Kembali

1556 Kata
Kita adalah juri untuk diri kita sendiri tanpa perlu orang lain menjabarkan tentang apa dan siapa kita. ***** “Lo yakin dengan semua ini, Lad?” Broto masih tercengang. Wanita itu terlihat tenang. Sangat tenang, bahkan. Broto sama sekali tidak mengira bahwa Lady akan setenang itu membicarakan semua rencana gila ini. “A thousands percent, Broto. Gue nggak pernah setengah-setengah jalanin apa pun. Semua selalu gue pertimbangkan dengan matang. Termasuk keputusan gue menikah dengan Kala dan sekarang ... to have an affair with you. Tapi mungkin dari sekarang kita jangan sebut affair kali, ya. Kita bisa ganti dengan kesepakatan. Gimana? Biar terdengar lebih indah.” Lady yakin, pria itu pasti akan menerima tawaran dari dia. Karena itu, Lady tampak lebih tenang dari sebelumnya. Gelagat Broto sudah mengarah pada kesimpulan itu. “Second love. Walau bagi gue, lo itu tetap number one, Lad.” Broto menyesap americano coffee di cangkirnya, setelah beberapa kali meniup lembut. “Numero Uno. Kaya chocolatos aja. Hahaha.” Lady tertawa melihat Broto yang masih saja terlalu serius menanggapi segala sesuatu. Pria itu tidak bisa santai. “So, kita deal or no deal?” lanjut Lady. Broto kembali menatap wanita itu lekat-lekat. Hati pria itu sudah condong pada keputusan untuk menerima tawaran dia, tetapi masih banyak hal juga yang perlu dia pertimbangkan. Jelas, ini bukan keputusan yang mudah. Ini juga bukan perkara yang simpel. Masalah ini sangat pelik dan rumit. Akal sehat Broto menolak semua ini, tetapi ego dia meneriakkan hal yang berbeda. Bullshit dengan semua kode etik, bodo amat dengan semua etika. Semua itu tidak menjamin kebahagiaan dia. Bahkan, anak serta istri di rumah pun bukanlah sumber kebahagiaan bagi pria tersebut. Wanita di depannya inilah satu-satunya sumber kebahagiaan bagi Broto dalam hidup ini. “Three days, ok? Kasih gue waktu tiga hari untuk berpikir.” Broto tersenyum. Namun, kali ini senyum itu nampak lebih bebas dari sebelumnya dan tidak terlalu dipaksakan. “Hahaha, oke, deh. Nggak papa, kok. Lo emang nggak berubah dari dulu, Broto. Masih saja butuh waktu lama untuk berpikir dan mengambil keputusan.” Lady tergelak. Namun dalam hati, seratus persen dia sudah yakin bahwa pria ini akan menerima tawarannya. Mereka kemudian berbincang santai seolah tanpa beban apa pun. Sepanjang perbincangan, Lady menyelipkan harapan dan kebahagiaan yang ‘mungkin’ bisa mereka raih pasca rencana surrogate mother itu berhasil. Mereka saling berpandangan. Telepon genggam di atas meja bergetar hampir bersamaan. Sama-sama tersenyum, keduanya meraih telepon genggam masing-masing. Semua ini seperti pertanda alam. [Aku tidur duluan, ya. Jangan lupa makan malam.] Dua baris pesan dari Ningrum untuk suami tercinta. [Iya, tidur aja dulu. Sebentar lagi aku kelar, makan malam, terus segera pulang.] Broto membalas pesan dari sang istri. Ningrum bukan tipe istri yang ribet. Mungkin karena memiliki profesi yang sama, jadi tidak sulit baginya untuk mengerti dan memahami situasi Broto. Ada waktu ketika dia juga harus mendadak ke rumah sakit dan tak bisa diprediksi pulang jam berapa. Itu sudah hal biasa bagi pasangan dokter seperti mereka. Hubungan keduanya bisa dibilang baik-baik saja walau mungkin tidak sehangat pasangan lain pada umumnya. Selama menikah, belum pernah mereka beradu mulut selain untuk berciuman. Juga belum pernah sekali pun mereka beradu tubuh selain untuk b******a, hingga lahirlah seorang Saka, si kecil yang sedang belajar berjalan saat ini. Saka mungkin lahir dari hubungan cinta sepihak. Ningrum yang memang sangat mencintai Broto, walau dia tahu hati pria itu bukan miliknya. Broto memang tak pernah menceritakan tentang satu-satunya wanita yang telah mengisi hatinya. Namun, sebagai seorang perempuan, tentu Ningrum bisa merasakan hal itu. Dia tidak keberatan, selagi mereka masih bisa terus bersama. Dia yakin, perlahan, Broto juga pasti akan bisa mencintai dia, melebihi wanita di hatinya saat ini. Bukankah perhatian dan kebersamaan, pasti akan mendepak ilusi cinta? Selama ini, Broto hanya sedang berusaha berbuat baik dan tampak mesra di hadapannya maupun keluarga besar dan rekan-rekan kerja. Lagi-lagi, Ningrum tidak merasa keberatan dengan itu semua. Dia menganggap, Broto sedang belajar dan berlatih untuk mencintai dirinya. Dia siap untuk menunggu, memberi waktu, dan meluluhkan hati pria itu perlahan-lahan. Sejauh lelaki itu mau dan mampu menjadi suami dan ayah yang baik, dia tidak akan pernah merasa lelah untuk menunggu. [Aku otw pulang. Kamu masih sama Broto?] Lady tersenyum membaca pesan dari sang suami. [Ya, masih bernostalgia. Semua berjalan sesuai rencana. Tinggal lo pastikan saja soal Embun, ya.] Pesan terkirim pada Kala yang membaca dengan girang. [Yes. Pandu minta waktu lima hari, tapi sudah kuminta dipercepat. Kalau Embun gagal, siapa lagi kandidat kita?] Ada sedikit keraguan di hati Kala. Ya, tidak semudah itu untuk mendapatkan wanita yang mau disewa rahimnya di Indonesia, negara di mana etika, norma, tata krama, dan berbagai aturan tidak tertulis lainnya masih sangat kental membelenggu. Ditambah lagi, kandidat kali ini adalah seorang gadis, bukan ibu-ibu. [Kita bicara nanti di rumah, ya. Luv u.] Lady menyudahi percakapan karena menurut dia, butuh perbincangan yang lama dan serius kalau membahas kandidat surrogate mother. Saat ini, dia hanya ingin berkonsentrasi pada Broto dulu. Masalah besar dari sisi dirinya, harus bisa dipecahkan terlebih dahulu. Baru memikirkan langkah selanjutnya. [Ok, enjoy your time then, Honey.] Kala mencoba berpikir alternatif solusi jika Embun tidak bersedia disewa rahimnya. Dia memiliki keraguan besar bahwa gadis itu bersedia mereka sewa, berbeda dengan keyakinan Lady. Embun nampak masih sangat belia. Bagaimana jika dia ternyata masih perawan? Hanya gadis dengan kondisi sangat terdesak dan nekat yang mau menyewakan rahimnya. Embun tidak terlihat seperti itu. Hidup di kota besar memang jarang gadis-gadis mampu mempertahankan keperawanan, tetapi melihat gerak-gerik Embun, sepertinya dia jauh dari kesan nakal. Pembawaan Embun terlihat tenang dan cenderung berhati-hati. Gadis itu sepertinya tipe yang sangat tertutup, meski dia komunikatif. Bisa saja, dia komunikatif karena tuntutan pekerjaan, bukan karena kepribadian aslinya memang ramah pada semua orang. Kala sudah banyak menjumpai orang-orang seperti itu. Rekan-rekan bisnis dia banyak yang termasuk tipikal introver parah. Namun, mereka bisa jadi sangat ramah dan komunikatif ketika bernegosiasi bisnis atau menjamu tamu. Bukankah ini sama saja? Tuntutan peran dan pekerjaan.   Kepribadian Embun yang tertutup, jelas menjadi sisi positif dan kelebihan untuk menjadi kandidat surrogate mother. Namun, wajah cantik dia, mungkin saja menarik banyak pria di sekitarnya. Sulit untuk menghindari para lelaki yang mengejar dan mengincar Embun. Kalau dia menerima tawaran kerja sama, maka hal itu harus diwaspadai, tidak boleh luput dari perhatian. Jangan sampai ada laki-laki pengagum dia yang mengetahui kerja sama rahasia itu. Menyewa rahim orang yang sudah menikah? Kala tidak mau ribet. Pasti akan melibatkan suami, juga keluarga besar dari dua belah pihak. Akan semakin merepotkan. Semakin banyak yang terlibat, tentu akan semakin berbahaya. Menyewa rahim janda? Semakin rawan dengan gosip dan naluri keibuan mereka tentu sudah lebih besar daripada seorang gadis nekat yang menyewakan rahim mereka. Akan lebih sulit nantinya untuk memisahkan sang ibu dengan anak yang dikandungnya. Kala khawatir jika janda tersebut tidak mau melepas bayi mereka setelah melahirkan. Masalah tentu akan semakin runyam. Berbeda hal dengan seorang gadis nekat yang tentu tidak mau terbebani dengan punya anak di usia belia mereka. Mereka pasti ingin melanjutkan hidup mereka tanpa beban apa pun. Untuk memutus hubungan batin dan fisik keduanya, akan jauh lebih mudah. Alternatif berikutnya yang Kala pikirkan adalah menyewa seorang p*****r kelas atas. Tentu mereka senang kalau diminta cuti selama kurang lebih sepuluh bulan dan tetap dibayar. Mereka tidak perlu berkeliaran dan melayani siapa pun. Sepertinya, dari golongan ini adalah kandidat kedua yang layak untuk dipertimbangkan. Seorang p*****r kelas atas tentu secara fisik tidak akan mengecewakan. Kebersihan dan kesehatan juga sudah pasti terjaga. Mereka tidak banyak dipakai laki-laki. Hanya pria tertentu dengan dompet tebal yang mampu membayar wanita-wanita tersebut. Mereka sangat selektif. g***o juga biasanya sangat ketat mengawasi kesehatan mereka karena tidak ingin mengecewakan para pelanggan. Kualitas terjaga dengan baik. Got it! Kala menjentikkan jari, lalu segera mengirim sebuah pesan pada Pandu. [Cari juga kandidat surrogate mother dari p*****r kelas atas. Coba cari lima orang untuk kita seleksi. Tapi, rahasiakan dari Lady, ya.] Kala khawatir kalau istrinya tidak menerima kandidat dengan latar belakang kehidupan seperti itu. Lebih aman dia merahasiakan dan nanti mengarang background kandidat tersebut. Lady tidak akan menelusuri terlalu jauh karena mencari kandidat adalah tugas Kala. Itu sudah kesepakatan mereka. Yang penting cantik, hanya itu permintaan Lady. [Siap, Pak.] Pandu membalas singkat. Dia sudah paham dengan kriteria yang diinginkan bosnya itu. “Dari Kala?” Broto memandang Lady. “Ya. Dan dia nggak masalah, kok, gue jalan sama lo. Ini poin plus yang lo perlu tau. Sampai kapan pun, Kala nggak bakal curiga atau bermasalah kalo kita bersama. Apalagi kalo rencana sewa rahim itu berhasil. Kita bisa semakin dekat, dipandang sahabat sama dia. Dia juga pasti akan merasa berutang budi sama lo, Broto,” tegas Lady seolah ingin meyakinkan pria itu, menghempas kebimbangan dia jauh-jauh. “Kala mungkin bukan masalah, tapi istri gue?” Broto kembali menghela napas. “Come on. Lo dokter, kan? Jarang di rumah itu biasa. Bisa kali kita sempetin dua atau tiga jam untuk berkencan. Toh, nggak tiap hari ini. Gue ngikutin jadwal lo, deh. Kapan lo bisanya. Sesekali, kita juga bisa kencan singkat saat lo lagi praktik. Simpel, kan?” Lady meraih tangan Broto, menggenggam pelan, lalu mengusapkan ibu jari di permukaan tangan itu. Mau tidak mau, Broto menelan ludahnya sendiri. Kencan singkat di saat praktik? Wow, sepertinya tawaran yang menarik dan menegangkan. Dia berusaha keras mengendalikan laju jantung yang tiba-tiba tidak beraturan dan segumpal daging yang tiba-tiba mengembang di bawah sana.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN