CANDICE EMRYS
SEMPAT berspekulasi mengenai Tristan telah memiliki teman kencan dan kedapatan diselingkuhi merupakan spekulasi paling bodoh yang pernah ada. Bahkan, aku hampir melemparkan tatapan iba kalau saja Roselle Adelard tidak segera mengintroduksi dirinya sebagai bibi dari Tristan. Sebenarnya, aku agak ragu kalau ia benar-benar seorang bibi—wajah tirus, surai pirang, tubuh ramping dan mungil sama sekali tidak mencerminkan bahwa ia merupakan seseorang berusia sepuh. Hanya terlihat beberapa tahun lebih tua dari pemuda itu.
Salah satu sudut bibirnya mengalirkan cairan merah. Sepasang matanya merah membara setelah ia menenggak sesuatu dari ceruk leher seorang pria muda—yang sempat kusangka sebagai selingkuhan wanita itu. Pasalnya, posisi mereka benar-benar tidak ada etisnya pasca aku dan Tristan tiba di sana tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tubuh Roselle mengimpit si pria muda di bawahnya—mencondongkan kepala tepat di ceruk leher bagian kiri teman kencannya.
Posisi mereka kala itu berada di sebuah sofa dengan warna senada seperti cairan kental beraroma karat tersebut.
Wanita itu menyekakan cairan merah di sudut bibirnya, kemudian beringsut bangkit dari atas si pria muda tanpa merasa kikuk sedikit pun. Ia berjalan menghampiri kami yang telah berada di dalam ruang pribadinya semenjak beberapa detik lalu. Ketika aku mencuri pandang beberapa kali ke teman kencan Roselle, pria muda itu tidak lagi merebah dengan kepala bersandar di kepala sofa—alih-alih duduk seraya menata kembali kerah kemejanya yang berantakan.
“Kau pasti Candice Emrys. Benar-benar perpaduan sempurna dengan mereka,” kata Roselle. Tanpa kuduga, ia maju selangkah lagi meski jarak di antara kami sudah tergolong sempit—hanya untuk merengkuhku dengan mendadak. “Kau mirip sekali dengan kedua orangtuamu, Candice. Eksistensimu membuatku merindukan Felicite dan Finegan.”
Bertepatan dengan Roselle menuntaskan kalimat berlibat-libatnya—dan membuatku kebingungan dalam merespons—Glacies tiba-tiba saja muncul dari balik sofa merah dan menukik tepat ke puncak kepalaku sampai-sampai rengkuhan wanita itu terlepas saat itu juga. Glacies berpindah dari kepalaku dan terbang di antara kami seraya mengeluarkan suara imut khasnya. Sayap mungil makhluk itu berkepak-kepak dan kepalanya menghadapku, kemudian kembali menukik ke bagian dadaku sekadar untuk berada di dalam dekapanku.
Roselle mundur selangkah pasca si pria muda tiba tepat di sampingnya. Wanita itu tertawa kecil ketika melihat Glacies seakan-akan terlalu protektif. Ia menatap Glacies, aku, dan teman kencannya secara bergantian. “Makhluk itu masih tetap saja seperti dulu—cemburuan. Sama seperti kau,” katanya dengan nada mengejek—mungkin karena menyamakan pria muda itu dengan sesosok makhluk bertanduk tersebut.
“Setidaknya, kecemburuanku lebih wajar daripada Glacies.” Sang teman kencan tersenyum kecil setelah mendengus, kemudian menjatuhkan visualnya tepat pada manik mataku. Ia maju satu langkah dengan begitu terlatih—tegas dan ringan—dan kami telah berhadapan detik itu pula. “Omong-omong, namaku Leonard Asterro dan aku adalah tunangan wanita cantik ini.” Leonard—nama si pria muda—melongok tepat ke belakang pundaknya untuk menatap Roselle sejenak, kemudian kembali memusatkan atensi kepadaku. “Senang melihat kau yang seperti replika sempurna dari perpaduan antara Finegan dan Felicite di sini.”
Pria muda itu membungkuk empat puluh lima derajat, kemudian mengecup ruas jemari tangan kananku tanpa aba-aba. Tidak ingin tunangan Leonard murka, aku segera menarik tanganku kembali tanpa mengurangi rasa hormat dan segera mengusap tengkukku dengan kikuk. “Senang juga bisa melihat kalian di sini,” balasku, menatap risau ke arah Tristan dan Glacies yang masih kurengkuh di tangan kiri. Aku cepat-cepat membungkuk dan melanjutkan, “Terima kasih atas sambutan baiknya.”
“Dengan senang hati.”
Kudengar lontaran dengus dari arah samping, jadi segera kualihkan atensi menuju sumbernya. Ekspresi Tristan masih datar, tetapi ia menyoroti bibinya dengan penuh bosan dan keengganan. “Aku tidak ingin menunggu lama. Cepat serahkan benda-benda itu kepada gadis ini,” katanya, lebih terdengar seperti titah di indra pendengarku.
