Zevana Pov
"NAIK RAKIT??"
Aku terbelalak lebar di buatnya. Di saat aku sedang merenungkan kesakitan hatiku karena sudah bertengkar hebat dengan Rissyi di kampus tadi, Rumy justru membawaku ke sebuah danau dan dengan tiba-tiba sekarang dia mengajakku untuk menaiki rakit yang katanya sudah ia pinjam dari seorang bapak-bapak yang tengah beristirahat dari pekerjaannya yang ntah apa itu aku tak terlalu tau.
"Iya. Kau belum pernah mencobanya kan?" Tanya Rumy dengan raut datarnya
Aku menggigit bibir bawahku cemas. Ya aku memang belum pernah menaiki rakit di tengah danau, tapi apa harus?
"Ayolah, aku hanya ingin membuatmu terbebas dari segala beban yang hinggap di bahumu ini!" Ujarnya tegas seraya merengkuh bahuku cukup kuat
Aku menatapnya ragu. Mengerjap beberapa kali dan sungguh aku belum pernah mencoba sebelumnya. Di tambah aku yang gak bisa berenang, jadi aku takut di tengah-tengah nanti aku terjatuh dari rakitnya dan bagaimana kalau aku tenggelam ke dasar danau?
"Kau mencemaskan apa?" Tegurnya menatapku dalam
Duh, harus banget ya aku jawab? Masa aku harus bilang yang sebenarnya? Nanti aku di ketawain Rumy lagi.
"Hey! Apa yang kau takutkan hem?" Desak Rumy mengangkat daguku
Dengan bola mataku yang bergerak liar aku pun mencoba untuk menyuarakan ketakutanku, "Aku.. Aku takut kecebur ke danau." Cicitku pelan lalu menundukkan pandanganku dengan cepat
Di tengah kecemasanku dan rasa malu yang mendadak datang, tiba-tiba aku mendengar suara tawa yang di tahan paksa. Aku lantas mengangkat mukaku dan pupil mataku melebar ketika melihat Rumy menutup mulutnya dengan sebelah tangan lalu di ikuti bahunya yang sedikit bergetar.
Tunggu!
Dia gak lagi nahan ketawa kan?
"AHAHAHAHA" dan tanpa ku duga tawanyapun pecah membahana.
Tuhan? Dia tertawa?
Oh my god! Seharusnya aku kesal karena di tertawakan tapi untuk yang satu ini kayaknya aku harus mengabadikan expresi tertawanya dengan baik deh di rekaman pandanganku. Dia ganteng banget pas lagi ketawa begitu. Duh, jadi lemes deh ngeliat kegantengannya yang berlipat ganda?
Tanpa sadar mulutku terbuka lebar saking kesengsemnya melihat Rumy yang perdana menunjukkan expresi tertawanya.
"Ehem. Maaf, aku kelepasan." Dehemnya meredam tawa
Tapi rasanya aku masih takjub dengan penglihatanku barusan. Demi Tuhan! Aku baru kali ini melihat Rumy tertawa dan itu charming banget. Selama ini dia cuman nunjukin muka datarnya kan? Dan sekali waktu itu Rumy sempat tersenyum tipis yang berhasil membuatku terpana juga sampai terbayang-bayang hingga aku tertidur.
Lalu sekarang? Dia ketawa. Aku gak akan pernah bosan untuk mengatakan kalau dia ganteng banget okey!
"Hey! Ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh di mukaku?" Tegurnya sambil memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang menempel di mukanya yang sudah kembali ke semula. Datar.
Akupun tersadar dari pikiranku. Spontan mengatupkan mulutku yang semula terbuka. Untung saja tidak ada lalat yang masuk. Fiuh...
"Ah tidak tidak, aku hanya emm ah sudahlah, ayo katanya kau mau mengajakku naik rakit?" Sebaiknya aku tidak membahas alasan mengenai wajah anehku barusan saat menatapnya, dari pada keterusan jadi aku berjalan mendahuluinya saja menuju rakit coklat yang mengapung di tepi danau.
----
"Rileks saja, tidak akan terjatuh.." Ujar Rumy menenangkan
Kau tau? Saat ini rakit yang ku naiki bersama Rumy sudah mulai merayap ke tengah danau.
"Aku takut.." Bisikku mengeratkan pegangan tanganku di lengan kemejanya.
"Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu terjatuh ke danau.." Katanya lembut dan berhasil membuatku terlarut dalam kenyamanan dari suara baritonnya
Demi Ayah dan Bunda yang ku sayangi. Aku tidak berani berjauhan dengan Rumy sekarang, lututku rasanya lemas dan aku sangat takut untuk sekedar bergerak kecil di atas rakit ini.
Bahkan melihat ke arah danau saja aku tidak sanggup!
"Hey! Buka lah matamu, tidak ada yang perlu kau takuti disini. Lihatlah kita sudah berada di tengah danau saat ini" tukasnya memberitahu, tapi tidak sedikitpun aku membuka mata.
Sudah ku bilang! Aku terlalu takut untuk melihat keadaan.
"Zevana, buka matamu! Kau akan sangat menyesal jika melewatkan moment indah ini" serunya lantas ku rasakan sekitar bahuku di lingkaran lengannya
"Tidak! Aku tidak mau membuka mataku. Aku takut jatuh dari rakit ini" gelengku masih tak berminat untuk menuruti apa kata Rumy
Ku dengar lelaki itu menghela nafasnya sejenak, "Dengan hanya membuka matamu saja tidak akan membuatmu terjatuh. Kecuali kau berjingkrak heboh di atas sini. Ayo lah, hargai usahaku yang sudah mendayung rakit hingga sejauh ini. Setidaknya kau perlu melihat betapa indahnya pemandangan dari tengah danau ini." Gumamnya lebih ke nada mengeluh ku rasa
Tapi suruh siapa dia mendayung? Kan aku juga tidak menyuruhnya.
"Terserah apa katamu! Yang jelas aku tidak akan membuka mata sampai kamu membawaku kembali ke daratan. Lagi pula aku juga tidak menyuruhmu untuk mendayung rakit itu, jadi tidak ada alasan agar aku menghargai usahamu itu ya!" Omelku tak mau tau, aku benarkan?
"Hah baiklah. Jangan salahkan aku kalau aku tidak akan pernah mendayung rakit ini kembali ke daratan nona manis!" Ancamnya membuatku berhasil membuka mata dengan spontan
"APA KAU BILANG?" pekikku melototinya, bahkan pegangan tanganku di kemejanya sudah terlepas begitu saja
Ku lihat dia menyeringai puas, hey! Ternyata dia bisa menyeringai juga eh?
"Begitu dong. Kau harus ku ancam dulu rupanya, baru mau membuka matamu itu!" Dengusnya mendelik
Tunggu! Jadi dia sengaja?
"KAU!" Seruku lantang menyalang dan ketika langkahku bergerak mundur aku baru ingat kalau saat ini aku sedang di atas rakit di tengah danau.
Dan gara-gara gerakan refleksku barusan, rakit yang lebarnya hanya seukuran lima petak lantai di rumah pun terguncang menggoyahkan keseimbangan tubuhku.
"Woah!" Teriakku panik dan langsung melompat memeluk tubuh Rumy dari samping
"Jangan takut! Aku tidak akan membiarkanmu terjatuh.." Ucapnya menarik tangan kirinya keluar dari dalam pelukanku dan melingkarkannya di pinggangku sehingga sekarang pelukan itu di ambil alih oleh Rumy
Seperti mantra yang terus terucap, kalimat menenangkan itu pun berhasil menghilangkan sedikit rasa takutku yang semula menguasai.
---
Author Pov
Setelah berulang kali Zevana menerima mantra ampuh yang di lontarkan dari mulut Rumy, akhirnya sedikit demi sedikit gadis itu pun berhasil mengatasi rasa takutnya. Kini dia sudah tidak lagi memejamkan kedua matanya, justru dia sedang memandang takjub ke sekelilingnya. Binar matanya sangat terlihat jelas dari iris coklat gelapnya.
