bc

Artist vs Dancer

book_age16+
205
IKUTI
1K
BACA
dark
drama
tragedy
comedy
twisted
sweet
humorous
heavy
lighthearted
mystery
like
intro-logo
Uraian

Tuk saat ini biarlah ku sendiri, itu lebih baik karena tuk kebaikan hati ku, bukan karena tak peduli, tapi lebih karena ku takut kecewa lagi.

Layaknya senja yang hanya muncul sesaat lalu kemudian akan sirna terkikis oleh gelapnya malam.

#Aluna Zakiya Pramitha

Tak pernah Lelah kan ku jaga hati ini, hingga langit gelap gulita dan sampai saat dimana dunia tak lagi bermentari.

Ku kan sabar menanti hingga pertemuan itu tiba, seperti kesabaran siang menunggu malam, seperti malam menunggu bulan dan bintang yang setia menemani hingga fajar tiba.

#Zildjian Ganesha Paramayoga Dewananta

Akan sulit tuk mengungkapkan rasa yang di miliki Zia terhadap Aluna, terlebih mereka hanya di pertemukan beberapa saat dan selalu bertemu di tempat² yang tak terduga.

Di setiap pertemuan Zia merasa dejavu. Karena gadis itu tak henti² nya menari di benak dan hati Zia. Baru pertama kali ini Zia merasakan getaran hebat di dadanya.

Mengingat hati Zia yang telah membeku hampir 3 thn lamanya. Bahkan merubah semua hidup Zia, menjadi lebih pendiam serta dingin terhadap kaum yang namanya perempuan, hatinya yang selama ini tertutup akibat ulah Monik sang mantan.

Apakah Aluna mampu mencairkan hati Zia..?

Ataukah hanya Monik seorang yang mampu membekukan dan mencairkan hati Zia..?

Dan apakah Zia sudah mau membuka hatinya..?

Entahlah.. Hanya waktu yang mampu menjawab nya.(^-^)

