"Masa, sih? Tumben? Kok jidat Daddy merah dan sedikit benjol?" Reginald begitu memperhatikan kening ayahnya. Dia sedikit berpikir. Ini luka dari apa? Dan yang pasti rasanya lumayan sakit. "Ini tadi Daddy. Kejedot pintu mobil, Re." sanggah Biyan sambil menutupi keningnya lagi. "Sini Reginald obatin!" Reginald menyingkirkan lengan ayahnya dan mengoleskan salep anti memar. "Au … pelan, Re!" teriak Daddy sedikit kesakitan. Pria ini hampir saja ketahuan. Beruntung Reginald tidak banyak bertanya lagi. Biyan menghembuskan nafas lega saat Reginald pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Kini terasa sunyi dan sepi lagi. Hanya ia sendiri. Biyan merasa kesepian di dalam rumah yang luas ini. Percuma memiliki rumah yang mewah jika ia pulang tapi tidak merasakan bahwa ia tengah di tunggu untuk datang

