Bab 2 . Dianggap sebagai sumber masalah

1049 Kata
Baru saja tiba dirumahnya, ibu tirinya langsung melempari Calista dengan pot bunga yang ada di hadapannya. Pot bunga yang di lemparkan ibu tirinya Calista, mengenai kepala Calista dan setelah itu jatuh di lantai dan hancur berkeping-keping. Darah keluar dari kepala Calista dan langsung membasahi rambut Calista, hal itu membuat Dion begitu terkejut. Pria itu ingin pergi untuk menolong Calista, tapi tangannya di tahan oleh Adiva yang sedang duduk di sampingnya, Adiva menarik lengannya dan menahan Dion untuk tetap duduk di sampingnya. Melihat hal itu, tangan Calista langsung gemetar, dan air matanya menetes jatuh di pipinya. Calista bukan sedang menangisi kepalanya yang sakit, tapi rasa sakit di hatinya, yang melihat kekasihnya, yang kini berada bersama saudari tirinya. Anita adalah ibu tirinya Calista, istri dari tuan David ayahnya Calista, dia menatap Calista dengan tatapan penuh kemarahan. "Mulai saat ini kamu bukan bagian dari keluarga ini! Kamu sudah di tendang dari keluarga ini, karena perbuatan b***t mu yang sudah beraninya menjebak Dion kekasihmu dan Adiva saudarimu hingga mereka tidur bersama, sebaiknya kamu segera pergi dari rumah ini!" teriak Anita kepada Calista, dia kemudian menatap putrinya dengan wajah yang sangat sedih. "Bagaimana kalau putriku sampai hamil di luar nikah, masa depannya akan hancur, apa yang akan terjadi pada dirinya," isak Anita dan langsung mendekati Adiva dan memeluknya sambil menangis dengan keras. Adiva pun tak mau melepaskan kesempatan ini, dia yang mempunyai bakat berakting pun langsung menangis sesenggukan dalam pelukan ibunya. "Ibu ... kalau seperti ini aku tidak akan pernah bisa menjadi seorang artis, masa depan ku telah hancur, bagaimana selanjutnya kehidupan, ku. Ibu ... hiks ... hiks ..." Adiva terisak sangat keras membuat David yang merupakan kepala keluarga sekaligus ayah dari Calista pun hanya bisa menghela nafasnya. "Aku akan berbicara dengan keluarga Dion mengenai hal ini, Adiva dan Dion harus segera bertunangan, sementara kamu Calista karena kamu sudah menjadi dalang dari semua ini, dan bahkan kamu berani-beraninya tidur dengan pria yang tidak di kenal, maka kamu akan Ayah hukum, kamu akan Ayah kirim ke luar negeri bersama Oma mu di sana selama 5 tahun," ucap David yang membuat Calista langsung terkejut. "Tidak!! Ayah ... tidak ... aku sungguh tidak melakukan apapun, aku pun tidak tahu bagaimana aku bisa tidur bersama pria asing itu, aku tid ...." Calista belum menyelesaikan perkataannya tapi dia sudah di bentak oleh Anita. "Diam!!" bentak Anita, "Masi berani yah kamu membela diri, sementara kamu telah membuat putriku kehilangan masa depannya!! Kamu pikir, setelah apa yang terjadi pada putriku, masih ada lelaki yang akan menerima dirinya?" "Bahkan, sekalipun kamu mati pada hari ini, itu tidak akan bisa mengembalikan masa depan putriku. Masa depan putriku sudah hancur, hiks ... hiks ..." Anita kembali terisak dan memeluk Adiva yang terus menangis dengan erat. "Tapi kalian harus mendengarkan penjelasan dariku terlebih dahulu, karena aku sama sekali tidak ..." sekali lagi Calista tidak bisa menyelesaikan penjelasannya karena sudah di potong oleh ayahnya. "Cukup Calista!!" sela David "Kamu ternyata tidak menyesali perbuatan mu, karena kamu tidak menyesali perbuatan mu maka kamu tidak aku kirim ke luar negeri, tapi kamu akan di keluarkan dari keluarga ini, mulai hari ini kamu bukan lagi bagian dari keluarga Anderson, sekarang juga pergi dan bereskan barang-barang mu, dan angkat kaki dari rumah ini!!" bentak David, yang perkataannya membuat seluruh jiwa Calista seakan melayang dan tubuhnya terasa lemas. Hampir saja Calista terjatuh ke lantai, kalau saja saat itu tidak ada Ester yang memegangi Calista. "Ayah ..." Calista terisak sangat keras dan menatap ayahnya, akan tetapi ayahnya malah memalingkan wajahnya, tak ingin melihat Calista, seakan Calista bukan anak kandungnya sendiri. Hal itu membuat Calista merasa sangat terpukul, lalu dia juga menatap kearah kekasihnya. Tapi sama seperti ayahnya, Dion tidak mau menatap Calista, dia justru menundukkan kepalanya tidak berani untuk mengangkat kepalanya. Ester yang melihat hal itu pun merasa sangat bersalah kepada Calista, tapi dia tidak dapat melakukan hal apapun untuk membela Calista, sebab dia pun ikut andil dalam seluruh kejadian itu. "Calista jangan menangis ... ayahmu hanya marah sesaat, begitu amarahnya mereda, kamu bisa kembali untuk menjelaskan kepada nya apa yang terjadi dan memohon padanya," ucap Ester mencoba menenangkan Calista "Aku tidak mau dengar apapun lagi, pokoknya mulai hari ini kamu telah di keluarkan dari keluarga ini, sekarang bereskan barang-barang mu dan pergi dari sini!!" bentak David membuat Calista semakin gemetaran dan terdiam di tempatnya. Sementara itu, Anita yang melihat anak tirinya itu tidak kunjung pergi untuk membereskan barang-barangnya, menyuruh para pelayan di rumahnya untuk membereskan barang Calista. "Cepat kamu bereskan barang-barangnya Calista," perintah Anita kepada para pelayan itu. "Baik Nyonya," jawab para pelayan itu, dan mereka bergegas langsung ke kamar Calista dan membereskan barang-barang Calista. Calista tak mampu berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa memeluk sahabatnya Ester dengan suara isakan yang begitu keras. Dia tak mengerti, entah apa yang terjadi, acara suprise ulang tahun untuk sang kekasih yang dia gelar, malah berakhir dengan kejadian tragis seperti ini. Pikiran Calista seketika menjadi kosong, dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Di saat Calista sedang terdiam, pelayan telah datang membawa barang-barang Calista, dan Anita mengambil barang Calista, dia melemparkannya ke arah Calista. Calista tidak bereaksi saat barangnya dilemparkan kearahnya, malah dia kembali melihat ayahnya dan memohon kepada ayahnya. "Ayah mohon pikirkan lagi apa yang kau katakan, dengarkan dulu penjelasan dariku," Calista memohon kepada Ayahnya, suaranya terdengar sangat putus asa. Sementara Adiva yang mendengar Calista memohon kepada ayahnya, malah memperkeras suara isakan nya, membuat David tidak tahan dan malah membentak Calista. "Aku sudah katakan padamu kalau aku tidak mau mendengarkan apa pun lagi, tak ada lagi yang perlu kamu jelaskan Calista, karena semua sudah sangat jelas." Calista hanya menggeleng mendengar perkataan ayahnya, dia tidak percaya kalau ayahnya yang dulu begitu menyayangi dirinya kini bisa menjadi seperti ini, bahkan tega untuk mengusir dirinya dan mengeluarkan dirinya dari keluarga. Untuk suatu perbuatan yang bahkan Calista pun adalah korbannya, tapi saat ini dia malah di tuduh sebagai biang kerok dari smua kejadian malam itu. Hati Calista begitu hancur, dengan langkah yang di paksakan Calista pergi meninggalkan rumah ayahnya, rumah yang sejak kecil dia tempati dan mendapatkan kasih sayang, sekarang harus dia tinggalkan, bukan untuk sementara tapi untuk selamanya. Hati Calista begitu hancur, ayahnya lebih mendengarkan ibu tirinya dan saudari tirinya, dia sebagai anak kandung malah dianggap sebagai pembawa masalah. Calista merasa kini hidupnya telah hancur, dia sudah kehilangan segalanya, kehormatannya dan keluarganya, entah bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN