Bab 3. Malam kehancuran dimulai

1417 Kata
Satu hari sebelumnya, malam saat pesta ulangtahun kekasihnya Calista. "Cal, beristirahat lah dulu di sini," ucap Ester pada Calista yang sudah tak sadarkan diri. Calista yang sudah tak sadarkan diri kini, sudah tidak dapat berpikir dengan jernih, bahkan dia juga sudah tidak berpikir siapa yang bersamanya saat ini, yang dia pikirkan saat ini hanyalah tidur, dia ingin segera tertidur. Karena Ester hanya mengantarkan dia sampai di depan pintu, Calista pun masuk kedalam kamar sendirian, dia membuka pintunya dan masuk ke dalam kamar dengan sempoyongan. Kamar dengan pencahayaan yang minim dan juga bau alkohol yang menyengat, tidak membuat Calista sadar, kalau saat ini dia sedang masuk kedalam ruangan yang berisi singa kelaparan. Begitu mata Calista menangkap sebuah ranjang besar yang tampak memanggilnya, Calista langsung mendekat ke ranjang itu dan merebahkan tubuhnya ke atasnya. "Hmmp ..." Calista yang merasa ranjang itu tak seempuk yang dia pikirkan hanya bisa menggerutu. Dia merasakan kalau tempat dia berbaring memiliki tekstur yang lengket dan berotot, serta hangat dan bergerak naik turun dalam irama yang teratur. Tapi Calista sudah tidak memperdulikan lagi hal itu, karena yang ada di pikirannya saat ini, hanya dia bisa tidur untuk meredakan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Calista pun mencoba untuk memejamkan matanya, dia berharap dengan dia tertidur rasa sakit di kepalanya bisa hilang. Selang beberapa menit, setelah dia larut dalam tidurnya, Calista tidak menyadari saat tempat yang sedang dia tiduri tiba-tiba bergerak. "Hmmp ..." Ternyata yang Calista tiduri adalah seorang pria, dan saat ini pria itu dengan setengah kesadaran yang di miliki, saat ini meraba tubuh Calista yang tertidur di atasnya. Yang pria itu rasakan tubuh di atasnya itu begitu lembut, nyaman dan menenangkan, dan yang paling utama lekukan tubuh itu begitu menggoda. Sehingga rasa panas dalam tubuhnya terasa lebih nyaman, karena adanya perempuan di atas tubuhnya. "Siapa kamu?" Dengan memaksakan kesadarannya pria itu masih sempat bertanya pada Calista. Tetapi bukan jawaban yang dia dapatkan, tapi hanya sebuah hembusan nafas lembut dari perempuan itu di lekukan lehernya, membuat darah pria itu berdesir hebat. "Eemmm ..." Calista bergerak memperbaiki tidurnya. Pergerakan kecil yang Calista lakukan, membuat pria itu merasa seperti kesetrum, dan menjadi haus untuk menyentuh tubuh Calista. Aroma alkohol bercampur dengan manisnya wangi parfum yang berasal dari wanita yang tidur di atasnya, membuat pria itu semakin menjadi gila untuk menghirupnya. "Siapa pun dirimu, aku tak perduli, yang pasti malam ini kau harus menjadi milikku, aku menginginkan kamu malam ini." Pria itu membanting Calista kesamping nya, dan dalam terangnya cahaya yang remang-remang pria itu mulai menelusuri seluruh tubuh Calista. "Nghh, ah ah, sakit ah hiks ... hiks ...." "Ahkh ...." Calista merintih karena merasakan sakit,tapi rintihan itu tak membuat pria itu merasa iba kepada dirinya. Apalagi dirinya kini telah di kuasai oleh obat, membuat dirinya sulit untuk menghentikan pertempuran panas yang telah dia mulai ini. "Ahhh ... tidaaaak ... sakit," Calista berteriak dengan keras di kala dirinya merasakan sakit sehingga dia membuka matanya. Dia bisa melihat seseorang yang berada di atasnya, memiliki tubuh yang begitu kekar tapi wajahnya terlihat begitu samar, namun semua itu tidak bisa menyembunyikan pesona pria itu. Tapi bagaimanapun mempesona pria itu, pria itu cukup tidak tahu diri karena sudah melakukan semua ini kepada dirinya. "b******n, jangan!!! Aaaah," teriak Calista dan meneteskan air mata, tapi pria itu bergerak begitu cepat sehingga meruntuhkan pertahanan Calista. "Hiks ... Hiks," Calista menangis tak karuan dan memberontak, tapi karena dirinya yang juga di kuasai obat, akhirnya rasa sakit yang tadinya dia rasakan kini berganti dengan rasa nikmat. "Ah ... ah ... ah ... hmm ..." Calista melupakan rasa malunya, malah dia menikmati kenikmatan yang diberikan pria di atasnya itu sampai dirinya merasakan kelelahan. "Kau begitu nikmat, mulai saat ini kau adalah milikku, siapapun dirimu, kau tetap akan menjadi milikku sepenuhnya," ucap pria itu dalam rasa lelahnya dan dia pun memeluk Calista dengan erat. Calista yang sudah di kuasai oleh rasa kantuk hanya mendengar dengan samar perkataan pria itu dan dia pun memejamkan matanya dan tertidur pulas. Tak perduli apapun yang terjadi saat ini, Calista hanya ingin memejamkan matanya yang terasa begitu berat dan juga keningnya yang berdenyut sakit. Akhirnya dia pun tertidur, yang membawanya ke dalam mimpi indahnya. Sementara itu di kamar lainnya juga sedang terjadi pertempuran panas lainnya. Seorang pria tampan dengan tubuh kekarnya, yang juga sedang dalam pengaruh obat sedang berhalusinasi dan menindih seorang perempuan di bawahnya. "Calista malam ini aku ingin kau menjadi milikku!!!" Pria itu memaksa untuk membuka pakaian wanita yang di anggapnya Calista. "Tidak, Dion. Jangan!! Aku bukan Calista, tapi aku Adiva," Adiva berteriak dan meronta di bawah tekanan pria di atasnya. "Calista diam lah, jangan memberontak nikmatilah apa yang akan aku berikan, kau adalah milikku, aku akan bertanggungjawab pada dirimu," suara berat Dion terdengar dan dia langsung menutup mulut Adiva dengan ciuman lembutnya, dan dia mulai memasukan lidahnya ke dalam mulut Adiva dan mengabsen satu persatu gigi Adiva. "Hmm ..." Adiva pun tersenyum menikmati sentuhan pria di atasnya "Bagus Dion tak masalah saat ini kamu menganggap aku Calista, yang pasti esok hari nanti setelah malam ini berlalu kau akan menjadi milikku untuk selamanya," ucap Adiva dalam hatinya dan tangannya pun mulai beraksi melepaskan pakaian Dion dengan cepat. Tangan lentik gadis itu mengelus-elus tubuh Dion, membuat Dion semakin terangsang untuk menjelajahi seluruh tubuhnya. "Ah ... ah ... ah ... Dion." "Calista ah ...." Disaat Dion dan Adiva sedang melakukan aktivitas panasnya, di tempat lain seorang gadis sedang berlari tergesa-gesa mencari kakaknya yang hilang dari ruang VIP di hotel. "Apa kalian melihat kemana kakakku pergi?" Ester bertanya pada para pengawal yang sedang berdiri di hadapannya. "Tuan sudah pergi beristirahat, Nona," jawaban sang pengawal membuat Ester marah dan mengepalkan tangannya menatap pengawal itu. "Kamar nomor berapa yang di tempati kakak, Ku?" tanya Ester "Kamar 909" jawab Sang pengawal, jawaban Sang pengawal membuat Ester melototkan matanya. "Oh tuhan, kalian cepat ikut aku!" teriak Ester langsung berlari dengan cepat menuju ke arah lift, yang di ikuti oleh pengawal itu. Saat lift terbuka, Ester cepat-cepat masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai 90. "Sial!!! Bagaimana mungkin kakak pergi ke kamar yang di tempati oleh Calista? Ah, bisa kacau semuanya," Ester begitu kesal dan mengomeli dirinya sendiri dia sudah tak sabar untuk cepat-cepat sampai ke lantai 90. Ting ... Akhirnya lift pun sampai ke lantai 90, begitu lift terbuka Ester langsung berlari keluar bersama dengan pengawal itu, hingga mereka tiba di kamar nomor 909. Ester membunyikan bel dan mengetuk pintu, tapi tak mendengar jawaban dari dalam sana. "Calista apa kau di dalam?" tanya Ester dengan penuh kecemasan. "Calista!" "Calista!" Merasa tidak ada yang menjawab dari dalam kamar, Ester lalu menatap pengawal yang ada di sampingnya. "Cepat pergi ambil kunci lainnya!" perintah Ester "Baik, Nona," jawab pengawal itu dan langsung pergi untuk melakukan perintah dari wanita itu. "Sial!! Aku harap kakakku tidak ada di dalam kamar ini, seandainya pun kakak ada di sini aku berharap tidak terjadi apa-apa kepada mereka," ucap Ester penuh dengan kecemasan. Dia bermaksud untuk menjebak Calista tidur dengan pria yang tak di kenal, tapi sekarang Calista malah tidur dengan kakaknya. Perasaan Ester tak karuan, dia merasa sangat takut, sampai akhirnya pengawal itu datang membawa kunci cadangan dan memberikan kepadanya. "Nona, ini kunci yang di minta." pengawal itu menyerahkan kunci kepada Ester dan wanita itu langsung membuka pintu kamar itu. Begitu masuk di dalam kamar, Ester langsung merasa shock begitu melihat seorang wanita dan seorang pria yang tidur di ranjang dengan pulas. Wajahnya menjadi sangat pucat, dikala dia melihat pria dan wanita yang sedang tertidur itu dalam keadaan tak berpakaian dan posisi sang pria yang memeluk wanita itu. "Astaga! Aku bisa di bunuh kakakku kalau dia sampai tahu, dia tidur dengan perempuan karena ulah ku," ucap Ester dalam hatinya dan menggelengkan kepalanya, lalu dia pergi keluar dari kamar dan memanggil beberapa pelayan. "Pindahkan wanita itu ke kamar yang lain," perintah Ester kepada pelayan itu, dan mereka langsung melakukan apa yang diperintahkan Ester. Setelah semua selesai, Ester keluar dari kamar dan menutup pintu kamar, setelah itu dia pergi keruang kendali CCTV dan menghapus semua rekaman CCTV. "Kalian harus memastikan rekaman CCTV itu tidak dapat di akses lagi oleh siapapun dan kalian harus tutup mulut dengan apa yang terjadi jangan pernah mengadu kepada kakakku, kalau sampai ada yang mengadu, aku akan memecat kalian dan akan ku pastikan tidak ada tempat yang akan menerima kalian apabila kalian di pecat dari hotel ini," ancam Ester kepada semua yang ada di situ. "Baik, Nona." Semua mengangguk tak ada satu pun dari mereka yang berani membantah perintah Ester. Ester berhasil menghilangkan semua bukti, dan entah sampai kapan dia akan terus menutupi semua rahasia ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN