Dua insan tengah tertidur pulas di sebuah kasur empuk dan spreinya yang sudah tidak menempel lagi dengan rapi. Tubuh mereka basah oleh keringat dan saling berpelukan. Ponsel pintar di atas meja beberapa kali telah berbunyi. Tidak ada satu orang pun yang terbangun untuk mengangkat telepon itu. Setelah di rasa berisik dan sangat mengganggu, barulah netra seorang perempuan terbuka, lalu jemari lentiknya meraih ponsel pintar yang menampilkan gambar sebuah panggilan masuk. Layar menampilkan tulisan panggilan telepon dari Daddy.
“Hmm … ganggu! Tapi aku belum kasih kabar. Nanti malah di cariin!” Dia mengusap layar berwarna hijau agar panggilan di mulai.
"Halo, Mams. Dimana, ko belum pulang?" tanyanya yang terdengar sangat khawatir
Alasan apa yang kini harus ia sampaikan agar suaminya ini tidak khawatir dan mencari keberadaannya. "Halo, Dad. Lagi di rumah sakit nemenin Mamah. Emmm … kayanya bakal nginep disini! Boleh, ya?" jawab Kania yang sedang dalam posisi berbaring. Suaranya terdengar layu. Hanya alasan ini yang masuk akal dan bisa di terima oleh Biyan. Dia beralasan menemani sang mama yang terbaring lemas di rumah sakit selama beberapa tahun. Ibu dari Kania sakit stroke setelah di tinggalkan ayahnya yang menikah lagi.
"Mau di temenin?" tawar Biyan yang merindukan sang istri tercinta. Kasih sayangnya tulus sejak awal berkenalan dahulu, hanya saja Kania sering memanfaatkannya. Termasuk saat Kania minta di nikahi oleh pria yang lebih muda dua tahun darinya itu. Biyan bertanggung jawab dan menikahi Kania.
"Gak usah, Sayang!" tolaknya yang tidak mau di susul oleh Biyan. Betapa risihnya dia ketika bersama pria ini. Possessive dan terlalu manis. Ia takut malah jatuh cinta.
"Yaudah salam buat mamah, ya. Besok pagi pulangnya hati-hati!" ujar Biyan lalu mematikan ponselnya. Istrinya doi fasilitasi mobil pribadi jadi tidak usah di jemput.
Tubuh Kania terasa berat dan remuk. Hanya selimut yang menutupi tubuh polos wanita yang genap berumur empat puluh tahun itu. Dia sudah melakukan sebuah pergulatan dan saling bertukar keringat dengan pria yang saat ini memeluknya erat.
"Telepon dari siapa, sih, Yank?" tanya seorang pria yang tidak mengenakan busana dan mengeratkan pelukannya pada Kania.
"Dari suami aku!" lirihnya sambil memejamkan mata lagi.
"Hmmm … ayo tidur lagi!" ajaknya yang juga merasa lelah.
Pria itu terperanjat lalu ingin bertanya. “Kapan, sih, ceraikan suami kamu terus nikah sama aku?” tayanya yang memang mendambakan sang kekasih mengakhiri hubungan dengan suaminya.
“Sampai kamu mandiri dan usaha kamu lancar. Dari dulu kenapa gak ada perkembangan malah gagal lagi gagal lagi?” Omelan keluar dari mulut wanita ini. Dia geram karena usahasang kekasih tak kunjung berhasil.
“Sayang, kan usaha ada naik turunnya!” sanggahnya yang tidak ingin di salahkan.
“Tapi kamu turun terus. Udah berapa kali aku kasih modal. Gak ada yang berhasil, kan?” tanyanya agar sang kekasih tidak lagi membela diri.
“Maaf, Sayang.” Rayuan maut di agunakan dengan menciumi tengkuk Kania.
Bulu kuduk Kania berdiri. Dia kembali luluh lagi. Semua sentuhan serta kasih sayang dari pria ini lebih terasa nikmat dibanding Biyan suaminya. “Kalau aku ceraikan dia, kita mau hidup uangnya dari mana? Belum lagi biaya perawatan mama yang mahal. Semua sumber kekayaanku dari Biyan, Sayang! Tanpa Biyan aku bukan apa-apa.” jelasnya lagi yang memang bukan apa-apa tanpa Biyan. Fasilitas, kemewahan, serta harga diri, semua berkat menikahi Biyan. Dia wanita beruntung yang mendapatkan pria baik seperti Biyan. Saking baiknya sampai Kania manfaatkan.
“Ya sudah.” Pria ini hanya bisa pasrah, mencintai istri orang tapi tidak bisa memiliki.
~LianaAdrawi~
Pria bertubuh proporsional tengah berjalan ke sebuah ruangan gym pribadi di rumahnya. Rumah ini sudah di fasilitasi lengkap sehingga penghuninya tidak usah ke luar rumah lagi. Hanya ibu rumah tangganya saja yang sering keluar dan anak bujangnya saja yang kadang jalan-jalan.
