Satu orang pria yang sudah berpenampilan tampan dan kece bagaikan model Hollywood mendapatkan sambutan yang begitu mencengangkan. Botol minuman kosong mengenai kening yang di dalamnya ada otak cemerlang.
Sahabatnya yang berdiri dan berjalan berbarengan tadi merasa beruntung. Dirinya tidak terkena lemparan botol kosong itu.
Ingin sekali dia menertawakan sahabatnya Biyan. Ini sungguh kejadian yang teramat lucu. Kapan lagi ada yang berani melempar botol dan mengenai kening sahabatnya itu.
Mereka kembali berjalan. Brian tetap memegang botol kosong untuk mencari pelaku pelemparan itu. "Anak jaman sekarang nakal-nakal!" Gerutu Biyan.
"Gak geger otak, kan, lho? Duh kasian banget, sih!" Alex meniup-niup kening Biyan yang memerah. Makeup yang sudah cetar membahana badai rusak dengan warna kemerahan karena tertumpuk botol.
Alex berusaha menahan tawa agar dia tidak di marahi oleh Biyan.
Biyan memalingkan wajah. Dia enggan untuk di tiup-tiup oleh Alex.
Brug …
Pria malang yang tampil kece badai ini kembali mendapatkan kesialan lagi. Kali ini Alex tidak bisa menahan tawanya lagi melihat Biyan menabrak tong sampah yang diam berada di tempatnya.
"Kalo jalan lihat-lihat dong!" Alex mengejek Biyan.
"Awas Lu, ya!" Alex berlari meninggalkan Biyan. Kali ini dia yang kualat dan menabrak tiang sekolah.
"Rasain Lu. Sapa suruh ngejek gue!" Jari tangan Biyan membentuk huruf V dan menggerakan ke matanya dan ke arah Alex.
"Gue awasin, Lo!"
"Maaf-maaf, Bi." Alex mengusap-ngusap keningnya yang terasa sakit. Dia berkaca pada jendela kelas yang kosong. Memeriksa apakah tampilan cetarnya itu rusak atau tidak.
Beruntung hasil mahakarya yang mahal ini tidak rusak sama sekali.
Alex melihat dua gadis yang tengah duduk meluruskan kaki di depan kelas menghalangi jalan.
"Kita kelas IPA dua, kan? Yuk tanya dua gadis unyu-unyu gemesh itu!" ajak Alex lalu mendekati dua gadis.
"Ehem … ehem." Alex berjongkok dan melihat wajah dua gadis cantik ini.
Kedua gadis saling pandang lalu meliriknya. Biyan tetap berdiri menyilangkan tangan sambil memegang botol kosong tadi.
Setelah dua gadis melihat Alex dan Biyan. Mereka saling pandang dan terlihat gugup. Berlari memasuki kelas, meninggalkan Alex dan Biyan begitu saja.
Alex mengedipkan mata beberapa kali dan merasa heran. “Mereka takut ke kita, apa terpesona oleh ketampanan kita?” Alex berdiri dan memandang Biyan. Menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
"Padahal abang mau nanya kelas doang, lho, Dek!"
"Ga usah tanya kali, Lex. Noh baca!" Biyan mencapit kepala Alex agar melihat ke depan. Begitu terpangpang nyata sebesar itu masa tidak terlihat oleh mata Alex. Tulisan di atas pintu yang bertuliskan kelas IPA dua. Tempat mereka berdua memulai hari sebagai siswa SMA.
Seorang guru mendekat dan mengagetkan keduanya dari arah belakang. Alex terperanjat. Dia kira ada setan di siang hari. Sekolah kan biasanya seram.
"Kalian anak baru yang ke kantor tadi, kan? Ayo masuk ke kelas saya!" ajak sang guru yang berjalan mendahului Alex dan Biyan. Keduanya mengekori hingga masuk ke dalam kelas.
Suara riuh kekacauan setiap pagi sebelum kelas di mulai membuat telinga terganggu. "Anak-anak. Diam semuanya!" Guru berpakaian serba biru itu sedikit menggebrak meja.
"Iya, Pak!" jawab murid-murid kompak.
Dua orang gadis yang duduk di bagian tengah panik kala melihat dua pria yang kini berdiri di depan kelas.
"Mampus lho. Dia anak baru di kelas kita!" Seorang gadis menjulurkan lidahnya pada sang sahabat yang terlihat panas dingin.
"Kenalkan. Ini dua anak baru yang akan menjadi bagian dari kelas kita!" Pak guru menunjuk Alex dan Biyan.
"Silahkan perkenalkan diri kalian!"
"Ehem … ehem …." Alex bertingkah so cool.
"Ladies and gentleman. Eh … girls and boy. Perkenalkan kami duo G!" Alex membentuk tangan untuk memberikan gaya vis. Dia terlihat sangat lebai.
Biyan memalingkan wajah menatap pintu luar.
"Saya Gunawan yang tampan dan kece badai, dan ini sahabat saya Gibran yang cool! Mulai hari ini. Kita akan bersekolah dan tinggal di kelas ini!"
Suara riuh tepukan tangan dari para murid yang membuat Alex bersemangat, setelah mendapat perlakuan dingin di hadapan murid lain oleh Biyan.
"Terima kasih Gunawan. Silahkan kalian pilih bangku yang kosong!" Pak guru menunjuk dua kursi kosong di bagian belakang.
"Baik, Pak!"
Mereka berjalan santuy dan cool melewati para gadis yang memperhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Biyan memainkan botol kosong. Melempar-lemparkannya ke udara beberapa kali. Dia duduk di bangku belakang dekat dengan dua gadis tadi.
"Lihat kaga? Itu yang di mainin. Itu- itu-" Gadis bernama Rahma menendang-nendang bangku gadis bernama Jesica.
"Itu apaan?" tanya Jesica yang tidak mau di ganggu. Melihat wajah dua anak baru saja, membuat dia panas dingin.
"Itu, botol Lo, Jes!" Rahma melirik ke arh Biyan.
Jesica ikut melirik ke arah pria bernama Gibran. Dia menelan salivanya susah payah saat melihat botol kosong sangat setia berada di genggaman pria itu.
"Abis Lo. Abis!" Rahma menakut-nakuti Jesica lagi.
Jasica yang ketakutan sampai tidak bisa konsen mendengar guru bernama Sony menjelaskan pelajaran matematika. Dua jam pelajaran terasa seperti dua abad baginya. Ingin sekali dia keluar kelas dan meminum minuman yang sangat dingin. Menyejukkan hati yang sedang memanas.
Merasa terus di perhatikan. Biyan menatap tajam mata Rahma dan Jesica yang terus saja menoleh ke arahnya.
Alex mendekatkan bangkunya agar rapat dengan bangku Biyan.
"Heh … heh …. Anak Lo kira-kira bakal ngenalin bapaknya ga, ya?" tanya Alex yang tidak mendengarkan guru malah sibuk mengganggu Biyan.
"Ga bakal. Makeup ini bikin gue juga ga ngenalin, Lo!" jawab Biyan dingin.
"Diem Lu. Dengerin tu guru lagi jelasin pelajaran!" Bentaknya lagi pada Alex agar tidak terus mengganggu.
Biyan meletakkan botol kosong di mejanya bagian paling depan. "Awas Lu, Tol. Gue cari pemilik Lo yang nimpuk pala gue!" Gumam Biyan menatap botol.
Alex sibuk menggoda gadis-gadis cantik yang duduk sejajar dengannya. Sesekali dia mengedipkan sebelah mata agar membuat para gadis merasa kegeeran.
"Gadis-gadis di kelas ini cantik!" bisik Alex di telinga Biyan.
"Gue mau satu sugar baby lagi!" ucapnya lagi yang membuat Biyan semakin kesal.
Alex menyandarkan kepalanya di pundak Biyan saat sibuk menatap gadis yang menarik perhatiannya.
Bel istirahat berbunyi dan Biyan segera berdiri. Alex yang keenakan bersandar kaget dan hampir kehilangan keseimbangan.
"Aduh … hampir aja gue jatuh. Tungguin hei!" Alex di tinggalkan Biyan yang sepertinya akan menuju ke kantin.
Jesic yang sedari tadi merasa tidak nyaman dan mengeluarkan keringat dingin segera terperanjat saat bel berbunyi dan guru keluar dari kelasnya.
Brug ….
Kepala dia tidak sengaja menabrak d**a bidang entah milik siapa. Tubuh Jesica kehilangan keseimbangan sehingga tubuhnya hampir terpental ke belakang.
Tangan kekar seorang pria menahan pinggang Jesica agar gadis itu tidak terjatuh.
Jesica menelan salivanya susah payah saat melihat wajah siapa pria yang ia tabrak dan menyelamatkannya. Ini pria yang terkena lemparan botolnya tadi. Seketika tangan dan kaki Jesika seakan mati rasa. Jantungnya berdegup kencang dan paru-parunya seakan kesulitan untuk bernafas.
Biyan yang sedang berjalan dan tertabrak seorang gadis segera menangkap tubuh gadis itu agar tidak terjatuh ke belakang dengan tangannya yang kekar.
Matanya membulat kala melihat wajah gadis yang ada di hadapannya kini.
"Kamu!" Biyan mengerutkan dahinya. Dia mengenal gadis ini.
Jesica panik saat mendengar kata 'Kamu'. Jangan-jangan, pria ini mengenalinya dan akan memarahi dia karena melempar botol. Bagian kening pria ini juga terlihat memerah.
'Abis bersih gue' gumamnya dalam hati. Jesica panik dan segera berdiri lalu melepaskan tangan anak baru bernama Gibran.
"Aaaa …," teriaknya sambil berlari meninggalkan kelas.
Rahma yang membuka mulut lebar-lebar saat melihat kejadian itu segera berlari menyusul Jesica. "Tungguin gue, Jes!
"Hahahahaha." Tawa alex terdengar. Dia mendekat ke arah Biyan.
"Ada ya, cewe yang takut ama Lo? Sapa namanya tadi 'Jes' Jeslyn apa Jesica apa Jeje, ya?" Alex menggaruk kepalanya.
"Makanya jangan terlalu dingin, Bro!" Alex menepuk pundak Biyan.
"Dia!" Biyan menunjuk gadis yang berlari itu dengan telunjuknya.
"Dia siapa, Bi?" tanya Alex yang heran.