Seorang pria berseragam putih abu-abu tengah berjalan meninggalkan rekannya yang sedang berdiri mengajaknya berbicara. Telinganya sudah enggan mendengarkan beragam ocehan dari pria yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabatnya itu.
Di pikirannya saat ini adalah seorang gadis yang pernah ia temui, kini di pertemukan lagi. Gadis yang waktu itu masuk ke dalam mobilnya tanpa permisi. Gadis yang terlihat panik dan ketakutan, lalu setelah tenang pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih.
Gadis yang rambutnya di kuncir it berlari menjauh ke arah kantin. Ia berjalan cepat untuk memastikan kembali bahwa gadis itu benar-benar gadis yang naik ke mobilnya.
“Tunggu gue, Bi. Eh Gibran!” Gunawan menyusul langkah kaki Gibran. Sialnya hari ini, dia banyak mendapat perlakuan dingin dan selalu saja di abaikan. ‘Awas Lo. Giliran gue entar cuekin Lo.’ Batin Alex memperhatikan Biyan dari belakang. Sahabatnya itu memang dingin dan menjengkelkan, tapi dia teramat sayang. Perasaan tulusnya membuat dia dari sejak bangku SMA selalu ada dan menemani Biyan saat suka maupun duka.
Hati Alex sangat berbunga-bunga. Ini jam istirahat, pasti banyak gadis cantik yang akan ia temui di kantin dan akan ia ajak berkenalan.
Suasana kantin sangat ramai. Pandangan pria macho bertubuh tinggi ini mencari bangku untuk ia duduki. Biyan akhirnya mendapat tempat duduk lalu memesan minuman, di susul Alex yang kini duduk di sebelahnya. Pandangan Biyan tertuju pada gadis yang di panggil ‘Jes’ dan tengah duduk bersama temannya. Dia memperhatikan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mengingat-ngingat dan menyamakan. Sudah beberapa menit, barulah ia semakin yakin bahwa gadis itu benar-benar gadis yang masuk kedalam mobilnya.
Dua orang gadis yang merasa tengah di perhatikan terlihat kaku dan menoleh ke arah pria yang saat ini memperhatikan mereka.
“Dia liatin Lo terus, Jes!” Rahma mengguncang-guncangkan tangan Jesica yang tengah memegang sedotan. Bibirnya mengerut dan tenggorokannya menelan semua minuman dingin agar merasa lebih tenang.
“Lo bisa diem ga?” Jesica yang tengah meminum minuman dingin merasa terganggu dengan pergerakan Rahma.
“Eh, eh. Dia kayanya emang tahu lho yang lempar botol. Buktinya, dia liatin Lo dan nyusul kesini!” Rahma kembali mengganggu Jesica lagi. Tidak henti-hentinya Rahma mengajak Jesica berbicara.
“Udah, diem. Jangan mencurigakan!” Jesica menutup bibir Rahma dengan telunjuknya.
“Gimana mau diem, dia terus lihat kesini. Noh … Lo lihat sendiri!” Rahma mencapit wajah Jesica dengan kedua tangannya. Mengarahkan kepala sang sahabat agar menoleh ke arah anak baru bernama Gibran.
Jesica kaget saat dia menoleh. Gibran memang sedang memperhatikannya. Mata pria yang terlihat indah itu melemparkan tatapan tajam. Mereka langsung berpaling karena ketakutan.
“Gawat, Jes. Gawat!” Rahma menggelengkan kepalanya. Ia senang membuat Jesica panik.
“Please, Ma. Lo jangan bikin gue panas dingin lagi!” Jesica mengerutkan dahi. Dia memasang ekspresi memelas pada Rahma. Baru saja hatinya tenang dan pikirannya menjadi dingin sedingin air es. Rahma malah membuat mood dia kembali jelek.
“Yang sabar, ya. Ini cobaan!” Rahma malah terkekeh.
Alex heran, sahabatnya terus saja memperhatikan seorang gadis. “Dia cantik juga, mau di jadiin kandidat sugar baby, Lo?” tanyanya yang juga memperhatikan Jesica. Gadis itu terlihat cantik dan menawan. Bodynya juga, beuhhhh … bak gitar spanyol versi anak SMA. Dia membuka mulut lebar-lebar kala Jesica merapikan kuncir kudanya. Bagian d**a terlihat menonjol sempurna dan berukuran besar tertutup seragam sekolah. Tidak sengaja, bulir-bulir liquid kental berwarna bening keluar dari sudut bibir Alex dan turun melewati dagunya.
“Kalo kaya gitu sugar babynya, mending buat gue aja!” ujarnya yang mengagumi bentuk tubuh Jesica. Alex menggelengkan kepala beberapa kali. Ia juga menghapus jejak yang terasa basah di bagian dagu dengan bersandar di pundak Biyan. Meraih ujung kain lengan seragam Biyan. Tanpa sadar, Biyan tidak tahu bahwa Alex memakai seraganya layaknya tisu.
“Laki hidung belang, Lo. Gue perhatiin dia bukan karena gue suka. Tapi karena gadis itu naik mobil gue tiba-tiba beberapa hari yang lalu!” Biyan menceritakan alasannya pada Alex.
“Kalo Lo suka, ya, tinggal ambil aja!” Biyan yang tidak mendengar suara Alex yang menggema itu menoleh. Bangku yang di sebelahnya kini telah kosong. Alex sahabatnya tidak lagi duduk disitu. Biyan menoleh kesana kemari. Kemana perginya Alex? Bisa-bisanya dia pergi saat Biyan bercerita.
Biyan memutar kepalanya dia kini menemukan Alex yang tengah sibuk mengobrol bersama seorang gadis. Gadis yang tidak asing, tidak lain dan tidak bukan adalah sugar baby dari Alex.
Pria menyebalkan itu tersenyum lebar dan bertingkah sangat kekanak-kanakan.
“Beby Cayang kenal abang ga?” Alex merapatkan tubuhnya agar menempel pada seorang gadis cantik.
“Anda siapa?” tanya gadis itu sambil mengerutkan dahi.
“Ini abang, Cayang. Alex menggerakan telunjuknya menusuk-nusuk pundak gadis berambut pendek.
Gadis itu mengerutkan dahi dan memperhatikan wajah pria yang ada di sebelahnya ini. “Sayang, kamu-” Perkataannya terpotong karena alex membekap mulut manis yang di poles lipstik berwarna nude.
“Iya ini aku lagi nyamar, Sayang. Kan, biar tiap hari bisa ketemu kamu.” Alex mengedipkan sebelah matanya. Dia benar-benar merindukan gadis manis sugar baby yang sudah bersamanya dan mewarnai hari-harinya beberapa bulan ini.
Mata indah sang gadis terbuka lebar. Tangannya bergerak merapikan tatanan rambut Alex “Ih, Sayang. Ganteng banget, sih. Bener-bener jadi kaya anak SMA.” tangan lentik itu kemudian bergerak melingkari tangan Alex yang sedikit kekar.
“Beby Gina, Sayang!” Alex mengagumi sugar babynya yang terlihat menggemaskan. Ia berlagak mesra agar membuat Biyan iri.
“A … pa, Sayang!” Keduanya terlihat benar-benar mesra bak pasangan muda mudi anak baru gede.
Alex merasa di perhatikan. Ia lupa bahwa kesini itu untuk menemani Biyan. Tapi sambil menyelam dan minum air juga ide yang bagus. Kebetulan sekali lokasi yang menjadi tantangan Biyan mencari sugar baby adalah sekolah sugar babynya. Ia melirik Biyan yang sedang memelototinya. Tangannya naik ke udara membentuk huruf V. ”Vis … Bi,” bisiknya sangat pelan. Alex tersenyum lebar menampilkan gigi yang berjejer rapi.
Biyan meraih botol minumannya dan hendak melemparkan pada Alex. Pantas saja sahabatnya itu sangat bersemangat dan totalitas saat ikut menyamar. Ternyata ada udang di balik batu. Alex menemani Biyan sekaligus agar bisa bertemu setiap hari dan bersenang-senang bersama sugar babynya.
“Kurang ajar Lu, Lex. Malah pacaran.”
Jika tahu akan seperti ini, Biyan akan lebih memilih sendiri. Dia tidak suka menjadi obat nyamuk. Diam melihat kemesraan pasangan kekasih. Entah kapan dia terakhir kali bermesraan dengan istrinya.
Pasangan suami istri itu tinggal sekamar dan tidur sekasur tapi jarang berbicara, jarang pergi bersama dan entah kapan terakhir kali melakukan hubungan suami istri. Seperti ada tembok besar layaknya setebal tembok Cina yang di bangun diantra dia dengan sang istri. Biyan sendiri tidak mengetahui apa kesalahannya dan apa yang membuat sang istri seolah tidak menginginkannya. Dia kurang apa? Uang? Uang sangat banyak, bahkan di rekening pun jumlah nolnya begitu tidak tertampung layar ATM. Ketampanan? Jangan di tanya soal tampang. Wajah Biyan bak artis Hollywood dan pesepakbola, David Beckham. Kebaikan? Biyan layaknya anak anjing yang menurut dan setia, dia sangat baik sehingga keinginan istrinya semua di penuhi. Tinggal bilang maunya apa maka dalam beberapa detik semuanya akan tersedia.
Lamuna Biyan terhenti saat melihat Jesica bangun dari tempat duduknya. Biyan segera berdiri dan menghalangi jalan sang gadis.
“Kamu tidak ingat aku?” tanya Biyan yang semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Jesica. Mungkin dengan cara ini, Jesica akan mengenali sosok Biyan. Pria si pemilik mobil.
Gadis itu seketika tidak bisa bernafas saat melihat wajah tampan Biyan begitu dekat. Air keringat tanpa permisi keluar dari pori-pori dan membasahi keningnya. Jesica mengerutkan dahi dan tidak mengerti apa yang di maksud Biyan. Di otaknya hanya ada rasa takut jika dia akan di marahi.
“Ti- ti tidak!” jawab Jesica sangat kaku.
Bian memalingkan wajah. Dia bisa melihat wajahnya pada cermin kantin. ‘Mana dia ingat? Orang wajahku saja sangat berubah seperti ini? Bego ... jika aku tanya dia ingat atau tidak padaku! Ya jelas tidak ingat lah.’ batinnya lalu menatap Jesica lagi.
Tepat di dekat kantin adalah sebuah lapangan basket. Ada banyak anak laki-laki yang tengah bermain basket. Bola basket berwarna merah bata dengan guratan garis berwarna hitam terbang dan mengarah ke kepala Biyan. Tangan pria itu bergerak cepat menahan pergerakan bola. Kini bola berhasil di tangkap dan mengenainya.
Tatapan tajam itu memandang seorang anak laki-laki yang mendekat. Dia mengerutkan dahi tatkala melihat wajah yang begitu ia kenali.