Tangan seorang pria menahan seorang gadis yang tengah menuruni mobil dan bersiap untuk pergi. "Jes!" Suara merdu dari pria itu terdengar di telinga Jesica. “Kenapa lagi, Bang?” tanyanya sambil melihat tangan Biyan. Urat-urat vena dan arteri terlihat sangat jelas dan menambah kesan macho. “Salim dulu!” Biyan bersiap menjabat tangan Jesica. Gadis ini mengira Biyan mau apa. Ternyata hanya ingin menjabat tangannya saja. Padahal jantungnya sudah ketar ketir takut jika pria ini minta yang macam-macam. Jesica menuruti keinginan Biyan untuk mencium punggung tangan Biyan dan berpamitan. “Sekali lagi, makasih, ya, Bang!” Jesica mengangguk lalu tersenyum dan bergegas ke kamarnya. Biyan terpesona melihat senyuman Jesica. Di kantor polisi dia sangat murung dan ketakutan. Kali ini Jesica sudah bi

