Setelah keluar dari rumah keluarga Anderson, Calista merasa sangat sedih, dia terus saja menangis di dalam mobil Ester.
Melihat Calista yang seperti itu membuat Ester merasa sangat bersalah, "Apa yang terjadi pada Calista hari ini semua adalah salahku, aku sudah membuat dia menderita, seandainya saja Adiva tidak mengetahui rahasia pada diriku, maka semua ini pasti tidak akan terjadi, dan Calista tidak akan menderita."
"Apalagi kalau sampai kakak tahu apa yang terjadi, kalau sampai dia tahu kalau dia tidur dengan seorang wanita karena aku, dia pasti akan sangat marah," pikir Ester yang merasa sangat bersalah kepada kakak dan juga sahabatnya.
"Calista sudahlah kamu jangan menangis lagi, masih ada aku di sini yang akan selalu berada di sisimu," ucap Ester sambil memeluk Calista .
Calista yang sedang menangis pun menganggukan kepalanya.
"Tapi aku bingung, setelah ini aku harus kemana lagi, ayah pasti sudah melaporkan semuanya kepada oma dan mereka pasti sudah menjelek-jelekkan diriku kepada oma, kalau aku pergi ke rumah oma pasti dia juga tidak akan menerima ku, apartemen ku pun sudah di ambil kembali oleh ayah ku, Adiva dan ibunya sudah menguasai semuanya."
"Sekarang aku sudah tidak punya uang dan tidak punya tempat tinggal lagi," ucap Calista yang mulai menangis lagi karena memikirkan bagaimana dia akan melewati kehidupan kedepannya nanti.
Mendengar penuturan Calista itu membuat hati bunga semakin sakit, dia makin mengeratkan pelukannya kepada Calista.
"Ayah dan ibuku sudah memutuskan aku untuk pergi ke sebuah kota di luar negeri, walaupun itu bukan kota yang besar, tapi aku yakin kalau kita pergi kesana bersama semuanya pasti akan terasa lebih baik, dan kita akan bisa hidup bahagia bersama disana, bagaimana menurutmu?" tanya Ester pada Calista.
Calista yang sedang berada dalam pelukan Ester langsung melepaskan pelukan itu dan menatap sahabatnya.
"Tapi apakah kedua orangtuamu akan mengizinkan aku untuk ikut kesana, dan lagipula aku tidak ada sepersen pun saat ini untuk biaya ...."
"Apa yang kau bicarakan," sela Ester
"Tentu saja ayah dan ibuku akan mengizinkan kamu pergi bersama ku karena mereka tahu kalau kita adalah sahabat, bahkan ketika dulu aku membutuhkan pertolongan kamu yang selalu ada untuk membantuku, dan masalah uang jangan khawatir, orangtuaku akan memberikan aku uang saku yang banyak dan juga aku mempunyai tabungan, itu bisa kita gunakan untuk bertahan hidup disana nanti," ucap Ester
Calista terdiam menatap sahabatnya yang kini sedang berada dihadapannya itu, lalu dia pun mengangguk menyetujui Ester.
"Kalau begitu suatu saat nanti aku akan mengganti semua uang yang telah kau habiskan untukku, tapi apa yang akan kau lakukan di kota itu," tanya Calista yang merasa aneh karena temannya itu akan di asingkan lagi di kota lain di luar negeri, karena penyakit Ester sudah sembuh jadi tidak ada alasan lagi untuknya pergi dari kota ini ke kota lain diluar negeri.
"Beberapa hari yang lalu aku dan kedua orang tua ku pergi ke dokter, dan dokter mengatakan bahwa ada gejala kalau penyakit ku akan kambuh lagi karena aku tinggal di kota yang penuh dengan polusi, dan karena aku tidak mau tinggal di desa yang lalu aku tempati, maka orangtuaku memutuskan untuk mengirimku ke sebuah kota kecil di luar negeri," ucap Ester dan membuat Calista menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kita akan pergi bersama, aku akan menjaga mu sampai penyakitmu benar-benar sembuh," kata Calista yang membuat Ester bersorak gembira dan langsung memeluk Calista.
