Bab 1. Kehilangan harta berharga

1040 Kata
Calista terbangun dan mendapati dirinya dalam keadaan tanpa busana. "Oh Tuhan! Apa yang terjadi?" dia menjerit merasakan sakit di sekujur tubuhnya terutama pada bagian intinya. Begitu dia membuka selimutnya, dia mendapati tubuhnya penuh dengan tanda merah membuat dia berteriak histeris. "Aaaaaa ... !!!! Apa yang sudah terjadi pada diriku?" Air matanya langsung saja menetes di pipinya di kala dia melihat keadaannya yang sangat berantakan. Saat dia melihat ke sekelilingnya dia melihat pakaiannya berserakan di lantai bersama dengan pakaian seorang laki-laki. "Kenapa ada pakaian laki-laki di kamar ini?" Dan di atas nakas Calista menemukan ada setumpuk uang dan sebuah kertas bertuliskan pesan untuknya. Calista mengambil kertas itu dan membacanya. [Malam itu begitu indah, terima kasih untuk malam yang indah itu, uang ini untuk mencegah bila suatu hari nanti kamu hamil, kamu bisa menggugurkannya menggunakan uang itu] Isi dari pesan pada kertas itu membuat seketika tubuh Calista bergetar. Dia melihat uang yang begitu banyak di atas nakas, kemudian dia mengambil uang itu dan membuangnya, hatinya terasa sangat sakit. "Tidaaakkk ..." Calista berteriak penuh dengan kemarahan. "Hiks ... hiks ... hiks ..." dia hanya bisa menangis dan tak bisa berbuat apa-apa. Dia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menangis sendirian dan kemudian dia mendengar nada dering dari telepon genggamnya. Karena merasa tubuhnya yang begitu sakit, Calista menjadi malas untuk menjawab telepon itu. Suara telepon yang tak henti-hentinya membuat dia pun mengambil ponselnya dan menjawab panggilan telepon itu. Ternyata itu panggilan dari Ester sahabatnya. "Hallo, hiks ... hiks ..." dia tak bisa menyembunyikan perasaannya kepada sahabatnya yang sangat di percaya itu. Ester yang mendengar Calista menangis sesenggukan pun heran dan bertanya, "Calista ada apa dengan kamu? Kenapa menangis?" tanya Ester dari seberang telepon. "Hiks ... hiks ... Ester datanglah ke hotel tempat kita merayakan ulangtahun kemarin, aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku." "Oke, kalau begitu kirimkan padaku nomor kamar tempat kamu menginap aku akan segera kesana," ucap Ester dengan begitu cemasnya dan langsung mematikan ponselnya. Calista turun dari ranjang, dia memunguti pakaiannya, tapi yang di dapat pakaiannya sudah tidak bisa digunakan lagi karena sudah sobek di beberapa bagian. Calista pun mengirim pesan singkat kepada Ester dengan tangan yang gemetar, dia meminta Ester untuk membelikan dirinya pakaian. Sementara itu, Ester yang sedang berjalan menuju ke hotel tempat Calista menginap, bertanya pada seorang pengawal yang berjalan bersamanya. "Bagaimana keadaan kakakku?" tanya Ester pada pengawal itu "Dia masih tertidur, Nona. Belum juga bangun," jawab pengawal itu. "Kalau begitu, biarkan dia tidur lebih lama lagi," ucap Ester pada sang pengawal. Lift yang di naiki pun sampai di lantai kamar tempat Calista menginap, dan Ester berjalan menuju ke arah kamar Calista. Tapi dia tidak langsung menekan bel kamar Calista, melainkan dia menunggu selama beberapa menit, dan kemudian dia menekan bel kamar itu. Tak perlu menunggu lama pintu kamar terbuka, dan tampak Calista mengintip dari balik pintu. "Ester, akhirnya kamu datang." Begitu melihat yang datang adalah sahabatnya, Calista langsung memeluk Ester dan terisak dengan keras di pelukan Ester. "Apa yang terjadi Calista?" tanya Ester membalas pelukan Calista dengan erat. "Ester ... hiks ... hiks," Calista masih saja terisak, saat ini sangat sulit untuknya mengungkapkan apa yang terjadi. Dia merasa bingung apa yang harus dia lakukan, sesuatu yang sangat berharga pada dirinya telah di rebut oleh seseorang yang bahkan dia tidak ketahui siapa itu. Sesuatu yang sudah dia jaga selama bertahun-tahun, dan hanya akan dia berikan pada suaminya nanti, tapi kini semuanya telah sirna, hanya dalam semalam semua telah hancur. Calista menangis meratapi nasibnya, dia merasa takdir begitu tidak adil pada dirinya. Melihat Calista yang begitu putus asa, Ester mencoba menenangkan Calista. "Cal ... cerita padaku apa yang telah terjadi?" Ester menatap sendu ke arah Calista. Calista wajahnya sudah terlihat sangat berantakan, karena sudah menangis terlalu lama, akhirnya dia membuka suara juga. "Aku di jebak, Ester. Seseorang sudah menjebak, Ku. Bahkan aku tak tahu siapa orang itu, hiks ... hiks," tangisan Calista semakin menjadi. "Tenang Cal, aku akan membantu kamu mencari tahu siapa orang itu, kita akan menyelesaikan semua bersama, ada aku di sini," Ester memeluk Calista semakin erat. Seharian dia menemani Calista di hotel itu, dia membantu menenangkan Calista. Setelah Calista mulai tenang, Ester meminta Calista untuk membersihkan dirinya. "Sudah sana bersihkan dirimu, setelah itu aku akan mengantarkan kamu pulang." Calista yang masih merasa sedih, berdiri dengan enggan dan menuju ke kamar mandi. Cukup lama Calista berada di dalam kamar mandi, setelah selesai dia mandi,dia melihat Ester sudah menyiapkan pakaian untuknya. "Terimakasih Ester, kamu sudah selalu ada untuk aku," Calista berterimakasih pada Ester karena sudah mau membantu dirinya. "Jangan bersedih lagi, cepat pakai pakaian itu, setelah itu aku akan mengantarkan kamu." Calista pun kembali lagi ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaiannya. "Entah apa yang akan terjadi padaku setelah ini," Calista berbicara sendiri sambil menatap wajahnya di cermin. Dia merasa begitu frustasi tapi dia juga tak tau harus berbuat apa, bahkan dia tak bisa mengingat kejadian tadi malam. Setelah berganti pakaian Calista keluar dari kamar mandi, kemudian Calista di antarkan pulang oleh Ester. Selama perjalanan pulang Calista merasa sangat khawatir, jikalau keluarganya mengetahui apa yang terjadi pada dirinya hari ini. "Ester, aku takut untuk pulang, aku takut jikalau keluarga ku tahu apa yang terjadi hari ini." "Mereka tidak akan tahu Cal, kalau mereka bertanya kenapa kamu tidak pulang, bilang saja kalau kamu tidur di rumahku semalam," Ester menghilangkan kecemasan Calista. Keadaan dalam mobil pun seketika menjadi hening, sepanjang perjalanan Calista hanya terdiam dan melihat keluar jendela. "Maafkan aku Cal, aku sangat kasihan dan menyesal atas apa yang terjadi padamu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena Adiva memegang rahasia akan diriku, dan perempuan sialan itu sudah mengancam diriku," ucap Ester dalam hatinya. Ester diam-diam menatap Calista, Ester sangat prihatin dengan apa yang terjadi pada Calista hari ini, tapi dia tidak bisa berbuat banyak hal untuk membantu, karena dia pun saat ini sedang berada dalam ancaman. Mobil yang mereka tumpangi pun sampai ke halaman rumah Calista, Calista menatap rumahnya dari dalam mobil dan ragu-ragu untuk turun dari mobil, sampai akhirnya Ester membuyarkan semua lamunan Callista. "Yuk turun Cal," Ester menyentuh tangan Calista mengajaknya turun. Calista tidak menjawab, dia hanya mengangguk, dan mereka pun turun dari dalam mobil. Calista tidak pernah tahu kalau sesuatu yang tak pernah dia pikirkan dan tak pernah dia bayangkan sedang menanti dirinya di dalam rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN