83. Arti Sahabat

1522 Kata

  Setelah mengakhiri teleponnya, Zia masih terpaku duduk di kursi kerja Ardi, tubuhnya menggoyang-goyangkan kursi dengan pandangan keatas langit-langit, Zia menggigit bibir bawahnya, sepintas lalu bayangan Luna hadir menyapa, entah mengapa ada rasa khawatir yang berlebihan manakala terbayang wajah Luna yang ayu serta tatapannya yang teduh nan polos itu kenapa-napa.    “Ya Allah lindungi Lunaku.” Gumam Zia lirih. Lamunan Zia buyar oleh suara panggilan lagi yang masuk, tapi kali ini dari Dodit.    “Yak bro, lo dimana.” Sapa Zia.    “Ane masi di tangerang men, nanti agak siangan ana ke sono, kirim alamat rokum ente, biar ane kaga nyari-nyari.”    “Iya tenang aja nanti gue kirim.”    “Dit, lo udah hubungin Tasya?”    “Belum men, hapenye kaga aktip, dari kemarin ane nelpon belum tersambun

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN