106. Persekongkolan

1080 Kata

   Jam di dinding menunjukkan pukul 02.00 waktu Bali, Monik tak dapat memejamkan matanya, setelah hampir 30 menit menelpon suaminya ia tetap terlihat belum mengantuk, ia teringat akan ucapan Tasya yang dibisikkan kemarin ketika di café.    “Ga! Gue ga mau, kalo nanti misalnya ketauan, bisa hancur masa depan gue, hii serem ah.” Tolak Monik dalam hati.    “Montok! Lo ga bisa diem banget sih!” Susan menggeliat manakala Monik menyenggol badannya.    “Sorry San gue ga bisa tidur.”    “Mikirin Zia? atau kangen sama dosen lo?”    “Isshh ga ada hubungan sama keduanya.”    “Lha terus apaan Moniiik? Mata gue sepet banget.”    “Gue keingetan omongan Tasya.”    “Hah! emangnya dia ngomong apaan?” Susan bangun dan menyibakkan selimutnya.    “Dia nyuruh gue naruh obat pencuci perut di makanan y

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN