Zevana Pov Aku mengipasi wajahku yang kuyakini sudah sangat memerah dan berkeringat banyak. Bagaimana tidak? Karena kalah taruhan dari sahabat gilaku--Tara--, aku jadi terpaksa harus menuruti apapun yang dia inginkan. Di saat aku berpikir kalau Tara tidak akan membuatku menderita dengan keinginan gilanya, justru dia malah memintaku untuk menyantap semangkuk bakso pedasnya Pak Amin--tukang bakso di kantin kampus--yang ditambah dengan tiga sendok cabai superpedas sekali. Kalo kupikir lagi secara cermat, dia itu sahabat atau musuhku sih? Kok sampe begininya banget memperlakukan sahabatnya sendiri. "Yuhuuu, segelas teh manis gue hidangkan spesial buat sahabat gue yang paling man--" Tidak perlu repot menunggu dia menyelesaikan kalimat superlebaynya, aku sudah lebih dulu menyambar gelas teh