Happy reading

chap-preview
Pratinjau gratis
1. First time I saw her
Let get, let's get, let's get, let's get rocked Let's go all the way Get it night 'n' day C'mon let's get, let's get, let's get, let's get rocked      Suara Def Leppard menemani Zia sepanjang jalan. Tangan kanan di kemudi, mata focus ke depan, sementara tangan kirinya meraba-raba saku jaket serta celana nya, saat akan menghubungi Bona ternyata hape nya tidak di temukan.      "Yaaah hape gue ketinggalan.. Jangan-jangan masih di meja makan tadi." Ucap Zia bermonolog. Tin.. Ti.. Tiiiiiiin.. Zia nggak sabar dengan menekan klakson beberapa kali.      Tik.. Tak.. Tik.. Tak.. Zia menyalakan lampu sein agar bisa nyalip mobil yang ada di depan, kendaraannya melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota Jakarta yang sedikit agak lengang.      "Tumbenan nggak macet." Zia terus bergumam sendiri, sambil menikmati hentakan lagu Let's get rocked nya Def Leppard jari nya mengetuk-ngetuk di atas kemudi mengikuti irama.      Namun itu tak berlangsung lama, sebab seketika kesabarannya di uji lagi, di depan sana terlihat jalanan mulai padat merayap.      “Aduh telat lagi.. telat lagi.. mampus dech gue.. pasti gue di ocehin lagi sama asisten sutradara yang gayanya melebihi sutradara asli, yang sok super sibuk, sibuknya ngalahin tukang lighting… Hah.. sompret banget nich macet..” Racau Zia galau melihat di depan sangat macet. Sesampainya di lokasi yang tuju, Zia memarkirkan mobilnya dengan sembarang, lalu ia turun dan langsung ambil langkah seribu dengan cepat. Saat bertemu dengan lelaki setengah tua Zia melemparkan kuncinya ke lelaki tersebut.      “Mang.. tolong parkirkan mobil saya ya.. makasih..” Seraya berteriak ia terus melarikan langkahnya.      "Siap Mas.." Lelaki itu menangkap kunci yang di lempar sambil geleng-geleng kepala. Dan tiba-tiba terdengar suara.. “Bruuk.." “Gedebuk..”      “Aaaaaw.. aww..“ Jerit seseorang nampak kesakitan. Saat berbelok menuju koridor sekolah, tiba-tiba dari lawan arah muncul seorang gadis yang sedang berjalan santai akan belok juga. Tabrakan pun tak dapat di hindari.      “Aaww..! Ya ampun.. Hosh.. Hosh.. lain kali kalo jalan liat-liat dulu dooong..” Seloroh Zia sambil ngos-ngosan, melihat gadis yang di tabraknya sekilas, saat ingin berlari lagi entah kenapa Zia mengurungkan niatnya, langkahnya terhenti sejenak, Zia menatap netra gadis itu, meski saat ini gadis itu sedang melotot, tapi Zia melihat ada keteduhan di sana.      “Eeeeeh.. kamu kan yang nabrak aku..! yaaah kertasku berantakan dech nih..! Aduuh.. Heesttt.." Pelotot gadis itu sambil teriak. Gadis itu mengaduh karena sakit terjatuh dengan posisi duduk, lalu ia memunguti semua kertas yang berhamburan di lantai dan sedikit basah. Lalu gadis itu mendongakkan kepala dan menengok ke arah lelaki yang menabraknya tadi.      Netra kedua nya saling menatap seper sekian detik saja. Ada perasaan aneh yang sulit di deskripsikan, meskipun hanya seper sekian detik namun sangat dalam.      Kemudian Gadis itu segera memalingkan wajahnya ke arah kertasnya yang basah dengan wajah merengut kesal.      "Dia yang nabrak.. Kok nyalahin aku. Aneh..!" Batin gadis itu.      "Ck haaah.. Sorry yaa.. Gue buru-buru nich.." Ucap Zia mengulas senyum sebentar lalu kemudian berlari lagi.      "Heeeiii.. tungguuu.. Huh.. Nggak bertanggung jawab.. Dasar..! Yaaah kertas nya juga basah." Gerutu gadis itu seraya mengibas-ngibaskan kainnya yang kotor akibat lantai basah.      Meskipun Zia mendengar teriakan gadis tadi, namun Zia tak menghiraukan nya lagi, yang ada di otaknya sekarang harus segera sampai agar tidak mendapatkan tatapan tajam dari rekan-rekannya.      "sial banget gue hari ini.. Hape ketinggalan.. Macet bikin telat.. Sampe sini malah nabrak orang.. Siapa sih tu anak ada di sekolah.. Libur-libur gini." Batin Zia dengan nafas tersengal-sengal.       Di lain tempat juga ada yang sedang menggerutu.      "Ck siapa sih dia.. Nyebelin banget." Gumam gadis itu.      "Hmm.. tadi dia senyumin aku. Yaa ampun.. Astaghfirullahal'aziim" Gadis itu senyum-senyum meringis menahan sakit.      "Hosh.. Hosh.. maaf guyzzzz… Glek..Glek..” Zia ngos-ngosan lalu menenggak air mineral yang di lempar oleh Bona kawan sesama artis.      “Thanks Bro..”      “Macet Bozzzz.. Sorry.” kata Zia cuek saat ada sepasang mata yang menatap tajam kearahnya.       Siang itu menunjukkan pukul 11.00 wib cuaca sangat panas namun masih tersisa sedikit awan putih yang menghiasi cakrawala biru berjalan perlahan mengikuti arah angin. Nampak di sebuah Gedung sekolah yang berdiri megah terdiri dari tiga lantai. Dengan halaman sekolah yang sangat luas terdapat lapangan yang multifungsi yaitu bisa untuk bermain futsal karena terdapat gawang fleksible, di tepi lapangan terdapat ring basket, jika Senin pagi di gunakan untuk pelaksanaan Upacara Bendera. Di depan tiap-tiap kelas terdapat wastafle, sekolah yang nampak asri dan hijau semakin cantik dengan banyaknya bunga-bunga dan pepohonan, dari mulai bunga Wjaya Kusuma yang banyak tergantung di atap kanopi, bunga Kemuning yang sedang bermekaran hingga tercium harum semerbak, Pohon Palm, Pohon puring, serta pohon Buah Tabulampot. Tiap kelas dipercantik dengan hiasan-hiasan warna-warni hasil prakarya murid-murid di sana. Ada lukisan kolase dan montase. Tapi suasana nampak lengang di karenakan anak-anak sekolah sedang libur Semester Ganjil setelah mereka melaksanakan PTS (Penilaian Tengah Semester).      Namun di sisi barat Gedung sekolah nampak beberapa orang yang lalu-lalang, terlihat sangat sibuk sekali, ada yang sedang mengatur tiang lampu, ada yang memasang kamera pada tripod, ada yang sedang memasang papan pada roda slider, ada yang sedang serius dengan kertas yang di pegangnya, ada yang berdialog sendiri, ada yang sedang mengutak-atik layar computer serta laptopnya sedangkan indra pendengarnya di tutupi dengan headphone, ada yang sedang membersihkan clapperboard, ada yang sedang makan gorengan, ada yang ngopi, ada yang bersih-bersih, ada yang ngobrol dan bercanda. Namun tak kalah menarik yang ada di sudut area tersebut yaitu terdapat Empat orang yang sudah bersiap melakukan sesuatu.      "Oke.. Sudah siap semuanya.. lighting siap..? Microphone siap..?” Teriak seseorang yang memegang clapperboard sambil menunjuk-nunjukkan tangannya secara berkeliling, lalu kemudian di sambut dengan acungan jempol oleh orang-orang yang merasa di sebut dan di tunjuk. Bahwa menandakan sudah OK semuanya, clapperboard pun di katupkan.      “Ok.. Camera.. Roll." Ucap seseorang.      "Action..!!" Teriak sang sutradara seraya mengamati layar monitor.      “Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Kanan.. Kiri.. Kanan.. Kiri.. Kanan..” "Hei kamu.. ikutin yang depan ya.. Samakan gerakannya..” Dion bergerak mengikuti irama musik tari, dan sesekali Dion menunjuk muridnya agar menyelaraskan gerakannya. Zia berperan sebagai Dion (Dalam adegan shooting FTV kali ini).      “Tap.. Tap.. Kanan.. Kiri.. Tap.. Tap..’’ Dion memberi aba-aba. Beberapa penari mengikuti arahan dari Dion selaku instruktur / guru tari dari mereka. Penari berlenggang sesuai musik dan ketukan iramanya.      Tapi ada satu anak yang agak berbeda gerakannya, di karenakan menahan sakit pada bokongnya.      “Cut.. Cut.. itu yang rambut panjang kenapa agak pincang..?” teriak sang sutradara      “Kainnya juga.! kok kotor banget sih neng..?” Teriak lagi.      "Ooh itu Luna.." Ucap salah satu kru yang tadi sudah mendata nama-nama para extras      "Luna..!!" Lambai kru tadi.      “Mak Poniiiii.. kainnya tolong di ganti mak..!” Merasa namanya di panggil, mak Poni yang bagian seksi rempong itu lari-lari dengan poni menjuntai di jidadnya, makanya dia di panggil mak Poni, padahal sich nama asli nya Lili Maryani, hihihihi.. ada-ada ajah. Flashback On      Sebelum shooting di mulai, Zia sudah mengganti bajunya dengan pakaian khusus yaitu kaos serta celana training, sebagai instruktur tari pakaiannya dilengkapi dengan selendang panjang yang terikat di pinggang nya. Dengan muka sedikit di bubuhi bedak oleh team make up, Zia siap untuk melalukan shooting, begitu juga dengan teman-teman artis lainnya.      Setelah berada di lapangan untuk melakukan take mata Zia tertegun dan kaget pada gadis berambut panjang dengan muka yang ayu dan bersih, dia yang paling tinggi di antara teman-temannya. Dan tak kalah terkejutnya lagi, Zia baru ingat bahwa itu gadis yang tadi dia tabrak di koridor sekolah pas mau belok ke arah lapangan, akibat kesiangan karena macet , jadi Zia berlari dan menabraknya.      Apalagi melihat kain tari yang gadis itu kenakan sangat kotor akibat terjatuh tadi.      “Oooh dia figuran di tim penari..” Bathin Zia dengan perasaan bersalah, gara-gara dirinya, gadis itu kainnya kotor.      “Cantik..!” gumamnya lirih.     “Siapa yang cantik Zi..?” Tanya Laras teman shooting Zia penasaran dengan alis bertaut.      “Eeng eh anu.. nggak ada.. hehe..” Sahut Zia sedikit gugup.      "Aaah ngaku aja lo Zi.. Di antara mereka ada yang lo incer yaa..?" Laras mengedipkan sebelah matanya untuk meledek Zia.      "Hahaha nggak lah Ras.. Ya kali gue ngincer anak sekolah." Sanggah Zia seraya mengibaskan sedikit rambutnya yang diterpa angin.      "Ya kalo ada yang lo incer nggak ada salahnya kan..? Walaupun mereka masih sekolah.. Emang ngaruh." Laras menonjok pelan lengan Zia, rupanya Laras masih penasaran dengan netra Zia yang terus menerus curi-curi pandang ke arah tim penari.      "Ngaco lo Ras." Zia nampak sedikit tengsin, karena aksi curi-curi pandang nya ke gab Laras.      "Lo bener Ras.. Emang ada yang gue incer di antara mereka.. First time i saw her.. Meski gue belum tau siapa dia. " Hati Zia sibuk sendiri. Saat tadi tatapannya bertemu, Zia melihat lagi-lagi ada keteduhan di netra nya. "Your eyes."  Desah Zia pelan.      Di waktu yang sama setelah memasuki lapangan untuk memulai shooting, mata Luna terpaku saat melihat cowok berambut gondrong itu.      “Loh.. itukan cowok yang nabrak aku di lorong kelas tadi..?” Bathin Luna sebal, karena gara-gara cowok itu b****g Luna sakit dan juga kainnya jadi kotor.      Sesaat mata Aluna dan mata Zia bersitubruk, ada perasaan yang sangat canggung di antara mereka, Luna terkesiap, tak lama ia memalingkan muka dengan wajah bersemu merah.      "Ooh dia artis nya..? Tapi kok aku belum pernah liat sebelumnya ya..?" Tanya Luna dalam hati.      Tak sampai sepuluh menit kemudian Luna menengokkan kepalanya untuk menatap Zia lagi, namun terhalang oleh mak poni yang sedang merapihkan selendang Zia.      "Hmm.. Ehemm.. Ssstt.. Lun.. Lo dari tadi ngeliatin dia mulu.. Ganteng ya.. Hehehe..?" Senggol Kirana dengan setengah berbisik ke telinga Luna.      "Iishh paan sih Kir..? Luna terkesiap.      "Ya habis.. Mata lo tuh arahnya kesana mulu." Kirana yang sedari tadi melihat Luna sedang memperhatikan sang artis.      "Kamu tau nggak Kir.. Kain aku kotor tuh gara-gara dia tau.! Aku tadi ditabrak sama dia." Luna merengut.      "Hah..! Terus lo ditolongin dong sama dia..?" Tanya Kirana antusias dengan terkejut namun di tahan suara nya agar tidak terdengar yang lain.      "Boro-boro di tolongin.. Dia main ninggalin aku gitu aja.. Dasar nggak bertanggung jawab.. Huh.!" Luna masih bersungut-sungut kesal.      "Kir.. Emang dia artis nya ya..?"      "Iya.. Artis pendatang baru tapi udah banyak kok iklan sama film nya." Mereka berdua masih asyik berbisik-bisik ria.      "Masa sih..! Aku belum pernah liat.. Apa aku nya yang nggak engeh."      "Lo bukannya nggak engeh Lun.. Tapi kudet.. Hahhaha.. Oppss.!" Kirana membekap mulutnya sendiri di ikuti rengutan wajah Luna. Flashback Off      Shooting di lanjutkan kembali setelah di rasa semuanya sudah aman terkendali, meskipun b****g Luna masih terasa sakit tapi harus tetap profesional. Mak Poni pun sudah memberi minyak gosok untuk b****g dan kaki Luna yang sakit saat mengganti kain yang kotor. Luna juga sempat menceritakan kejadian penyebab kotor kainnya pada mak Poni. Menurut mak Poni, Artis yang menabrak Luna itu orang yang baik dan ramah, hanya saja mungkin tadi dia terburu-buru. “Kamera.. Roooll.."      "Action..!” Teriak sang sutradara      “Tap.. Tap.. Satu.. Dua.. Tiga..” Dion memberi aba-aba, ia jalan berkeliling mengitari muridnya yang sedang latihan menari, itu cerita sesuai dengan sckrip yang di baca Zia. Saat Zia atau Dion mengajar, ia harus sesekali memegang tangan muridnya untuk memperbaiki gerakan, lalu menyentuh dan menekan pundak muridnya agar posisi badan sedikit merendah.      Entah ada apa dengan Zia, ia selalu mengitari gadis yang pernah di tabraknya itu, dan setelah berjalan berkeliling lagi-lagi Zia kembali ke tempat gadis itu.      “Iyaap.. Kamu merendah lagi.. samakan gerakannya." Dion menyentuh pundak gadis itu. “Satu.. Dua.. Tap.. Tap.. Ayo semangat adik-adik.." SAMAKAN GERAKANNYA..!” Teriak Dion      Namun tetiba ada perasaan yang agak aneh, desiran di hati Zia tidak dapat di tolak, dentuman di hati Zia terus bergejolak. Apalagi saat mata keduanya bersitubruk, Zia nampak gugup, mata Luna yang teduh membuat Zia sedikit kikuk.      Dalam adegan shooting itu Zia seolah-olah memberikan pengarahan bagaimana cara menari dengan tehnik yang benar serta ber power, sesekali Zia memegang jari-jemari muridnya agar lebih lentik dan luwes.      Lagi-lagi Zia memegang jari tangan gadis itu dengan lembut.. "Yaaaap.. lenturkan sedikit lagi tangannya..” apakah ini modus pikir Zia.      Netra kedua nya sesekali saling menatap, namun tatapan Luna sedikit sinis.      “Heeeeh.. Modus banget sich ni kak Dion.." Bathin Luna kesal. Lagi-lagi Luna yang di dekati dan di sentuh.      Disisi lain tak jauh dari mereka ada sepasang mata yang kurang senang dengan interaksi antara Zia dan Luna.      Tiba-tiba terdengar tepukan tangan seseorang.. (masih di dalam adegan shooting FTV)      “Plok.. Plok.. Plok.. Bagus ya Dion, ternyata kamu selama ini diam-diam masih mengajar nari .. Hah..?” Hardik lelaki setengah baya menghampiri Dion yang sedang melatih nari.      "Kurang apa mama dan papa berikan ke kamu Dion..?" Entah dari mana datangnya tiba-tiba orang tua Dion sudah berada di tempat Dion mengajar tari.      Papa Dion marah sambil menahan suaranya seolah-olah sudah kesal dengan apa yang ia lihat di depan matanya. Tak percaya anak semata wayang nya itu memilih menjadi guru tari tradisional di banding meneruskan usaha bisnis papanya.      Dion masih terpaku berdiri dengan kepala tertunduk di depan anak didiknya sambil mengetuk-ngetukkan jari di pahanya.      “Eh’hem kak..” Salah satu dari muridnya memanggil Dion      “Kalian boleh istirahat dulu.” Zia lantas buru-buru memotongnya dan memerintahkan muridnya istirahat.      Sesekali Dion menyugar rambutnya yang gondrong ke belakang. “Jawab Dion..! sampai kapan kamu terus seperti ini, papa dan mamamu semakin tua, lalu siapa yang akan jadi penerus mengolah perusahaan kita.” Perempuan paruh baya itu terlihat sangat kalut, di sebelah kiri nampak seorang gadis cantik tapi sangat jutek sambil memegang tangannya dan mengelusnya perlahan. Ooh ternyata perempuan paruh baya itu adalah berperan sebagai mama Dion.      “Sabar Tante..” tukas gadis yang berada di samping mama Dion.      "Ini pasti ulah kamu kan..?” Nanar mata Dion menghunus tajam ke arah gadis yang ada di samping mama Dion.      “Bu..Bukan begitu Dion.. Ini demi kebaikan kamu juga kan..?” seloroh gadis cantik dan jutek yang berperan sebagai Vena      “Cut..! OK..! Bagus..! Tapi ekspresi kamu masih kurang gugup Ven..” kata sang Sutradara sambil menunjuk kearah Vena. (Dalam adegan shooting FTV)       Oooh ternyata di sisi barat Gedung sekolah sedang berlangsung shooting FTV yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta. Dimana shooting tersebut melibatkan beberapa siswa dan siswi sebagai pemeran figuran yang di ambil dari Sanggar SC. ada Sepuluh anak perempuan yang mengikuti ekskul dan mayoritas murid-murid di sekolah itu.       Sanggar SC adalah sebuah sanggar tari tradisional yang berdomisili di kota D, meskipun belum genap dua tahun berdiri, namun sudah banyak prestasi yang di raihnya. Dari mulai menjuarai Lomba Tari Betawi tingkat kota, mewakili kotanya untuk tampil di Candi Prambanan dalam Event Festival Payung Indonesia yang di ikuti oleh beberapa Negara tetangga yaitu Jepang, China, Thailand, Korea, Pilipina dan masih banyak lagi, lalu masuk sepuluh besar dalam Lomba South Asia Dance Competition, Pengisi acara dalam rangka Pembukaan Alun-Alun Kota D, tampil sebagai Opening di beberapa acara resmi yang diselenggarakan oleh pihak Kementrian Indonesia.      Yaaaap betul.. Aluna dan teman-temannya adalah anggota dari sanggar SC. Sanggar SC adalah rekomendasi dari Mak Poni selaku seksi rempong yang bertugas mencari para Extras. Berhubung ini FTV tentang menari jadilah mak Poni merangkul sanggar SC dan kebetulan sebagian besar anggotanya bersekolah di gedung yang di pakai buat area shooting.      Masih di lokasi shooting yakni di ruang make up artis.      Angin menerpa rambut Zia yang gondrong, tatapan mata Zia menerawang jauh ke awan. Zia menghela nafas dalam-dalam. Ada perasaan yang sulit untuk di artikan. Entah perasaan apakah ini..?      Zia sedang break shooting, ia bersantai di kursi malasnya sambil menikmati segelas kopi dan kue brownies juga beberapa gorengan yang di sediakan Mak Poni. Di dekat jendela yang terbuka, satu kaki Zia bertumpu di atas lututnya. Hawa sejuk serta angin semilir membuat Zia sesekali menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah tampannya. Sesekali Zia menghirup dan menyesap kopinya. Tiba-tiba lamunan Zia di buyarkan dengan suara anak-anak gadis sedang bercengkrama yang melintas di luar jendela.     “Luna.. Emang bener ya tadi kamu di tabrak sama kak Dion Cie.. Cieee..” tanya Putri dengan irama meledek.      “Iiiiih apaan sich.. kok pake cie.. cie segala.. sakit tau..” jawab Luna sebal.      “Terus kenalan dong Lun..?” Tanya Rida penasaran.      “Ciiih.. boro-boro kenalan, nolongin aja nggak, aku tuh malah di tinggal lari tau..” Luna cemberut kesal.      “iiish Namanya bukan Dion tau Put.. Namanya aslinya Zildjian siapa gitu.. pokoknya panggilannya tuh Zia..” kata Metha.      “Bodo amat.. mau Dion kek.. mau Zia kek.. pokoknya dia nggak bertanggung jawab.. aku sebel..” protes Luna      “Huushh jangan sebel-sebel Lun.. nanti malah suka lho.. secara kak Zia kan ganteng.. artis pula..” Ledek Putri lagi      “Auu Aaach..” Pipi Luna merah merona.      “Hahahhha..” mereka tertawa Bersama-sama. Zia yang menyimak dari balik jendela hanya senyum-senyum saja mendengar percakapan gadis-gadis remaja itu.      "Siapa tadi namanya Luna.. Kalo nggak salah denger." Bathin Zia      “Aaaah nama yang bagus dan lucu,, jadi gemes..” Gemas Zia sambil senyum-senyum sendiri.      Kenapa selalu ada perasaan bergejolak jika Zia melihat gadis itu.. Aah yaaa.. Namanya Luna. Gadis itu mampu membuat hati serta perasaan Zia tak menentu. Namun Zia mencoba membuang perasaan itu jauh-jauh. Secara Zia seorang public figure dan baru sekitar dua tahun Zia terjun di dunia hiburan, sudah beberapa iklan yang ia bintangi, juga sudah beberapa FTV yang ia perankan, bahkan Zia saat ini sudah terkontrak dengan salah satu rumah produksi yang akan membintangi film layar lebar. Dan gadis itu, Zia belum mengenal lebih jauh. Lagipula Zia enggan rasanya mengenal lagi yang namanya cinta Tapi bayang-bayang gadis yang bernama Luna itu hadir di benak Zia, sejak pertemuan di koridor saat bertabrakan.      Zia berfikir ia seorang artis, sedangkan gadis itu hanya sebagai figuran dan masih anak SMA. Tapi apakah anak SMA nggak boleh jatuh cinta..? atau mengagumi seorang artis bahkan seseorang yang menjadi pujaannya. Aaaaah Zia merasa tidak adil. Zia berfikir tidak realistis. Tapi Zia belum mengetahui sepenuhnya, padahal sebenarnya Luna masih duduk di bangku SMP kelas 9 dan bukan anak SMA. Tapi kan gadis yang bernama Luna itu belum tentu memiliki rasa yang sama dengan apa yang Zia rasa.     “Aaaaah sudahlah..”Bathin Zia sambil membuang nafas kasar.     Netra Zia masih terus saja menatap keluar jendela, padahal anak ciwi-ciwi yang tadi sedang bercengkrama sudah kembali ke ruang ganti.      Sebentar lagi shooting akan di lanjutkan, untuk take yang kesekian kali. Zia buru-buru ke toilet dulu sebelum shooting dimulai. Setibanya di toilet ada mang Soleh yang sedang mengepel lantai depan kamar mandi.      Gurat-gurat di wajah mang Soleh nampak sangat terlihat, mengingat mang Soleh sudah berusia 52 Thn, tapi beliau masih gagah dan ulet dalam melakukan pekerjaan itu.      “Hati-hati mas Zia.. Liiii..” mang Soleh belum menyelesaikan peringatannya kalo lantai masih basah dan LICIN, namun..      "Aaaaa maangg Sooooleeh."      “Sreeeeet.. Gubrak.. Gedebuk..” “Adooww.. Aduh.. Duuuhh..” “Auwww.. Sakit..”     Zia meluncur terpeleset dan dengan bersamaan dari arah kiri seseorang muncul dan langsung terjatuh tepat duduk di kaki Zia, dengan tangan menahan di lantai, sambil meringis mengaduh kesakitan, akibat terkena sliding kaki Zia yang meluncur seperti berselancar, dan berhenti tepat di kaki seseorang itu. “Ka.. Kamu..!"   "Ka..Kamu..!" Pekik kedua nya bersamaan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook