Keduanya berbeda rasa
Mereka saling melengkapi dan memberi sensasi
Perpaduan menjadikannya sempurna
Mustahil untuk memilih satu sisi
***
“Kita pulang sekarang? Atau mau makan malam dulu?” Broto membelai rambut Lady yang sedang rebahan di dadanya. Tiga kali mereguk cinta, cukup membuat perut mereka berteriak meminta asupan.
“Makan dulu, yuk. Setelah itu, baru kita pulang. Kala sepertinya juga sudah makan di luar, kok. Tadi siang dia sibuk banget,” jawab Lady sambil bangkit dari tempat tidur, bermaksud menuju ruang santai.
Dia memutar-mutar leher sejenak untuk menghilangkan penat. Wanita itu lantas memunguti pakaian yang tadi dilempar begitu saja. Broto menyusul di belakangnya.
Lady membantu Broto berpakaian, baru dirinya sendiri. Hal yang belum pernah dia lakukan untuk Kala. Selama ini, Kala lebih banyak memanjakan dia, bukan sebaliknya.
“Gue lagi pengen makan mie, nih.” Tangan Lady bergelayut manja di leher Broto.
“Ya, udah. Gimana kalau kita ke Depot Gajah Mada aja. Kan, itu searah dengan lo pulang. Jadi, bair lo bisa segera istirahat malam ini.” Broto mendaratkan ciuman di dahi, kedua pipi, dan tentu saja berakhir di bibir Lady untuk beberapa saat.
“Yuk, segera berangkat, daripada nanti batal makan. Yang ada, kita malah balik lagi ke kamar.” Lady tertawa kecil.
Keduanya mematut diri sebentar di depan cermin yang terletak di atas wastafel. Mereka memastikan bahwa pakaian mereka sudah rapi.
Jangan sampai terlihat acak-acakan, batin Lady.
Mereka kemudian melangkah bersama meninggalkan unit apartemen.
“Mau gue anterin pulang aja? Biar lo nggak capek,” ucap Broto sambil melangkah menuju ke lift. Dia tidak tega karena melihat wajah Lady seperti kelelahan.
“Nggak usah. Lo tahu kan gue ini wonder woman. Bahkan, kalau Kala mau minta jatah malam ini, gue masih kuat, kok,” jawab wanita itu sambil tersenyum simpul.
Ekspresi wajah Broto sedikit berubah. Rahangnya mengetat dan terlihat sekali memendam suatu perasaan. Lady menyadari perubahan ekspresi itu.
“Lo kenapa? Cemburu? Wajar kan gue layani Kala. Dia itu suami gue, lho. Don’t forget about it, Broto. Jangan sampai akal sehat lo ketutup sama rasa cemburu. Ingat kesepakatan kita.”
Broto terdiam. Semua yang dikatakan Lady memang benar. Tak pantas bagi dia yang hanya berstatus selingkuhan untuk merasa cemburu apalagi marah tentang kemesraan mereka. Bukankah mereka adalah pasangan yang sah, bahkan diakui oleh seluruh dunia, termasuk Tuhan? Jauh berbeda dengan dirinya.
Meski demikian, tetap saja rasa sakit itu hinggap dan terasa nyeri di d**a Broto. Kesadaran akan kenyataan memang sangatlah pahit. Kenyataan tak seindah impian, apalagi harapan.
Lady menggamit lengan Broto ketika pintu lift terbuka. Dia mengajak masuk dan berusaha menenangkan kecamuk dalam diri pria itu.
“Jangan terlalu baper dengan hubungan kita, Broto. Just enjoy it. Sama-sama senang, sama-sama happy, sama-sama puas. Sebatas itu yang bisa kita nikmati. Kita harus berbagi. Begitu pun lo yang masih harus b******a dengan Ningrum. No problem buat gue.” Lady mengusap lengan atas pria itu beberapa kali.
“Gue nggak akan lakukan apa pun dengan Ningrum. Gue cuma mau b******a sama lo. Gue udah punya anak dan gue rasa itu cukup,” jawab Broto menahan gusar di dalam hati.
Lady memandang mimik muka lelaki di sampingnya itu. Ada rasa kasihan menyelinap tanpa meminta ijin. Pria ini terlalu buta karena cinta.
“Jangan bucin, Broto. Itu tidak baik, hanya akan membuat situasi jadi lebih kacau. Dari awal, kita sudah sepakat untuk seperti ini, kan? Come on. Lo pengen bikin gue nggak nyaman?”
“No. Of course not. Baiklah. Gue akan berusaha kendalikan diri dan perasaan gue. Gue tahu dan sadar sepenuhnya bahwa semua ini adalah perselingkuhan. Tapi gue mohon sama lo, Lad. Cintai gue. Belajarlah untuk itu,” pinta Broto memelas.
“Tentu saja. Gue sedang belajar untuk itu. Syaratnya cuma satu, kok. Nyamankan gue. Kalau lo terlalu baper dan bucin kayak gini, jujur gue nggak nyaman sama lo.”
Pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar, menuju ke tempat parkir.
“Oke. Gue janji bakal berubah. Lo parkir di mana?” tanya Broto.
“Di samping. Lo?” Lady menunjuk ke arah tempat parkir.
“Sama, kok. Kan, gue ngikutin instruksi lo tadi,” jawab Broto. Keduanya masuk ke mobil masing-masing dan melaju menuju ke depot mie.
“Gue makan malam sama Broto dulu, ya. Persiapan rencana kita.” Lady menyempatkan diri untuk menelepon Kala.
“Iya. Aku juga masih banyak kerjaan. Kamu tidur duluan aja. Besok pagi sekalian kita ke kantor untuk bicara dengan Pandu tentang hasil pertemuannya dengan Embun. Hati-hati, Honey.”
Tut ....
Persis seperti tadi siang, panggilan kali ini juga ditutup begitu saja oleh Kala. Padahal, Lady yang menelepon. Bukan dia. Sepertinya tidak ada beda. Tetap saja laki-laki itu menutup secara sepihak.
Lady menghela napas panjang. Bagaimanapun, dia juga manusia biasa yang masih memiliki rasa bersalah. Tak dapat dipungkiri, dia mulai menikmati hubungannya dengan Broto. Namun, saat pikiran teringat pada Kala, masih saja ada rasa bersalah menelisip di relung hati.
Berada dalam pelukan dua pria berbeda seperti ini memang menyenangkan. Lalu, bagaimana cara gue menghapus rasa bersalah ini? Gue pengen totalitas menikmati keduanya.
Rasa nyaman dia dapatkan dari kedua pria itu. Kala mampu memberikan rasa aman dan kepastian dalam ekonomi serta bisnis. Pria itu mampu memberikan rasa tenang serta damai dalam setiap tatapan, tutur kata juga sikap. Dia ibarat sungai yang gemericiknya menenangkan. Ya, meski terkadang dia menjadi sangat dingin ketika sibuk dengan pekerjaan. Sungai yang kadang hangat di musim panas, terkadang juga dingin atau bahkan membeku di musim dingin.
Sementara Broto, mampu memberikan kepuasan dengan perhatian, obsesi, rengkuhan, dan keinginan menguasai yang sangat kuat. Pria itu memenuhi kebutuhan psikologis Lady sebagai seorang wanita untuk merasa diinginkan, dilindungi, dilayani, diperhatikan, juga dimanjakan. Hal yang tak dia dapat dari seorang Kala.
Broto ibarat pantai di selatan Pulau Jawa yang ombaknya meledak-ledak dan menghempas dengan kuat. Seperti itu juga puncak kenikmatan yang dia rasakan saat b******a. Membuatnya berteriak dan seluruh tubuh meregang dengan sangat kuat.
Beda hal dengan Kala yang membawanya perlahan menuju puncak, bahkan acap kali, dia yang harus menguasai dan mendominasi. Ujung perjalanan selalu berakhir dengan rasa lega dan ketenangan, penuh kelembutan.
Mendominasi dan didominasi. Menguasai dan dikuasai. Keduanya sama-sama memabukkan. Keduanya sama-sama menggairahkan. Jika harus memilih, Lady tak tahu lagi harus memilih yang mana. Dia ingin merengkuh keduanya, menggenggam dan memeluk semuanya, mereka berdua.
Could marry your daughter ....
Telepon genggam Broto melantunkan sebuah lagu yang khusus dia pasang sebagai nada dering dari Ningrum, istrinya.
“Halo.” Entah kenapa lidah Broto menjadi kelu untuk mengeluarkan kata lebih banyak lagi.
“Lagi di mana, Mas?” tanya sebuah suara di seberang sana.
“Perjalanan ke depot mie. Mas lagi pengen makan mie. Kamu mau dibawain?”
“Oh, nggak usah, Mas. Ningrum masak, kok. Tadinya, kupikir Mas bisa makan di rumah. Tapi kalau memang lagi pengen makan mie, ya ... nggak papa.” Suara itu terdengar datar. Namun, tetap saja ada nada kecewa dalam ucapannya.
“Ya, udah. Mas makan sebentar, terus segera pulang dan makan bareng kamu. Tapi kalau kamu kelamaan, makan duluan juga nggak papa, kok.” Mau tidak mau, Broto kasihan juga pada Ningrum. Dia juga seorang dokter dan sama-sama sibuk. Pasti dia sudah bersusah payah menahan lelah hanya untuk memasak makan malam mereka.
“Ningrum belum terlalu lapar, kok. Ningrum tunggu Mas nyampe rumah aja, biar bisa makan bareng, Mas. Kita sudah lama nggak makan bareng. Makan mie jangan banyak-banyak ya, Mas,” ucap Ningrum girang.
“Ya, udah. Hati-hati di jalan ya, Mas. Da ....” Ningrum tidak ingin mengganggu konsentrasi sang suami melajukan kendaraan.
“Da,” jawab Broto singkat, lalu memutuskan panggilan.
Kasihan juga, pikir Broto.
Kriuk!
Perut Ningrum berbunyi. Rupanya, dia sudah kelaparan.
Makan apel dulu, ah. Lumayan untuk ganjel perut, kata dia dalam hati.
Ningrum rindu untuk duduk bersama, satu meja dengan sang suami. Kebahagiaan seorang istri itu sangatlah sederhana. Ketika dia bisa memasak dan mengambilkan makan untuk suami tercinta, itu sudah bahagia. Apalagi kalau sampai melihatnya begitu lahap menyantap masakan yang telah dibuat. Rasanya sudah seperti menang lotre miliaran rupiah. Sayangnya, tidak banyak para suami yang menyadari hal itu. Sama seperti Broto, dia malah asyik memadu kasih dengan wanita lain.
Dua mobil tiba hampir bersamaan di area parkir depot mie yang memang cukup terkenal di kawasan Jakarta. Broto menghampiri Lady yang sudah menunggu di ambang pintu depot.
“Lad, gue nggak bisa lama-lama, ya. Soalnya, Ningrum udah terlanjur masak makan malam untuk kami berdua dan dia-“