Dari tempatnya berdiri sekarang Zevana bisa melihat puluhan pohon pinus yang mengelilingi danau seluas ini. Bahkan tak jarang dia pun menangkap beberapa orang hilir mudik di petakan sawah yang letaknya lumayan jauh dari danau, tapi ajaibnya di posisi tengah seperti ini Zevana justru bisa melihat semuanya dengan rasa takjub yang tak pernah hilang dari pikirannya.
"Kau suka?" Tanya Rumy yang tak pernah melepaskan rengkuhan tangannya di pinggang sang gadis
Zevana menoleh lantas mengangguk semangat. "Suka. Aku suka melihat semua ini. Terima kasih.." Lirih Zevana tersenyum manis
Menghantarkan getaran aneh yang langsung berdesir di bagian hatinya. Rumy sedikit terpana akan senyuman Zevana. Sungguh! Jika di izinkan, apa boleh Rumy mengecup bibir gadis di rengkuhannya itu?
"Apa yang kau lihat?" Tegur Zevana memiringkan kepalanya
Rumy pun membuang pandangannya seketika, "Ah? Em.. Lihat lah! Bunga itu sangat indah sekali" tunjuk Rumy cepat ke arah bunga teratai yang mengapung di bagian utara danau.
Berhasil mengalihkan perhatian Zevana, Rumy pun mengusap dadanya yang seketika di serang rasa gugup. Senyuman manisnya membuatku nyaris gila! Batin Rumy tak habis pikir.
Senyuman gembira tak pernah luntur dari bibir sang gadis. Membuat Rumy mau tak mau ikut tersenyum diam-diam. Setidaknya gadis itu bisa tersenyum kembali, kesedihannya sudah bisa tergantikan oleh binaran bahagia yang terpancar dari matanya.
Meskipun Rumy baru bisa mengajak Zevana ke tengah danau saja, tapi lelaki itu cukup puas akan usahanya. Dia pun bertekad akan mengajak Zevana ke suatu tempat di waktu lain. Kalau sekarang rasanya tidak mungkin, karena saat Rumy melirik arlojinya jarum jam bahkan sudah bertengger ke angka 1.
Sepertinya Rumy harus segera menepikan kembali rakitnya ke daratan. Sudah waktunya dia mengajak Zevana makan siang.
"Kita ke darat ya?" Putus Rumy bersiap untuk menggerakkan dayungnya
"Tunggu!" Cegah Zevana menahan lengan lelaki itu, "Ada satu hal yang akan aku lakukan sebelum mendarat ke tepi" lanjutnya menjawab tatapan bertanya yang Rumy sorotkan
"Apa?"
Zevana tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sesaat, lalu bergerak pelan membelakangi Rumy. Dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Sampai akhirnya di tengah Rumy yang memandang gadis itu dengan raut bingungnya, tiba-tiba saja...
"AAAAAAAAAAAAA" Rumy sampai terlonjak mendengar teriakan lepas dari gadis yang memunggunginya itu, "SELAMAT TINGGAL MASALALU! SEMOGA KAMU TIDAK KEMBALI MENGUSIK KEHIDUPAN BARUKU YA!" Lanjutnya masih berteriak, selepas itu Zevana kembali menghadap Rumy dan mengangguk mantap sebagai pertanda bahwa dia sudah siap untuk di bawa ke tepi danau sana.
Rumy masih sedikit kaget beberapa saat, tapi tidak bisa di pungkiri mendengar teriakan Zevana tadi senyuman tipispun kembali tersungging di bibirnya. Dengan semangat ia lantas menggerakan dayungnya ke dalam air danau beriak seirama pendayungan.
Tanpa Rumy sadari Zevana pun kembali di buat meleleh akibat senyumannya tadi.
Tuhan, sepertinya aku butuh tambahan tenaga lagi agar lututku tidak selalu lemas jika tiba-tiba Rumy memamerkan senyumannya itu....
---
Rumy Pov
"Kau mau pesan apa?" Tawarku pada gadis manis yang duduk di sebrangku sekarang, Zevana. Dia lantas melihat buku menu yang sedang di buka halaman demi halamannya dengan seksama
Setelah menepikan rakit ke daratan dengan lancar tanpa hambatan, aku langsung mengembalikan rakit beserta dayungnya ke bapak tua yang tersenyum ramah saat melihatku kembali. Aku pun menambahkan sedikit bayaran pada bapak tua itu, anggap saja sebagai balas jasa karena berkat rakit pinjamannya aku bisa melihat kembali senyuman Zevana.
Bapak tua itu awalnya menolak namun bukan Rumy namanya jika aku tidak berhasil membujuk bapak itu agar menerimanya. Setelah memastikan si bapak menerima sedikit rezeki Tuhan yang menjadikanku sebagai perantaranya, aku pun berpamitan untuk menyusul Zevana yang ku minta agar berjalan ke mobil duluan.
Dan sekarang disinilah kami. Di sebuah cafe yang menyajikan berbagai menu makan siang untuk di santap para pengunjung.
"Sudah ada pilihan yang menggugah seleramu?" Tanyaku kembali setelah beberapa saat membiarkannya memilah-milih menu untuk di pesannya
Zevana mengangkat wajahnya, buku menupun ia tutup dan ia taruh kembali di atas meja.
"Bagaimana?"
"Emm aku pesan nasi goreng rawon aja deh pake pedes ya, sama minumnya jus mangga." Ucapnya menyebutkan pesanannya
Aku mengangguk lalu menjentikan jariku di udara memanggil salah satu pelayan yang siap untuk melayani.
Setelah pelayan wanita itu datang menghampiri, aku segera menyebutkan jenis pesananku dan juga Zevana yang langsung di catat di notanya. Tanpa mau berbasa-basi lagi aku pun segera mengalihkan perhatianku ke arah Zevana. Berharap pelayan wanita tadi segera pergi sesudah ku abaikan senyuman menggodanya.
Bahkan di saat aku datang bersama seorang gadis pun, pelayan wanita itu masih saja berusaha menarik perhatianku. Aku tidak mengerti lagi dengan pikiran wanita sepertinya!
"Kau sering datang ke cafe ini ya?" Tiba-tiba saja gadis manis di hadapanku melayangkan pertanyaannya padaku
"Ya. Dari mana kau tau?" Jawabku jujur, aku sedikit kaget juga karena tebakannya tidak meleset.
"Hanya menebak" katanya dengan bahu terangkat,
Dan aku hanya mengangguk saja mendengar jawaban acuh tak acuh darinya.
Di sela menunggu pesanan datang, tiba-tiba ponselku berdering. Sepertinya aku harus mengangkatnya dulu.
"Zevana" panggilku, dia yang sedang menikmati pemandangan cafe di sekelilingnya pun lantas menoleh ke arahku
"Ya?"
"Aku angkat telpon dulu, kalau pesanan sudah datang kau makan saja duluan!" Ujarku mengomando
Dia mengangguk. Kemudian aku beranjak sambil menjawab panggilan yang masuk. Ku tempelkan ponsel di telinga kananku, sambil berjalan sedikit menjauh aku pun menyambut sang penelpon dengan kata "Hallo!"
"Kau dimana sayang? Papa bilang kamu gak masuk kerja ya?" Mama, selalu saja mendengar kabar dari papa. Begini ribetnya kalau bekerja satu atap dengan papa sendiri!
"Ya ma. Aku gak masuk hari ini..." Desahku pelan
"Kenapa? Lalu sekarang kau ada dimana? Kamu kenapa bolos kerja sih? Gak lama lagi kamu itu bakalan nafkahin istri kamu, jadi kamu harus rajin kerja dong. Jangan malas-malasan begitu!" Omel mama panjang lebar
Kalau mama tau aku memutar bola mataku ketika sedang di omelin seperti ini, mungkin telingaku sudah menjadi target jewerannya.
"Raditya Rumy Erjaya! Kamu dengerin omongan mama kan?" Sentak mama sedikit keras
"Ya ma, aku denger" jawabku sedikit malas
"Lalu kenapa kamu gak jawab? Kamu lagi ada dimana sekarang? Sama siapa hem? Kamu--"
"Aku lagi jalan sama Zevana ma. Seharian ini aku sama dia terus!" Potongku gemas tidak tahan dengan omelan mama yang tak pernah berhenti.
Beberapa saat mama tidak bersuara, ku pikir sambungannya terputus tapi di detik selanjutnya aku pun berhasil di kejutkan oleh pekikkan kaget dari mama di sebrang sana.
"Benarkah? Kau sedang bersama calon menantu mama?"
Aku membuang nafas pelan, "Iya ma. Dan aku akan menjelaskannya nanti pada papa"
"Tidak! Tidak! Biar mama saja yang kasih tau papa ya. Sekarang kamu lanjutin saja jalan sama Zevana, kalau perlu cari tau lebih dalam lagi tentang dirinya agar kamu semakin mengenalnya lebih dekat. Oh mama senang sekali kamu bisa jalan seharian dengan calon menantu mama, ya sudah kamu lanjutkan saja ya. Nanti mama sambung lagi kalau kamu sudah mengantar Zevana pulang ke rumahnya. Bye bye sayang.." Setelah cerocosan mamaku tercinta berakhir, sambunganpun terputus.
Aku hanya menggeleng kepala mengetahui kelakuan ajaib mamaku ini. Perubahannya sangat drastis jika sudah menyangkut soal gadis itu. Sepertinya aku harus segera mengabulkan permintaan mama untuk menjadikan Zevana sebagai menantu di keluarga besar Erjaya. Biar mamaku tidak bawel lagi dan kebahagiaannya akan lengkap jika aku berhasil memperistri Zevana.
Tapi apa gadis itu akan bersedia jika ku nikahi?
Ah ntahlah, biar nanti ku pikirkan. Sebaiknya aku segera kembali ke meja, sudah terlalu lama aku membuatnya menunggu. Semoga saja Zevana sedang asyik menyantap nasi rawon pesanannya sekarang.
Ketika aku hampir sampai ke mejaku dimana Zevana berada di sana, tiba-tiba langkahku terhenti saat pandanganku menangkap sosok lelaki b******k itu lagi yang kini sedang berlutut di bawah kaki Zevana yang kembali meneteskan air mata di pipinya.
Sialan! Susah payah aku membuat Zevana lupa akan kesedihannya, lelaki itu justru malah kembali datang mengusik gadis itu lagi. Aku tidak bisa tinggal diam melihatnya!
Ku lebarkan langkahku menghampirinya. Dan ketika aku sudah berhasil mendekat, tanpa segan-segan ku tarik lengan Zevana dan meraihnya ke dalam pelukanku. Lelaki b******k itu tampak tidak suka, dia bangkit berdiri menatapku geram.
"Apa?" Tatapku dingin
Zevana hanya terdiam membisu di dalam dekapanku.
"Elo? Sebaiknya lo gak usah ikut campur! Dia cewek gue dan lo siapanya hah? Lo cuman cowok asing yang sok-sok-an jadi pahlawan buat dia doang kan? Udah deh lebih baik lo lepasin pelukan lo itu dan biarin dia ikut sama gue sekarang!" Ocehnya dengan nada tak bersahabat, sedikit banyak berhasil membuat bisik-bisik tercipta dari para pengunjung cafe ini
Tapi aku tidak gentar akan hal itu. Justru aku lebih bersemangat untuk mempermalukan lelaki b******k itu sekarang!
"Hey! Lo kenapa cuma diam hah? Lo gak denger apa kata gue? Serahin Zevana dan--"
"Kamu tidak berhak lagi untuk menyentuh gadisku. Kamu sudah menghianatinya dan kamu sudah memilih gadis lain sebagai tunanganmu. Tidak lupa akan hal itu?" Lirikku tajam dengan sebelah alis ku angkat naik
Aku tau reaksinya pasti akan seperti itu. Emosi pun mulai menguasai diri lelaki di hadapanku. Rahangnya terkatup rapat dan tangannya pun mengepal kuat di masing-masing pahanya.
"Elo? Lo gak berhak ikut campur sama masalah gue dan cewek gue! Emangnya lo siapa hah? Sampe-sampe--"
"Aku calon suami Zevana dan aku berhak melindunginya dari lelaki b******k seperti kamu!" Selaku tajam seketika membuat tubuh gadis di dalam dekapanku membeku akibat perkataanku barusan
Aku tau aku salah untuk hal ini, tapi aku terpaksa mengatakannya karena aku sudah muak dengan lelaki b******n yang sudah membuat gadis semanis Zevana menangis karena ulah brengseknya malam itu!
Dia tampak terkejut setelah mendengar penuturanku, mungkin bukan hanya dia tapi aku dan Zevana pun sama halnya tak jauh berbeda. Aku kaget juga mendengar perkataan itu terluncur begitu saja dari mulutku, tapi ntahlah ku rasa itu lebih baik dari pada tidak ada pembelaan sama sekali.
"Elo? Elo calon suaminya?" Suaranya berubah lirih seperti tak percaya akan kenyataan yang baru di dengarnya barusan
Karena sudah terlanjur aku ucapkan, maka kepalaku pun mengangguk dengan mantap untuk meyakinkan.
"Ya. Tak lama lagi kami akan menikah dan ku harap kamu tidak muncul lagi di kehidupan calon istriku." Ujarku menambahkan, membuat bahu lelaki itu merosot lunglai tak bertenaga
Dia lantas menujukan pandangannya ke arah gadisku yang masih membeku dalam dekapanku. Tak lama kemudian Zevana pun beringsut melepaskan diri dari dekapanku.
Dia sudah berdiri tegak dengan pandangan nanar ke lantai cafe di bawahnya.
"Zevana ... Apa yang ku dengar barusan benar adanya?" Tanya lelaki berdagu lancip itu menatap Zevana, bahkan air mukanya berubah sedih sekarang
Aku menunggu respon yang akan di berikan oleh Zevana. Jujur saja aku sedikit cemas dengan jawabannya. Bagaimana kalau tiba-tiba dia menyangkal? Mau di taruh dimana mukaku ini hem?
Tapi di saat aku berpikir bahwa Zevana akan menggeleng dan menjawab tidak, justru aku malah di kejutkan oleh reaksi sebenarnya yang ia tunjukkan.
Pertama Zevana mengangkat mukanya, menatap lelaki di hadapannya dengan datar dan ada sedikit pancaran benci dari iris coklat gelapnya.
"Apa yang kamu dengar gak salah kok. Dia memang calon suamiku dan gak lama lagi aku akan menikah dengannya. Jadi tolong, jangan pernah menggangguku lagi! Jalani saja apa yang sudah menjadi takdirmu. Kamu sudah memilih dengan siapa kamu akan menjalani kisah cintamu, maka tidak ada yang perlu di sesali. Berbahagialah dengan Audy, karena dia juga pantas mendapatkan kebahagiaan bersamamu. Dan jangan lupa doakan aku agar selalu bahagia, setidaknya aku bisa mendapatkan lelaki yang JAUH LEBIH BAIK darimu.. Selamat ya atas pertunangannya. Sampaikan salamku pada tunanganmu! Maaf aku gak bisa lama-lama," tuturnya panjang lebar dan cukup membuatku tertegun beberapa saat ketika mendengar kalimat demi kalimatnya. Apa dia mengatakannya dari dalam hatinya sendiri? Atau hanya sebuah sandiwara saja?
Setelah berkata seperti itu dia lantas melangkah pergi ke arah pintu keluar, sebelum dia melangkah melewati pintu dia pun menyempatkan diri untuk menoleh ke arahku. Aku bisa menangkap gerakan mulutnya yang mengatakan 'Aku menunggumu di luar, selesaikanlah secepatnya!' Dan selepas itu dia pun melanjutkan langkahnya keluar cafe.
Tanpa mau berujar apapun lagi pada lelaki yang kini sedang mematung di tempatnya, aku pun mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu dari dalam dompet dan menaruhnya di atas meja yang bahkan masih terisi piring dan gelas yang pesanannya belum sempat di santap sedikitpun.
Tidak mau menghiraukan lagi sosok lekaki b******k itu, aku lantas berlari kecil menyusul Zevana yang sudah menunggu. Tidak perduli dengan pandangan aneh yang di tujukan kepadaku dari sebagian pengunjung cafe ini. Aku hanya memperdulikan Zevana yang mungkin akan kembali menangis setelah kejadian tak di harapkan ini.