CANDICE EMRYS PEMBIASAN sinar rembulan di dinding seperti terhalang oleh sebuah siluet. Bahkan dengan kelopak mata yang masih terpejam, aku tahu ada seseorang yang lain berada di dalam kamar asramaku. Tidak ingin melambungkan harapan akan kehadiran Shane—yang merupakan salah satu dari kemustahilan—kuputuskan untuk memisahkan kelopak mata bagian atas dan bawahku, meskipun aku butuh waktu sekitar enam detik bagi netraku untuk benar-benar terekspos. Lenguh lesu lolos dari bibirku, sebab belum memiliki durasi istirahat yang mencukupi—atau otakku saja yang menolak keinginan hati untuk terlelap. Aku baru sadar sepenuhnya ketika merasakan seseorang beringsut mendekat. Seperti biasa, derap langkah kakinya terdengar tegas dan terlatih. Kian menipisnya jarak di antara kami membuatku dapat melihat

