8. Sebuah Pengakuan

1680 Kata
Gibran meloncat sebelum Reginald ikut meloncat. Dia melempar bola sekuat tenaga dari kejauhan. Tangan Reginald hendak meraih bola tapi tidak bisa ia capai. Bola melayang jauh dan mengenai badan kayu. Mengitari ring yang berbentuk bulat itu. Reyhan terjatuh dan lututnya sedikit lecet karena tidak bisa menahan keseimbangan. Jesica dan Rahma berdiri lalu membuka lebar-lebar matanya agar bisa melihat bola akan masuk ke ring atau tidak.  “Reginald, Reginald, Reginald … Reginald!” Teriakan dari fans Reginald begitu kencang.  Anggota kelas IPA tak mau kalah. Yang sudah tahu nama Gibran dan Gunawan ikut berteriak. “Go Gibran, Go gibran go! Go Gunawan, Gunawan go!” Lima detik bola memutari ring, membuat penonton semakin tegang dan pemain juga ikut tegang. Bola terhempas angin dan melenceng lagi, keluar lalu terjatuh!” “Yah … gagal!” Rahma menghembuskan nafas kasar. Idolanya tidak menang. Bel sekolah berbunyi dan peluit di tiup kencang oleh wasit. Permainan seri dan entah akan di lanjutkan lagi kapan. "Skor sama!" teriak wasit lalu membereskan bola yang berserakan. Reginald mendekat ke arah Gibran. Tatapannya begitu tajam lalu mengerutkan alis dan memperhatikan wajah pria yang ada di hadapannya ini. "Kamu …." Jantung Gibran berdegup kencang layaknya tabuhan drum. Keringat dingin bercucuran dari keningnya. 'Apa Reginald mengenaliku?' batinnya. Dia kemudian melirik Gunawan agar mendekat. "Kamu … Da-" ucap Reginald lagi. Gunawan yang tengah memperhatikan mereka membuka mulutnya lebar-lebar. "Daddy" ucapnya sangat pelan. 'Mati Lo ketahuan!' batinnya sambil menunggu Reginald menjeda ucapannya. Reginald menyangga dagu dengan satu tangan sembari menggigit bibir bawahnya. "Kamu dan dia dari tim basket unggulan mana?" tanya Reginald.  Pertanyaan itu sontak membuat Gibran dan Gunawan bernafas lega. Mereka kira Reginald akan mengucapkan kata 'Daddy'. Keduanya saling pandang sambil mengatur nafas yang semula terasa akan habis. Usia keduanya tidak lagi muda. Melawan anak seusia Reginald yang penuh energi ini sungguh tidak mudah. "Hei … kalian malah tidak menjawab pertanyaan ku!" Reginald terlihat marah. Anak muda yang satu ini juga kesal karena tidak memenangkan permainan. "Maaf. Ki- ki- kita harus segera ke kelas!" ujar Gunawan sambil merangkul Gibran. Mereka sudah tidak tahan dan ingin segera bebas. "See you next time. Kita akan duel lagi!" ujar Reginald yang membuat Gibran itu malas mendengar ajakannya. Ia tidak mau meladeni anak muda lagi lalu takut Reginald putra semata wayangnya itu mengenali Daddynya sendiri. Gunawan memberikan tanda kiss bye untuk sang sugar baby yang memasuki kelasnya. Kini dia dan Gunawan mengambil satu buka dan menggerakkannya agar mengeluarkan angin. Tubuh mereka berdua di basahi keringat. Gibran membuka dua kancing kemeja baju sekolahnya. Menampilkan d**a bidang yang begitu menantang setelah terkibas angin dan memiliki jejak rintik-rintik keringat. Siswi di kelas itu menoleh dan mengerutkan mata. Saling bergeser hingga mendekati tubuh Gibran yang begitu sexy untuk sekedar mengintip. Kini Gunawan mengikuti gaya cool Gibran. Membuka dua kancing atas lalu mengibas-ngibaskan dengan angin. Siswi-siswi yang kasihan kepada duo G yang kepanasan serta ingin melihat pemandangan indah, segera meraih buku dan mengipasi tubuh dua pria tampan itu. Para gadis kesusahan menelan saliva serta matanya sudah untuk berkedip. Tidak disangka hampir semua gadis mendekati dua pria paling mencolok itu. Hanya ada Rahma dan Jesica yang tetap di posisi mereka dan enggan untuk mendekati duo G. "Pertandingan tadi nilainya seri. Jadi gimana, nih?" Rahma menatap Jesica. Dia menyilangkan tangan di depan d**a. Mengetuk-ngetuk meja dengan jemari tangan lentiknya  "Yes, gue gak harus minta maaf ke Gibran dong." Jesica menjulurkan lidahnya. Dia enggan tertangkap basah sebagai pelaku pelemparan botol kosong. "Ets … tidak semudah itu Jejes! Jangan jadi pecundang." Rahma balik menjulurkan lidahnya. Dia tidak mau taruhan ini berakhir dengan begitu gampang sekali. "Lalu Lo mau apa?" Jesica menantang Rahma. "Karena nilai seri. Berarti kita harus lakuin hal yang sama!" jawab Rahma penuh semangat. "Maksud Lo?" Jesica mengerutkan dahi sambil menoleh ke arah Rahma.  "Kita berdua harus minta maaf, dan kita berdua harus mengakui hal yang sama. Dalam artian, kita minta maaf karena itu adalah kesalahan kita berdua." Rahma menaikkan satu alisnya. "Jadi … sekarang kita harus kesana!" Dia melirik Gibran dan Gunawan yang di kerumbuni oleh para gadis. Guru fisika belum datang dan masuk ke kelas. Murid-murid masih bisa bersantai. "Hah … Lo gila!" Jesica kaget lalu terperanjat. Masa iya mereka berdua melakukan hal gila ini. Bagaimana kalau si pemilik nama Gibran itu marah.  "Ayo! Jangan jadi pecundang." Rahma menarik tangan Jesica. "Bisa ntaran aja kaga?" Jesica berusaha melepaskan lengan Rahma. "Kaga bisa, harus sekarang!" Sekuat tenaga Rahma menarik tangan Jesica. Kini keduanya melewati para gadis dan berdiri di depan Gibran dan Gunawan. Jesica dan Rahma menelan salivanya susah payah. Baru kali ini ada siswa laki-laki yang bertubuh sexy di penuhi keringat dan dadanya yang bidang serta mempesona. Pantas saja para gadis berkumpul rela berdesakan untuk mengipasi duo G. "Kak Gi- Gi- Gibran!" ujar Rahma malu-malu. Dia yang mengawali pembicaraan. Jesica merasa tubuhnya panas dingin kala melihat botol kosong yang sangat setia di hadapan Gibran. "Ada apa?" jawab Gibran ketus. "Ada apa adek gemesh!" jawab Gunawan juga agar Rahma tidak ketakutan. "Ka- kami …." Gunawan yang merasa anak ABG di hadapannya ini tengah ketakutan ingin mencairkan suasana. "Ehem … adek gemesh jangan takut dan sungkan sama kakak gantengs." Gunawan menaikkan kedua alisnya lalu mengedipkan sebelah matanya. "Tarik nafas dulu dalam-dalam, lalu embus kan perlahan!" Perintah Gunawan agar Rahma merasa lebih tenang lagi dan tidak grogi. Gibran malah memalingkan wajah. Malas sekali mendengarkan Rahma. Paling yang di sampaikan gadis ini tidaklah penting. "Kami mau minta maaf!" ujar gadis itu penuh keyakinan. Jesica malah melinting kain ujung seragamnya. Dia sangat grogi karena tersangka utama. "Memangnya kalian ada salah apa?" tanya Gibran penasaran. Perasaan dua gadis ini tidak melakukan kesalahan. "Kami yang melempar botol dan mengenai kening Kak Gunawan eh … maaf, mengenai Kak Gibran." jawab Rahma sambil menunduk. "Hah … jadi kalian yang bikin kepala aku sedikit benjol?" Gunawan menunjuk keningnya yang sedikit memerah dan menonjol  Rahma menyikut Jesica yang masih diam. "I- i- iya, Kak!" jawab Jesica yang baru membuka suara. Gibran bangun dari posisi duduknya. "Kenapa kalian melemparkan botol bersamaan? Bukankah ini milik satu orang?" Pertanyaan Gibran sontak membuat keduanya merasa panas dingin. Jesica dan Rahma saling berpegangan tangan. "Iya, kami meminumnya bersama dan melemparkannya juga bersama!" jawab Jesica agar Gibran yakin. "Emmm …." Gibran mendekat ke arah Jesica. Mereka kini menjadi bahan tontonan semua siswa. "Ko aku ngerasa bukan kalian berdua. Tapi Jesica pelakunya!" Bisik Gibran di tengah-tengah Rahma dan Jesica. Tapi, pria itu lebih dekat dengan tubuh Jesica. "Ti- ti- tidak. Kami benar-benar melakukannya berdua!" jawab Jesica kaku. "Kamu pelakunya!" Tuduhan Gibran mengarah ke Jesica. Gadis ini terlihat lebih gugup dari Rahma. Ia bisa melihat sikap Jesica yang begitu ketakutan dan mengeluarkan banyak keringat dingin. "Ayo ngaku!" bisik Gibran di telinga Jesica. Gadis itu menoleh dan melihat bertapa jelasnya d**a bidang Gibran yang mulus dan begitu sexy. Dia juga bisa melihat bagian puncak d**a yang menantang karena tubuh Gibran sedikit menunduk dan bagian baju turun ke bawah. 'Sial, ide gila Rahma malah membuat aku yang serasa mau mati!' batinnya sambil menelan saliva susah payah. Jesica menghirup udara dalam-dalam. Dia juga merasakan aroma yang tidak asing di indra penciumannya. Aroma parfum khas yang maskulin milik Gibran seperti pernah Jesica hirup. Entah kapan dan milik siapa. Jesica malah salah fokus. Dia tidak menghiraukan Gibran malah sibuk mengingat aroma parfum. "Hei … Jesica!" teriak Gibran. Membuat gadis itu kaget lalu mereka saling bertatapan. Pandangan kedua insan saling beradu. Mata hazel milik Jesica menarik perhatian Gibran. Dia berkedip mengagumi keindahan gadis yang ada di hadapannya ini. Jesica malah tidak bisa bernafas karena Gibran menatapnya begitu intens. Baru kali ini dia bertatapan dengan lawan jenis begitu dekat.  "Ayo kita mulai kelas, anak-anak!" teriak guru fisika yang baru datang.  Jesica dan Rahma kaget lalu kembali ke bangku mereka. Begitu juga dengan gadis lain yang ikut kembali ke bangkunya masing-masing. Gibran menoleh ke arah Jesica. Melempar tatapan tajam. Sementara Jesica berusaha fokus dan mengabaikan pria itu. 'Bertahan Jesica. Bertahan sampai jam pulang itu datang. Lalu bersiap kabur. Yang penting, kan, udah minta maaf' batinnya lalu menyikut Rahma. "Gara-gara, Lo. Gue malah tersudutkan. Pokonya jam pulang udah bel bunyi. Kita harus segera kabur dari sini! Gamau tau gue!" bisiknya pada Rahma yang sedang mengeluarkan buku pelajaran fisika. Sesuai rencana, kedua gadis itu berhasil kabur. Gibran dan Gunawan tidak bisa menyusul gadis itu.  Jesica bisa bernafas lega. Dia bisa pulang dengan selamat di antar oleh Rahma. Biyan pulang bersama Alex menggunakan mobil pribadi Alex yang tidak menggunakan plat khusus. Mereka kembali ke tempat profesional make over dan menghapus riasan. Mobil Biyan setia terparkir disini. "Thanks, Lex. Lo udah nemenin gue!" Tumben-tumbennya Biyan mengucapkan terima kasih. "Tumben Lo bilang makasih?" tanya Alex yang keheranan. "Jadi ga usah bilang makasih, nih?" Biyan menaikkan satu alisnya. "Kasih gue imbalan liburan gemesh aja nanti kalo udah berhasil. Liburan buat pergi kencan ama adek gemesh sugar baby gue, ya!" jawab Alex sangat antusias. Dia tim sukses Biyan. Biyan sebenarnya ingin menceritakan tentang Jesica berhubung tadi Alex di ajak bica malah menghilangkan. Tubuhnya sudah terasa lelah dan ingin istirahat. "Sampai jumpa besok, Lex!" "Yo … Bro!" Biyan pulang ke rumahnya yang mewah di kawasan elit Jakarta pusat. Rumah besar itu terlihat sangat sepi. Hanya ada sepatu Reginald saja di rak yang tadi anaknya itu kenakan untuk bersekolah. Dia mencari keberadaan sang istri di kamar tetapi tidak ada. Meraih ponsel pintar dari tas dan menghubungi Kania istrinya. Dua kali panggilan telepon tidak terjawab. Panggilan ketiga baru di angkat. "Halo, Mams. Dimana, ko belum pulang?" tanyanya Biyan yang mengkhawatirkan istrinya karena belum pulang. "Halo, Dad. Lagi di rumah sakit nemenin Mamah. Emmm … kayanya bakal nginep disini! Boleh, ya?" jawab Kania yang sedang dalam posisi berbaring. Suaranya terdengar layu dan seperti sudah tidur. "Mau di temenin?" tawar Biyan yang merindukan sang istri tercinta. "Gak usah, Sayang!" tolaknya yang tidak mau ada di susul oleh Biyan. "Yaudah salam buat mamah, ya. Besok pagi pulangnya hati-hati!" ujar Biyan lalu mematikan ponselnya. Tubuh Kania terasa berat dan remuk. Hanya selimut yang menutupi tubuh polos wanita yang genap berumur empat puluh tahun itu. "Telepon dari siapa, sih, Yank?" tanya seorang pria yang tidak mengenakan busana dan mengeratkan pelukannya pada Kania. "Dari suami aku!" "Hmmm … ayo tidur lagi!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN