CANDICE EMRYS SEANTERO amfiteater masih terisi oleh bisikan dan desisan sinis—tertuju tidak kepada siapa pun kecuali Shane. Langkahnya begitu lamban seperti siput, namun dari jarak jauh pun, aku bisa melihat kedua tungkainya gemetar tak karuan. Kendati sepasang mataku masih mengikuti pergerakan si gadis bersurai pirang, pikiranku tidak pada tempatnya. Ucapan oleh seseorang yang berdiri di sampingku mau tidak mau membuatku kebingungan setengah mati. Aku tidak tahu definisi membunuh apa yang ia maksud. Karena terlalu memusingkan perkataan si gadis bersurai oranye, tahu-tahu saja Shane telah sampai di pusat arena begitu aku tidak lagi melihatnya menuruni tribune. Ben sudah berdiri menghadapnya dengan senyum ramah—tanpa kesombongan sama sekali—sementara lawan tandingnya kini berdiri dengan