Lampu di ruangan gym sudah menyala. Ada putra semata wayangnya yang tengah berolahraga.
"Anak daddy olahraga ga ajak-ajak!" Biyan merangkul putranya. Dia sangat merindukan Reginald, putra kesayangan.
"Dad!" Reginald mencium punggung tangan Biyan dia sangat menurut dan menghormati sang ayah.
"Lutut anak daddy kenapa? Kok luka?" Biyan mengambil kotak P3K di lemari sudut ruangan gym. Dia membuka dan meraih cairan pembersih luka, meniup-niup luka Reginald dan mengoleskan obat.
"Tadi jatoh lagi tanding basket, Dad," ujarnya sambil sedikit menahan sakit.
"Hati-hati dong, Sayang. Sampe lecet gini anak daddy." Biyan menutup luka itu dengan perban.
"Tadi seri ih, Dad. Ngeselin deh! Aku gak pernah kalah tanding basket. Tadi malah seri, kan, jadi gaje ga ada pemenangnya." Reginald mulai bercerita. Terkadang dia menceritakan apa yang dia alami di sekolah.
"Lawan temen?" tanya Biyan.
"Anak baru. Tingginya se-Daddy. Perawakannya juga, kok, mirip Daddy, ya?" ujar Reginald yang memperhatikan tubuh ayahnya.
"Ah masa? Daddy, kan, udah tua." ujar Biyan. Ia takut berujung panjangan dan ketahuan.
"Daddy masih kaya anak muda, ko. Daddy baby face, malah kaya kakak aku!" Perbedaan umur mereka dua puluh satu tahun karena Biyan menikah muda.
"Bisa aja anak daddy. Kapan-kapan keluar, yuk, main! Anak daddy belum punya pacar, kan?" Biyan ingat, dia sudah lama tidak mengajak anaknya itu berjalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama-sama.
"Belum, emang Reginald udah boleh pacar-pacaran, Dad?" tanya Reginald sambil mengerutkan dahi.
"Mams sibuk banget, sih. Ko jarang di rumah?" Reginald menambahkan pertanyaan, dia heran ibunya tidak bekerja tetapi jarang ada di rumah.
"Hmm … boleh, sih, asal jangan nakal! Biasa, mams sibuk arisan dan sibuk nguruk nenek kamu!" Biyan membebaskan Reginald melakukan apa saja asal tahu mana yang boleh mana yang tidak boleh.
"Hmm … cewe, tuh … ribet, Dad. Males ah. Pada manja-manja!" Reginald tidak suka gadis jaman sekarang yang bersikap manja.
"Kamu gak suka sama sesama jenis, kan? Sekarang, kan, lagi musim kaya gitu!" Reginald ketakutan anaknya tidak normal dan malah menyukai sesama jenis.
"Enak aja. Aku normal!" Sanggah Reginald sambil menjauh dari tubuh sang ayah.
"Daddy, ih!" Reginald mengerucutkan bibirnya. Di rumah dia anak yang manja pada Biyan dsn Kania. Di sekolah dia pria yang dingin dan menjadi idola para gadis.
"Ga ada cewe yang kamu suka di sekolah?" tanya Biyan memastikan.
"Gaka ada, Dad!"
Mereka melakukan gerakan push up. Reginald yang berbaring dan Biyan yang memegangi kakinya. Reginald mengerutkan matanya saat wajah dia begitu dekat dengan sang ayah. Anak itu memperhatikan sesuatu di wajah Biyan.
"Daddy pake makeup?" tanya Reginald.
Pertanyaan Reginald sontak membuat dia kaget. Apakah makeup masih menempel sempurna di wajahnya? Perasaan tadi bencong yang mendandaninya sudah mengoleskan micellar water. Atau masih ada sisa yang tertinggal di wajahnya.
"Eng- eng- enggak kok!" Biyan menoleh ke kaca. Ia ingin sekali berkaca.
"Bohong. Itu di jidat Daddy kaya ada sisa foundation, sih?" Reginald menggerakan tangan untuk menunjuk kening Biyan.
Biyan berusaha menutupi dengan tangannya. "Tau dari mana kamu? Pake aja gak pernah, kan?" sanggahnya agar tidak semakin di curugai.
"Tahu dong, kan, lihat mams kalo lagi dandan. Ini nih!" Reginald mengusap kening Biyan. Membuat ayahnya itu panas dingin.
"Oh, iya … pake dikit tadi pagi di olesin mams, mau rapat biar gak kucel!" Ada saja alasan Biyan agar dia tidak terciduk.
"Masa, sih? Tumben? Kok jidat Daddy merah dan sedikit benjol?"