Entah berapa hati telah kutolak
untuk satu hati yang tak pernah pasti
***
“Sudah order?” Pria itu menarik kursi di hadapan Lady.
Broto memandang sekilas ke sekeliling. Sebuah kafe dengan nuansa rustic yang sebagian dinding dibiarkan setengah jadi berbalur semen kasar, dipadu interior baru tetapi bergaya kuno di beberapa sudut. Tata cahaya bergaya modern plus tambahan beberapa lukisan pop art menambah nyaman suasana.
Sungguh perpaduan yang apik, batin pria itu.
“Belum. Sekalian nunggu lo.” Lady berusaha bersikap setenang mungkin.
Broto masih asyik menyapu pandangan ke sekeliling kafe. Terlihat beberapa anak muda tak henti berfoto. Memang, tempat ini instagramable banget. Beberapa tanaman hias buatan ditambahkan di sudut ruangan.
“Tempatnya keren,” puji Broto.
“Iya. Nyaman aja di sini, walau sebetulnya lebih banyak anak muda yang nongkrong di kafe ini,” jawab Lady sambil tersenyum.
“Kita juga masih muda, kok. Kata siapa, kita ini sudah tua?” Broto berkata santai.
“Gue jelas belum jadi orang tua. Kalau lo, kan, udah,” balas Lady. Broto tersenyum sambil manggut-manggut.
“Sepertinya pesan langsung di kasir, ya.” Broto melihat tidak ada pelayan lalu lalang atau menghampiri meja pelanggan.
“Yap. Lo mau order apa?” tanya Lady.
“Gue aja, Lad. Lo mau pesan apa?” Broto mendahului Lady bangkit dari kursinya.
“Hot cappucino sama garlic cheese bread. Thanks, ya.” Lady tersenyum.
Broto segera menuju ke arah kasir sambil sekilas melihat daftar menu yang terpampang di papan tulis. Sembari menunggu antrian, dia melihat-lihat etalase kudapan. Nampak beberapa roti, donat, pizza, dan beberapa kue dalam ukuran kecil yang menggugah selera.
“Hot cappuccino, americano coffee, garlic cheese bread, tiramitsu cake, sama air mineral dua, jangan yang dingin, biasa aja, ya,” ucap Broto lancar.
“140 ribu, Pak,” kata kasir.
“Kembaliannya ambil aja.” Broto menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu.
“Terima kasih. Geser ke samping ya, Pak,” jawab kasir itu dengan ramah.
Broto bergeser ke samping, sementara satu pelayan di samping kasir menyiapkan pesanannya. Tak perlu menunggu lama, pesanan sudah siap di atas nampan kayu. Broto berjalan hati-hati membawa nampan menuju meja mereka. Lady sedari tadi menatap ke arahnya, membuat dia semakin deg-degan.
“Fiuh, susah juga ternyata bawa nampan, ya.” Broto tersenyum, berusaha membuat suasana lebih santai. Pria itu menata pesanan mereka dengan rapi di atas meja.
“Wait,” cegah Broto ketika Lady ingin menyentuh cangkir cappuccino pesanannya. Lady memandang heran pada pria tersebut.
“Difoto dulu, baru dinikmati. Haram hukumnya kalau langsung makan sebelum difoto.” Broto terkekeh geli melihat ekspresi Lady yang terkejut.
“Astaga ....” Lady geleng-geleng kepala. “Sejak kapan, lo jadi narsis kek gini?”
Benar saja, setelah memotret dua kali sambil berdiri, baru Broto duduk di kursinya. Dia memindai sekilas hasil potretannya tadi. Terlihat senyum puas memulas di wajahnya.
“So, sudah boleh diminum?” Mau tidak mau Lady tertawa melihat sifat narsis pria itu.
Mereka berdua sedang berusaha menyamankan suasana dan hati. Keduanya sama-sama tidak tenang. Broto penasaran dengan apa yang akan dikatakan Lady, sementara wanita itu tidak tahu harus memulai dari mana negosiasi malam ini. Akhirnya, mereka berbincang ringan tentang kehidupan setelah lulus kuliah untuk sedikit mencairkan suasana. Sekadar berbasa-basi.
“Back to our main business. Broto, gue bener-bener butuh lo untuk bantu apa yang sudah gue rencanakan. Gimanapun caranya.” Lady membuka perbincangan serius setelah kurang lebih lima belas menit mereka berbasa-basi. Nampak pria di hadapannya itu menghela napas panjang.
“Jadi, lo masih ngotot mau lakukan program surrogate mother dengan cara tadi? Gue nggak bisa Lady,” tolak Broto dengan kalem.
“Kalo gue kencan beberapa malam dengan lo, apa lo mau bantu?” kata wanita itu nekat. Dia menggigit bibir setelahnya. Tentu saja, bibir dia sendiri, bukan bibir Broto. Pria itu membelalak. Dia terkejut dengan apa yang diucapkan wanita di hadapannya itu. Bibir nabis, tetapi bisa mengucapkan kalimat garang seperti tadi.
“Jangan gila, Lad. Gue bukan cowok m***m! Gue cinta sama lo dan itu bukan sebatas nafsu doang.” Broto tidak menyangka kalau Lady mampu mengeluarkan kalimat itu.
“Kalau gitu, gue kasih diri gue buat lo, tapi gue nggak bisa cerai dari Kala,” bibir Lady bergetar. Malam ini, dia harus bisa mendapatkan persetujuan Broto, apa pun cara dan resikonya.
Broto seperti tersihir dengan mantra itu. Dia mematung, bergeming, tak mampu berucap, bahkan bergerak. Untung saja, dia masih bisa bernapas.
“Gue bersedia have an affair with you, asal lo mau bantu rencana gue,” lanjut Lady.
Suasana tiba-tiba menjadi hening. Alunan musik di ruangan kafe pun seolah terhenti. Segala kebisingan yang tiba-tiba terhempas sepi. Mereka hanya mampu mendengar napas serta degup jantung masing-masing. Keduanya terpaku dan sama-sama bergeming.
“Selamanya?” Akhirnya, mulut Broto mampu bersuara juga.
Lady mengangkat wajah dan menatap pria di depannya. Sepertinya, Broto mulai goyah. Ini kesempatan untuk dia.
“Ok, selamanya, asal lo bantuin rencana gue. Kita sama-sama hidup dengan keluarga masing-masing. Tak ada yang tersakiti. Semua happy. Kita bisa beli satu apartemen khusus untuk kita, jadi aman.” Lady mulai tenang melihat Broto sedikit terpengaruh.
Broto masih termenung. Sebongkah ragu menelusup di hatinya. Ada rasa tidak tega menyakiti hati Ningrum, walau dia tidak mencintai wanita itu. Bagaimanapun, Ningrum adalah ibu dari anak dia dan selama ini, wanita itu sudah sangat setia dan baik pada dirinya. Pantaskah berbuat seperti ini pada Ningrum? Hati Broto masih menimbang-nimbang.
Di sisi lain, apakah dia bisa melewatkan kesempatan untuk bisa bersama dengan wanita yang selama ini dia cintai? Tawaran ini tentu tidak datang dua kali. Dia bahkan sudah menunggu selama bertahun-tahun untuk bisa menyesap bahagia dan memagut kebersamaan bersama wanita tercinta itu. Sekarang, kesempatan itu ditawarkan di depan mata. Tinggal dia mau ambil atau tidak. Keputusan sepenuhnya ada di tangan dia, bukan lagi di tangan Lady.
Lady yang melihat Broto masih diliputi keraguan, berusaha meyakinkan. “Jangan sampai ada yang tersakiti karena kita berdua, Broto. Lo dapet yang lo mau, yaitu gue dan gue berhasil dengan yang gue mau juga, punya anak dengan Kala. Istri dan suami kita, keduanya tidak ada yang tersakiti. Kita semua bahagia. Jadi, apalagi yang lo ragukan?”
“Kenapa kita nggak cerai aja. Gue bisa bantu lo dengan rencana lo itu, soal surrogate, tapi setelah lo nikah sama gue,” tegas Broto.
“Lo tega nyakitin Kala sama Ningrum? Gue butuh Kala untuk kelola perusahaan, Broto. Terus, anak lo gimana? Lo sanggup jauhan sama dia? Kalo kita bisa mempertahankan apa yang sudah ada, kenapa harus kehilangan, sih? Bukannya gue serakah. Kita hidup di dunia ini, sebisa mungkin nggak kehilangan, tapi justru menambah. Gue siap untuk mencoba jatuh cinta sama lo. But, please ... do not hurt anyone.” Lady berkata lirih, tetapi tegas.
Broto masih termenung. Dia ragu, akankah sebuah affair bisa ditutup selamanya? Bukankah sebaik-baiknya orang menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga nantinya? Bagaimana kalau semua itu terbongkar suatu hari nanti? Tidak hanya keluarga berantakan, tetapi karir juga bisa hancur karena menyalahi kode etik kedokteran yang harus dia tepati dan junjung tinggi. Bisa-bisa izin praktik dicabut, bahkan gelar sebagai dokter juga ikut melayang.
Semua memang sebanding dengan resiko yang harus dihadapi. Sebuah keuntungan besar, tentu berhimpitan dengan resiko yang besar pula. High risk, high profit. Ada tebusan yang harus dibayar, ada pengorbanan yang harus dilakukan, jika kita ingin mendapatkan pencapaian yang luar biasa dalam hidup kita.
“Broto, please.” Lady memelas.
“Gue butuh waktu untuk berpikir, Lad. Ini bukan perkara yang sederhana. Ini pelik, rumit, dan sangat berbahaya.” Broto memberanikan diri menggenggam tangan Lady.
Pria itu ingin menguji kesungguhan hati Lady. Seperti yang dia katakan tadi, ini bukan hal yang sepele. Ini bukan main-main. Kesepakatan yang mereka buat harus benar-benar utuh dan sepenuh hati dari kedua belah pihak. Akan sangat berbahaya jika salah satu pihak tidak menepati janji atau mundur di tengah jalan.
Lady merasa tidak nyaman dengan perlakuan Broto yang tiba-tiba mesra. Ditariknya tangan yang tengah digenggam oleh pria tersebut. Dia tersenyum sinis.
“Sepakat dulu, baru lo boleh pegang-pegang gue,” jawabnya tegas. “Tidak hanya di tangan, lo boleh pegang apa pun. Semua yang ada di diri gue adalah milik lo. Lo berhak sentuh bagian mana pun dari tubuh gue, Broto. Tapi nanti ... kalau kata sepakat sudah sama-sama kita ucap.”
“Yakin, kalo sudah sepakat lo nggak bakal ingkar janji selamanya?” tanya pria itu sembari menatap tajam, tepat di manik mata Lady.
“Sure, you know me. Gue nggak pernah main-main dengan ucapan gue, kan?”
“Sepertinya, nggak mungkin disepakati malam ini, Lady. Kita pikirkan lagi semuanya matang-matang. Gimana kalo kita sama-sama berpikir selama tiga hari ini.” Tiba-tiba, pria itu memicingkan mata dan mengernyitkan dahi.
“Lo belum pulang sama sekali? Baju lo masih sama dengan tadi siang.” Broto yakin wanita itu sedang kalut. Kalau tidak, mana mungkin dia berkeliaran dari siang tadi sampai sekarang tanpa pulang ke rumah, bahkan untuk sekadar mandi dan berganti pakaian.
“Iya, males pulang. Oke, tiga hari lagi kita make a deal. Tapi besok atau lusa, kalo lo pengen ketemu gue, kabarin aja. Gue siap, kok,” tukas Lady.