Dan mereka pun pergi kerumah keluarganya Ester untuk menginap disana selama beberapa hari sebelum mereka pergi ke kota yang akan mereka tinggali.
Setiba di rumahnya, Ester begitu khawatir kalau nanti Calista akan bertemu dengan kakaknya dan mereka saling mengenali.
Dan kebetulan saja kakaknya juga baru saja pulang sehingga mereka bertiga berpapasan di depan pintu, dan mereka saling pandang satu sama lainnya.
Calista yang melihat kakaknya Ester merasa sangat takut, perasaan takut yang sama seperti kepada pria pada malam itu.
Dengan samar kejadian yang terjadi pada malam itu langsung terbayang kembali membuat Calista gemetar ketakutan.
Sikap Calista saat ini tak luput dari pandangan Eiden kakaknya Ester, sehingga membuat pria itu mengernyit selama sesaat.
Melihat Eiden yang terus saja memperhatikan Calista, membuat Ester khawatir kalau saja kakaknya akan mengenali Calista dan mengingat kejadian pada malam itu.
"Kakak baru pulang yah?" tanya Ester sedikit takut melihat pria di depannya itu.
"Hmm ... " Jawab Eiden dengan dingin dan menatap sekilas kepada Calista yang sedang berdiri dan tertunduk malu di samping Ester.
Padahal biasanya Calista adalah wanita yang sangat periang dan bersemangat, tapi sekarang dia terlihat begitu lesu dan bahkan tidak menyapanya.
Yang lebih membuat Eiden merasa aneh adalah aroma pada tubuh Calista yang dia rasa begitu familiar, tapi dia tidak ingat bagaimana dia merasa sangat mengenal aroma tubuh itu.
"Setelah makan siang nanti datang temui aku," ucap Eiden setelah memandang Calista, dan dia langsung pergi meninggalkan kedua wanita yang ketakutan memandang dirinya.
"Astaga jangan sampai dia menanyakan tentang apa yang terjadi kemarin malam," ucap Ester dalam hatinya sambil berusaha untuk menenangkan kembali nafasnya.
Calista langsung mengangkat kepalanya dan menatap Ester.
"Bisakah kita langsung masuk kedalam kamar mu? Entah kenapa saat ini aku merasa sangat takut saat bertemu dengan kakakmu."
Apa yang dikatakan Calista membuat Ester tersadar.
"Astaga jangan-jangan antara Calista dan kakakku saling mengingat satu sama lainnya, kalau begitu aku harus cepat-cepat pergi dan memisahkan mereka berdua," ucap Ester dalam hatinya yang sudah begitu khawatir.
"Baiklah ayo kita masuk," Ester menarik tangan Calista dan membawanya kedalam kamarnya.
Saat berada dalam kamarnya Ester duduk di sofa dalam kamarnya dan memikirkan apa yang akan di bicarakan oleh kakaknya nanti.
Dia merasa sangat takut, kalau saja kakaknya tau apa yang telah terjadi pada malam itu, kakaknya pasti akan sangat marah kepada dirinya, dan kalau Calista tau dia yang menjadi penyebab semua yang terjadi pada dirinya mungkin Calista juga akan sangat membencinya.
Melihat Ester yang sedang melamun Calista mendekatinya dan mengejutkan Ester.
"Kamu lagi mikirin apa sih? Kok, dari tadi aku perhatikan kamu seperti sedang menyimpan sebuah beban yang berat," Calista bertanya pada Ester.
Ester yang di kagetkan oleh Calista berpikir sejenak apa jawaban yang harus di berikan.
"Hmm ... itu, aku cuma sedang memikirkan tentang penyakit ku ini, aku takut kalau aku tidak akan bisa sembuh."
Mendengar perkataan sahabatnya itu Calista langsung memeluk Ester
"Kamu tenang saja, aku akan membantu kamu untuk sembuh, aku akan selalu menemani kamu sampai penyakit mu itu benar-benar menghilang."
Mendengar Calista yang begitu perhatian dengan dirinya Ester pun mengeratkan pelukan mereka.
"Maafkan aku Cal, kamu begitu memperhatikan diriku, tapi aku sudah begitu jahat kepada dirimu," sesal Ester dalam hatinya.