. Namun, harapan hanya sebatas impian. Broto terlihat sangat lelah, bahkan seharian sibuk sampai tidak sempat makan. Mana mungkin dia memaksa untuk b******a? Tanpa terasa, air mata meleleh di pipi Ningrum yang sedikit berjerawat. Sembari mencuci piring dan peralatan makan lainnya, dia menumpahkan kesedihan. Broto sedang asyik bersiul di kamar mandi, seperti pria muda yang sedang jatuh cinta. “Ningrum, tolong ambilin handukku!” Suara Broto berteriak dari dalam kamar mandi. Wanita itu buru-buru meletakkan piring yang sedang dicuci, membasuh tangan sesaat lalu bergegas mengambilkan handuk. “Ningrum, handukku mana!” teriak Broto lagi. “Sabar dong, Mas. Nanti dedek bangun denger Mas teriak-teriak,” omel Ningrum melihat kepala Broto melongok dari balik pintu. “Nih.” Dia sodorkan handuk tebal berwarna biru. Broto kembali menutup pintu dan lanjut bersiul. Tumben bersiul terus, batin Ningrum heran. Selama ini, Broto lebih bersikap dingin ketika ada di rumah. Jarang sekali dia terlihat ceria seperti malam ini. Sementara Ningrum menyelesaikan pekerjaan di dapur, Broto segera mengganti baju tidur dan masuk ke dalam selimut hangatnya. Dia lebih suka terlelap dalam pelukan selimut daripada istrinya sendiri. [Gue tidur dulu, ya. Love you. Jangan dibalas.] Broto mengirimkan pesan pada Lady dan segera dia hapus percakapan itu agar Ningrum tidak tahu. Istrinya memang tidak pernah membuka telepon Broto, tetapi tidak ada salahnya berjaga-jaga. Pria itu masih tersenyum mengingat apa yang telah terjadi hari ini. Hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Dia benar-benar bahagia, akhirnya bisa bersama dengan wanita pujaan. Satu-satunya wanita yang selalu ada di hati.   Ningrum menyusul ke kamar tidur setelah menyelesaikan semua tugas di dapur. Dilihatnya pria yang sangat dia cintai itu sudah tertidur pulas. Seutas senyum tersungging di bibir suami tercinta. Deg! Ningrum terperanjat. Ada sebuah warna yang tak biasa di belakang telinga Broto. Lebam kecil berbentuk lonjong. Karena lampu kamar belum dimatikan, dia bisa melihat dengan jelas tanda itu. Dengan tangan gemetar, Ningrum memotret tanda itu dengan kamera di telepon genggamnya. Entah untuk apa, dia sendiri juga tidak tahu. Rasa cemburu membakar dengan cepat, menjalar hingga ke seluruh dinding hati. Rasa cemburu mulai menutupi semua akal sehat dan akar-akarnya mencengkeram dengan kuat, hadirkan rasa perih yang menggigit. Apakah dia berselingkuh? Dengan siapa? Ningrum berteriak dalam hati. Butiran air bening tak kuasa dia tahan untuk bergulir dari mata. Sesakit ini rasanya dikhianati. Apa kurangnya dia selama ini? Dia sudah berusaha untuk bersabar dan terus mencurahkan cinta. Dia juga selalu berusaha melayani sebaik mungkin. Bahkan, ketika dia teramat lelah pun, dia masih selalu ingat untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, juga ibu. Seingat dia, tidak pernah dia lalai akan tugas-tugasnya. Lalu kenapa suaminya berselingkuh? Sementara di sisi lain, lady tersenyum membaca pesan singkat dari Broto. Hal yang sama dia lakukan, yaitu menghapus percakapan.  Dia tidak mau lengah. Jangan sampai hal remeh dan sepele seperti itu menjadi bom atom dalam kehidupan rumah tangganya bersama Kala. Sepertinya harus punya satu handphone rahasia. Besok gue beli dua, sekalian buat Broto, pikir Lady. Tidak aman untuk terus menghapus percakapan seperti sekarang. Bisa saja, salah satu dari mereka lupa atau ketiduran. Lady sudah selesai makan dan sedang menuju arah pulang. Rumah yang terlihat sangat lengang seolah tak berpenghuni itu menjadi tujuannya. Damai, ya. Namun, terlalu sepi. Sebentar lagi akan segera ramai, setelah mereka memiliki dua anak-anak lucu dan ceria. Lady tersenyum membayangkan dua bocah cilik akan berlarian ke sana kemari di rumah mereka. Tempat itu tak akan lagi sunyi. Rumah akan segera menjadi tempat penuh rindu, yang senantiasa memanggil mereka untuk segera hadir. Istana yang akan menahan mereka dengan kehadiran pangeran tampan dan putri yang cantik. Keluarga memang tak lengkap tanpa kehadiran sosok anak. Dia menghempaskan tubuh di sofa ruang keluarga. Dia melihat ke sekeliling, sibuk membayangkan tahun depan, akan ada dua makhluk mungil penghuni baru di sini. Hal yang sudah dia idam-idamkan sedari tiga tahun lalu ketika menikah dengan Kala. Lady merasakan penat yang teramat sangat di tubuhnya. Karena itu, dia memutuskan untuk mandi sebentar dengan air hangat, lalu segera tidur. Toh, suaminya pasti akan pulang larut malam lagi. “Non, mau disiapin makan malam?” Bik Maneh tahu-tahu sudah ada di dekatnya. “Nggak usah, Bik. Saya sudah makan, kok. Bibik tidur aja. Kala pasti pulang malam lagi,” jawab Lady sambil bangkit menuju ke kamar tidur. “Siap, Non. Bik Maneh tidur ya, Non. Selamat malam, Non Lady. Semoga mimpi indah.” Pembantu itu ngotot berteriak walaupun Lady sudah tidak berminat mendengar apa pun. Benar-benar sosok pembantu pantang menyerah walau tidak terlalu dipedulikan sang majikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN