Al mematikan mesin dengan tampang cemberut. Ah, pantas aja Embun dari tadi gelisah. Rupanya, si Panda Duungu ini sudah menunggu. Gitu alasannya capek, ngantuk, macem-macem, gerutu Al. Tentu saja, dia hanya berani menggerutu dalam hati. “Ngapain di sini?” tanya Al sewot. “Malam, Al. Malam, Mbun.” Pandu menyapa ramah seolah tidak ada masalah. Dengan cepat, dia menyadari ekspresi Embun yang terlihat tidak nyaman di belakang Al. “Maaf, Mbun. Aku datang tiba-tiba nggak kasih kabar kamu dulu. Ada titipan dari perusahaan dan harus aku sampaikan malam ini juga. Makanya, aku langsung ke sini karena kupikir kamu pasti ada di kontrakan,” lanjut Pandu. Dia sengaja berbohong seperti itu agar Embun tidak merasa terjepit. “Tidak apa-apa, Mas. Sudah lama atau baru datang?” Embun merasa lega. Dal

