CANDICE EMRYS "JANGAN melontarkan omong kosong!" Hardikan si pemuda bersurai hitam sukses membuat kami menjengit. Kemurkaan membuat suaranya berkumandang di edaran ruang kepala sekolah—dan mau tidak mau, kami kontan tutup mulut seraya menstabilkan detak jantung. Untungnya, Graham masih cukup cerdas untuk langsung mengatupkan bibir, sebab akan mengundang malapetaka baik kepada dirinya ataupun kami apabila ia tetap mengeluarkan suara untuk mengutarakan alibi penuh omong kosongnya. Sementara itu, seluruh tatapan makhluk di dalam ruangan ini sudah terarah kepada manik mata merah darah Tristan. Hingga beberapa detik kedepan, atmosfer terasa mencekam akibat tercekik oleh keheningan. Mungkin akan terus berlangsung seperti itu kalau saja Tristan tidak mengusap wajahnya kasar dan berbalik arah