Cara pemuda itu mengatakannya seperti ia tidak ingin berlama-lama di sini dan menyaksikan perbincangan tak penting di antara kami. Tidak mengherankan juga, sih.
“Jangan gegabah seperti itu, sayang.” Roselle tersenyum kecil. Kedua tangan wanita itu terulur untuk menggosok kedua pipi pemuda itu dengan gemas. “Kuberikan kau olahraga pipi supaya kau dapat mengatakan lebih banyak kalimat lagi.”
“Bibi,” erangnya, dongkol.
Setelah Tristan menepis kedua tangan Roselle dari pipinya, wanita itu segera menjatuhkan pandangan ke arahku lagi. “Sebelum bocah manja ini mengeluarkan tanduk yang sama seperti Glacies, kurasa aku akan menyerahkan jadwal dan seragam untukmu sekarang, Candice.” Dalam satu kedipan, wanita itu telah memelesat menuju ke balik meja besar di dalam ruang pribadinya.
Ia tampak membongkar isi almari di dekat meja, kemudian mengeluarkan dua buah kemasan. Roselle memelesat kembali saat telah mengambil kedua kemasan tersebut. Dalam hitungan detik, ia sudah berdiri di depan mataku dengan masing-masing kemasan di kedua tangan terulur. Kali ini, aksi memelesatnya mengundang geraman singkat dari Tristan—entah mengapa ia tampak kesal. Begitu aku mencuri pandang ke arah pemuda itu, Tristan melihat ke arah lain tanpa mengacuhkan kami berdua.
Kudapatkan Roselle sempat melirik keponakannya sekilas, tetapi segera menatapku lagi. “Kemasan ini adalah seragam,” katanya. Ia menyerahkan kemasan berskala kecil terlebih dahulu. “Coba kaukenakan dulu untuk memastikan seragamnya muat atau tidak. Tetapi, melihat kau memiliki tubuh semampai yang tidak jauh berbeda dengan Felicite kala itu, kelihatannya akan muat untukmu.”
Tanpa berpikir panjang, aku lantas membuka kemasan dan meraih isi di dalamnya. Jas berwarna hijau lumut kini menjuntai tepat di depan wajahku. Ketika aku mulai meniliknya, terdapat emblem bertuliskan ‘Nightfall’ pada bagian kiri—tepatnya di saku seragam. Sebuah kemeja putih tersisip di balik jas hijau lumut, menjadi tanda bahwa keduanya merupakan pakaian senada, berikut dengan rok hitam rimpel sepanjang lutut yang juga tersampir di bawahnya.
Sesuai dengan perkataan Roselle, aku memutuskan untuk mencoba seragam tersebut tanpa melepaskan pakaianku barang sedikit pun. Yang kulakukan hanya memasukkan kedua kaki ke dalam rok, kemudian menarik ritsleting yang menjadi pengait sampai merasakan keadaan rok di pinggangku sudah rapat. Setelah itu, kucoba seragam bagian atas dan berkaca sejenak begitu Roselle menunjuk ke arah cermin datar yang berada di sudut ruang pribadinya.
“Sudah pas?” tanya Roselle. Pantulan dirinya berada di balik milikku ketika ia datang menghampiri dengan tangan masih menenteng kemasan kedua.
Aku merespons dengan anggukan, kemudian berbalik menghadapnya dan mulai melepaskan kembali seluruh seragam Asrama Nightfall dari tubuhku. Setelahnya, Roselle dan aku langsung mendekati Tristan dan Leonard yang tampak berbincang singkat dengan Glacies duduk di pangkuan pemuda itu. Kupikir mereka tidak akan berinteraksi karena sifat keduanya yang bertolak belakang, namun agaknya mereka memang sudah mengenal cukup lama.
“Nah, ini jadwal dan beberapa buku sihir kepunyaanmu.” Roselle menempatkan kemasan kedua di atas tanganku. “Untuk kamarmu, Tristan akan mengantar kau ke sana.” Ia melirik pemuda itu dengan mengedipkan sebelah matanya, “Kau sudah bisa pergi sekarang, sayang. Jangan mengamuk karena kau tentu tahu betapa rumitnya menjadi seorang gadis.”
“Berisik.”
Tristan berbalik menghadap pintu tanpa repot-repot berpamitan dan menungguku untuk menyusul pemuda itu. Roselle dan Leonard tertawa pelan, tidak tahu apa makna di balik tawa mereka. Begitu Glacies akan menyusulku, Roselle berjinjit dan mengambil makhluk bersurai biru tersebut dengan secepat kilat. Ia memberontak, namun cengkeraman Roselle lebih erat sehingga ia tidak bisa bebas. Kebingungan, aku memandangi mereka dengan lipatan samar di permukaan keningku.
“Glacies sebaiknya dititipkan di sini terlebih dahulu. Kami perlu mengajarinya beberapa hal karena sudah lama tidak berlatih kekuatannya,” kata Roselle, menjawab kebingungan abstrakku.
“Oh, baiklah.”
Setelahnya, aku dan Tristan bertolak dari ruang pribadi Roselle, meninggalkan wanita itu bersama sang tunangan dan si makhluk bertanduk. Ketika aku telah menutup pintu, kesenyapan kembali merebak di sekeliling lorong asrama putri. Selama kutinjau satu per satu deretan pintu, sepertinya ruang pribadi Roselle adalah paling beda di antara ruangan lain. Ia memiliki pintu paling besar, sementara pintu berukuran biasa-biasa saja mendominasi lorong asrama.
Kembali melangkah, tidak ada sedikit pun suara yang bermuara—kecuali derap langkah kaki kami. Masih tetap pemuda yang sama, Tristan tidak berbicara sama sekali—sampai-sampai aku dibuat keheranan olehnya. Jika ini terus berkelanjutan, aku curiga bibirnya akan merekat secara permanen atau ia akan kehilangan pita suara karena jarang menggunakannya.
“Bibimu terlihat masih muda.” Aku membuka suara, meski tahu Tristan tidak akan merespons. “Atau kau saja yang terlihat bongsor?”
Pemuda itu berhenti. Mulanya, kupikir Tristan merasa tersinggung dengan pertanyaan sarkasmeku. Tetapi, ia menghadap ke salah satu pintu barisan kiri dan menatapku tanpa mengatakan apa-apa. Entah ia terlalu irit atau pelit bicara, aku hanya bisa menerka ke bagian alam mana akan dituju Tristan setelah kematiannya.
Namun, aku tidak bisa untuk tidak terperanjat ketika pemuda itu berkata, “Masuk.”
“Tanpa mengetuk pintu?”
Tidak ada respons darinya, aku kontan membuka pintu di hadapan kami. Warna ungu langsung merangsek ke dalam retinaku ketika pintu terbuka, sampai-sampai aku dibuat mengerjap olehnya. Rasa mual menggerayangi organ pencernaanku dan hampir kumuntahkan tepat di ambang pintu kala itu juga. Setahuku, aku bukan seorang pengidap fobia terhadap warna ungu—porphyrophobia—dan cukup tertarik dengan arti di balik warna tersebut. Ia memiliki arti keakraban dan rasa aman, tetapi serba ungu di dalam ruangan ini membuatku mau tidak mau merasa pening.
Ternyata ada yang lebih tidak waras dari pecinta warna putih gading.
“Siapa makhluk i***t yang dengan lancangnya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?!” Suara cengking menjadi sambutan pertama selain warna ungu pasca kami tiba di dalam kamar asrama ini.
Gadis bertubuh jangkung bak seorang model komersial berkacak pinggang seraya menatapku tajam. Dalam hati, aku ingin sekali berganti kamar—siapa pun kecuali gadis ini. Jika aku benar-benar satu kamar dengan gadis pecinta ungu tersebut—yang juga memiliki surai sepanjang pinggang dengan warna sepadan—bisa saja aku benar-benar akan menjadi si pengidap porphyrophobia. Selain itu, paras juteknya pun sangat mencerminkan bahwa ia bukan tipikal seorang kawan sekamar yang mengasyikkan, alih-alih menjengkelkan.
Tatapan si gadis ungu jatuh kepada Tristan yang berdiri di balik pundakku. Raut juteknya sirna seketika, tergantikan oleh tatapan menggoda yang memuakkan. “Ada apa seorang pemuda tampan sepertimu kemari, Tuan Baxter?” tanyanya, selembut kapas—bertolak belakang dengan caranya menyambut kedatanganku tadi. “Dan mengapa kau mengantar gadis tak menarik ini kemari?”
“Mohon maaf.” Aku mengangkat suara dengan sinis. “‘Gadis tak menarik’ yang kaumaksud ini memiliki nama, Nona Ungu. Dan ia akan menjadi kawan sekamarmu mulai dari sekarang.”
Ia memandangiku tak suka, setengah mencemooh dilihat dari salah satu sudut bibirnya terangkat. “Nona Ungu? Jangan asal mengubah nama! Namaku Tessa Merrick dan sihir spesialku adalah api. Lagi pula, Nona Pengubah Nama, siapa namamu—dan apa sihir spesial bodohmu itu?”
Tanpa mengurangi rasa percaya diri, aku berkata dengan mantap, “Namaku Candice Emrys.” Kuberikan jeda sejenak sebelum meneruskan, “Dan aku adalah si pelenyap.”[]