CHAPTER 12

1300 Kata
CANDICE EMRYS SETELAH bertukar pikiran sejenak perihal posisi tempat duduk, puncak tribune amfiteater merupakan keputusan akhir kami pasca tiba di sini. Sorak semarai dari para murid Asrama Nightfall menyerbak dan melambung tinggi sampai ke atmosfer, menciptakan kebisingan yang bergelora. Indra pendengarku terasa bengal akibat antusiasme mereka terhadap turnamen di awal semester—suatu ajang yang akan menentukan siapa paling hebat atau pengecut di tataran kelas Mesaia dan kelas Empeiro. Apabila salah satu dari mereka tumbang, risikonya adalah kejatuhan harga diri dan tersemat sebagai pecundang. Bangunan berbentuk bundar dengan beratapkan langit ini sangat luas, terdiri atas belasan baris tribune dan seluruhnya mengungkung pusat arena sedemikian rupa. Cakrawala terlihat menganga ketika aku menengadah dan hamparan biru kontan menyelubungi visualku. Cuaca agak terik karena sinar mentari dari balik awan putih yang bergelantungan menorobos turun hingga meruah di pusat arena bak kubangan pernak-pernik gemerlapan. Keadaan di dalam pusat arena masih kosong melompong, tetapi kekosongan ini tidak berlangsung lama—sebab beberapa penyihir tampak berhiliran mengangkat properti arena dan sejumlah vampir memelesat seraya meletakkan sebuah meja besar di sudut arena. Tempat penjurian. Sengaja tidak diletakkan di luar arena supaya bisa menghentikan pertarungan sengit antarmurid yang sewaktu-waktu melakukan penyimpangan dari regulasi awal. “Mereka tidak terlihat ada takut-takutnya,” kataku, sedikit meninggikan suara agar terdengar oleh Shane. Gadis bersurai pirang itu memandangiku sejenak seraya mengusap telinganya. “Kau tentu tahu soal kepercayaan diri murid-murid di sini yang terlampau besar. Omong-omong, berisik sekali!” balasnya. Tidak sepertiku, Shane benar-benar berteriak tanpa memedulikan pita suaranya. “Candice, apa kau tidak membawa penutup telinga atau benda apa pun itu yang dapat meredam suara?” “Tidak.” Bibir Shane mengerucut dan wajahnya menjadi pucat pasi. “Astaga. Kuharap aku memiliki sihir spesial untuk meredamkan suara,” lenguhnya. “Kalaupun ada, peluangmu untuk bisa menggunakannya juga pasti nol,” celetukku, sesekali menggerutu karena setiap detik pasti ada saja yang tertawa hebat seperti bocah edan. “Sihir spesialku belum bisa kukendalikan dengan baik. Bisa saja, aku melenyapkan sihir peredam milikmu itu. Omong-omong, apa sihir spesialmu?” Begitu mendengar pertanyaanku, kesibukan Shane untuk menutup telinga dengan jarinya langsung terhenti. Ia menatapku dengan tatapan tak terbaca dan risi yang mendominasi. Aku kontan kebingungan, agak bersalah juga karena pertanyaanku berhasil membuat gadis bersurai pirang itu merasa tidak enak. Namun, belum sempat salah satu dari kami kembali bersuara, atmosfer di sekeliling amfiteater tidak lagi bergelora—tergantikan oleh kebisuan. Tempat penjurian mulai terisi oleh sejumlah murid berseragam hijau lumut dan merah darah. Beberapa di antara mereka—khususnya berseragam merah darah—memiliki kulit lebih pucat dan kontras ketimbang murid berseragam hijau lumut. Merah darah untuk vampir. Hijau lumut untuk penyihir. Jumlah kursi di tempat penjurian adalah lima belas dan masih tersisa lima. Selama menunggu kelima kursi itu terisi oleh entah siapa, aku menilik satu per satu murid berseragam dan menemukan sosok familier di sana. “Uh. Rhett?” bisikku, tidak kepada siapa pun. Pemuda itu duduk terselip di antara seorang vampir dan penyihir, tetapi tidak membuatnya terlihat kecil. Rhett memiliki sihir spesial penyembuh dan tentu saja keberadaan pemuda itu sangat berarti di dalam turnamen kali ini. Seharusnya, aku tidak perlu heran. Meskipun aku benci memberikan pengakuan secara terang-terangan, tetapi aku akan mengaku kalau pemuda itu sudah terlatih dan aku tidak suka dengan fakta tersebut. Kehebatan Rhett membuatku semakin tampak kecil. Tiga pria dan dua wanita berbaris masuk ke dalam pusat arena dan mengisi sisa kursi yang kosong. Tidak seperti sejumlah murid berseragam itu, kelimanya terlihat lebih dewasa dan sepuh, sementara empat dari kelima makhluk itu mengenakan jubah dengan emblem ukiran emas bertuliskan ‘Nightfall’ yang tercantum di tengah-tengahnya. Kutebak satu-satunya makhluk dengan perbedaan penampilan yang sangat kentara adalah Menteri Shawn—yang sempat disebutkan namanya oleh Ben waktu itu—dan empat lainnya merupakan tangan kanannya. “Yang satu-satunya tidak mengenakan jubah itu adalah Menteri Shawn.” Di sampingku, Shane berbisik—kali ini ia tidak perlu berteriak karena atmosfer semakin sunyi dan terkendali. “Ia selalu memantau pelaksanaan turnamen dan dalang di balik hilangnya amfiteater pasca turnamen. Sihir spesialnya adalah transparan.” Tebakanku benar. Pria dengan ketegasan yang tercetak jelas di raut wajahnya adalah si pemilik sihir transparan. Sementara itu, Shane mulai memperkenalkan satu per satu di antara keempat pria dan wanita di samping Menteri Shawn—yang mengenakan jubah putih. Mulai dari Tuan Maxwell, si ahli sejarah dengan sihir spesial telekinesis—sama seperti Ben—kemudian ada Nyonya Amber, si ahli medis dengan sihir spesial serupa dengan Rhett, dan Tuan Jacos, si ahli tarung baik dalam jarak dekat maupun jarak jauh dengan sihir spesial mantra seperti Paman Miles. Selebihnya, terdapat Tuan Ambrogio dan Nyonya Thyone yang mengajar di kelas vampir dan Shane tidak tahu banyak soal mereka. Menteri Shawn mengicaukan sambutan sebagai formalitas, berdiri di tempatnya dengan tangan terentang lebar untuk menyambut para murid pendatang sepertiku di Asrama Nightfall. Ia menjabarkan regulasi-regulasi selama turnamen berlangsung dan setiap peserta akan terpilih secara acak oleh undian. Begitu ia menyudahi kalimatnya, Menteri Shawn kembali duduk di tempat. Tidak lama setelahnya, dua murid berseragam hijau lumut dan merah darah maju ke depan mejanya seraya menenteng dua buah wadah kotak berisikan gulungan kertas yang mencantumkan nama-nama peserta. “Benjamin Ryker.” Napasku tersekat ketika pria itu menyebutkan nama seseorang yang terpilih sebagai peserta turnamen dengan begitu lantang. Seorang pemuda familier yang bersurai hijau neon beringsut bangkit dari posisi duduknya, kemudian berjalan ke pusat arena dengan raut santai. Kedatangan Ben di sana mengundang tepukan tangan dan decakan kagum dari bibir murid-murid berkaum hawa di sekeliling amfiteater. Ternyata tidak hanya pemuda tampan saja, pemuda cantik sepertinya pun berhasil menarik perhatian kaum hawa dengan begitu mudahnya. “Siapa pun yang akan menjadi lawan mainnya, sudah pasti akan kalah telak.” Shane berbicara di balik decakan kagum tersebut. Begitu aku meliriknya, tatapan gadis itu tidak lepas dari Ben. “Apalagi murid-murid kaum hawa. Sudah pasti mereka terlanjur tumbang karena ketampanan Ben yang manis.” “Ketampanan Ben yang manis.” Aku mengulang kalimat terakhir Shane kembali seraya mengangguk tak paham. Itu merupakan suatu kalimat bersifat ambigu—meskipun Ben memang tampan, namun tetap tergolong cantik di mataku. “Apa yang membuat mereka mengidolakan Ben?” “Mana kutahu,” Shane mengangkat pundaknya. “Tetapi, tidak mengherankan juga untukku—mengingat ia pernah membantu Pihak Asrama untuk mengangkat kembali sebagian pepohonan di Hutan Imogen yang sempat tumbang akibat serangan Organisasi Harapan. Ia juga membantu penyihir lain untuk menata ulang asrama sedemikian rupa. Intinya, Ben terlihat sempurna di mata siapa pun. Sifatnya ramah tidak sombong.” “Kau tampak serba tahu, Shane.” Aku bersuara kembali saat Menteri Shawn kembali mengubrak-abrik isi wadah kotak satunya untuk mencari nama seorang peserta yang akan menjadi lawan tanding Ben. “Apakah seluruh kaum penyihir dan vampir di luar Asrama Nightfall memang mengetahui ini? Sebab, kau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kalau kau masuk ke kelas Neoferm, tahu.” Hanya mengandalkan insting, aku tahu Shane menyembunyikan sesuatu. Ia bukan seorang pendatang, meski ia tetap kukuh menyatakan bahwa kami berada di kelas yang sama. Dimulai dari gadis bersurai pirang itu mengetahui kelezatan daging berwarna tak menarik di paviliun, memberi tahu satu per satu nama para juri dengan mudahnya, menjabarkan serangan yang sempat terjadi di Asrama Nightfall, dan tentang Ben. Namun, aku memutuskan untuk tidak mengatakan lebih ketika kulihat mulut Shane mengap-mengap seperti mencari-cari jawaban yang tepat. “Aku—” “Shane Declan.” Mendengar namanya tersebut oleh Menteri Shawn, gadis bersurai pirang itu termangu sejenak dengan sepasang mata birunya membeliak bulat besar. Setelah kesadaran Shane terkumpul, ia menatapku dengan sebuah tatapan yang tidak bisa kuartikan dalam sekali tatap. Gemuruh kontan mendominasi amfiteater tatkala Shane beranjak dari puncak tribune dan berjalan penuh keraguan menuju pusat arena. Seluruh pasang mata kini menatapnya seorang. Kudengar desisan sinis dari sejumlah murid dan membuat langkah Shane gemetaran. “Kuharap ia tidak akan membunuh lagi,” seseorang bersuara—tepat di sampingku.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN