CANDICE EMRYS
EMPAT menit adalah durasi paling minim untuk menjangkau bangunan serupa kastel dari gerbang obsidian. Hanya untuk memasuki bangunan itu, kami perlu menelusuri halaman depan lebih dahulu—cukup luas dan kosong melompong tanpa pohon barang satu pun. Hampir serupa dengan rumah sepetakku, dinding yang tersusun atas kelindan batu pualam memblokade Asrama Nightfall dengan begitu sempurna.
Keamanan di sini seakan-akan hanya dapat bergantung kepada dinding putih gading setinggi lima belas meter yang menjulang di atas permukaan tanah.
“Pusat Akademi—itu sebutan akrab untuk bangunan utama,” terang Ben. Tatapan si pemuda cantik jatuh ke bangunan serupa kastel. “Di dalam Pusat Akademi, kau akan menemukan berbagai ruangan dengan fungsi yang tidak kalah beragam dan terbagi menjadi dua—kelas penyihir dan kelas vampir. Masing-masing kelas penyihir dan kelas vampir terbagi menjadi tiga tataran; kelas Neoferm untuk murid pendatang, kelas Mesaia untuk murid menengah, dan kelas Empeiro untuk murid kompeten.”
Manggut-manggut, aku mengedarkan pandangan dengan memicing mata, berupaya melihat apa pun di balik pintu Pusat Akademi yang terekspos sedikit—tetapi tak kutemukan apa-apa kecuali kegelapan. Selagi kami berjalan mendekati Pusat Akademi, sepasang mataku menilik ornamen pintu yang membentuk ukiran abstrak penuh lengkungan serta spiral tak jelas.
Kurasa, si pembuat ornamen tersebut hanya iseng saja dan membiarkan imajinasinya terealisasikan dengan abstraksi seni yang tinggi.
Si pemuda cantik bernama jantan itu merentangkan kedua tangan, mendorong pintu berornamen untuk membiarkan bagian dalam Pusat Akademi semakin terekspos dengan lebar. Pintu berderit selagi ia mendorong dan Ben mengizinkan aku untuk masuk ke dalam—sementara pemuda cantik itu dengan baiknya menahan pintu. Bayangan hitam sebuah kandil yang tergantung di langit-langit Pusat Akademi jatuh tepat di depanku—menyuguhi kami dengan bentuknya yang meliuk-liuk, berikut dengan bayangan suar oranye penuh bara pada sumbunya.
“Pusat Akademi memiliki empat lantai. Dari pintu masuk, kelas penyihir berada di sisi kanan dan sebaliknya, sisi kiri diperuntukan kelas vampir. Untuk menjangkau kelas penyihir, kau perlu menaiki tangga spiral di sana.” Ben menunjuk ke arah kanan kami dan dapat kulihat sebuah tangga spiral mengarah ke atas. “Sebagai penyihir, kita tidak diberikan izin menuju kelas vampir—dan itu juga berlaku sebaliknya.”
Sekarang, intensitas keinginanku untuk bersujud sebagai bentuk rasa syukur teramat besar. Bayangan akan kesenyapan sepanjang perjalanan menuju asrama langsung raib seketika, sebab Ben terus menerangkan setiap letak ruangan di Pusat Akademi tanpa melewatkan penjelasan barang sedikit pun. Ia agaknya menikmati pekerjaan sementaranya sebagai pembimbing murid kelas Neoferm—kelas pendatang—sepertiku. Tidak heran kalau-kalau ia begitu terbuka dan baik kepadaku.
Yang pasti, Ben tidak apatis seperti Tristan dan tidak arogan seperti Rhett. Ialah sebuah definisi dari kesempurnaan sesungguhnya.
Derap langkah kaki kami terdengar berkumandang akibat atmosfer sepi yang merebak di sekeliling Pusat Akademi. Ben masih tetap menerangkan—sesekali menatapku dan kurespons dengan anggukan sebagai formalitas. Ketika aku tak sengaja mendongak akibat perubahan intensitas cahaya, ternyata tidak ada lagi kandil yang menggantung di langit-langit Pusat Akademi yang tinggi. Sumber penerangan kini tergantikan oleh lampu pijar seiring dengan kian menyempitnya koridor Pusat Akademi, sebab hanya berisikan beberapa deret pintu.
Memasuki area selanjutnya melalui pintu keluar di penghujung koridor, sinar mentari kontan menyeruak ke dalam retinaku dan membuat erangan lolos dari bibirku. Kami tiba di halaman belakang Pusat Akademi—memberikan aksesibilitas menuju bagian lain dari Asrama Nightfall. Tidak jauh berbeda dengan halaman depan, di sini tidak tampak sedikit pun pepohonan—hanya dinding pualam yang memblokade. Pembedanya adalah terdapat gazebo klasik dan sebuah air mancur tepat di sisi kanan pintu keluar Pusat Akademi.
Suara air yang mengalir jatuh ke permukaan air mancur terdengar menggiurkan. Ingin rasanya menceburkan diri ke dalam sana guna mengembalikan seluruh kesegaranku setelah menempuh perjalanan selama belasan menit bersama Tristan di atas langit dengan menunggangi kelelawar aneh. Bicara soal pemuda itu, ia masih belum membuka mulut di saat kawan sekamarnya telah berbicara ratusan kata tanpa kewalahan sedikit pun.
Tristan berjalan paling belakang di antara kami, sedang melipatkan kedua tangan saat aku menengok untuk mempertanyakan eksistensinya di dalam hati. Mungkin karena merasa diperhatikan, aku tertangkap basah olehnya dan membuat tatapan kami saling jatuh kepada satu sama lain. “Apa benar kau adalah makhluk hidup? Bukan semacam robot atau mesin berjalan atau apalah yang menjelma sebagai seorang penyihir?” tanyaku, tidak ingin membuat rasa percaya dirinya bangkit setelah melihatku memperhatikan pemuda itu.
Ia bergumam sejenak, lalu berjalan mendahuluiku yang sengaja berhenti untuk menjadikan langkah kaki kami sejajar. Aku lantas meneruskan langkah dengan menahan dengus secara mati-matian. Bibirku mencibir saat aku mencercanya dengan berkata, “Kuharap aku tidak akan kehilangan kesabaran agar aku tidak mendorongmu masuk ke dalam air mancur—untuk membuktikan kalau-kalau kau adalah robot atau bukan.”
“Percuma saja, Candice. Kau hanya akan berakhir dengan menguji kesabaranmu sendiri kalau mengajaknya berbicara,” ujar Ben. Si pemuda cantik itu lagi-lagi tersenyum manis ketika ia berbalik untuk menghadap kami. “Tristan jarang sekali bersuara kalau bersama lawan jenis—tidak tahu kalau-kalau orientasinya menyimpang atau bagaimana.” Ia melontarkan cengir ketika mendapatkan pelototan dari Tristan yang—setidaknya—reaksi itu cukup manusiawi di mataku.
“Omong-omong, setiap awal dan akhir semester akan diadakan turnamen antarmurid.” Ben mengalihkan pembicaraan, kemungkinan karena tidak ingin mendapat kicauan dari kawan sekamarnya. Ia menunjuk belakangnya tanpa repot-repot berbalik, kemudian meneruskan, “Dan biasanya, sebuah amfiteater akan muncul dalam periode tersebut. Mungkin di lain waktu, aku bisa memperkenalkan amfiteater itu kepadamu. Kita tidak akan bisa melihatnya kalau bukan karena turnamen.”
“Amfiteater tersembunyi?” tanyaku.
“Disembunyikan oleh Menteri Shawn.” Ben kembali menerangkan, “Pihak Asrama tidak mengizinkan muridnya bertanding secara ilegal. Bisa saja turnamen ilegal ini menjadi ajang saling bunuh. Jadi, sihir spesial transparan milik Menteri Shawn menjadi satu-satunya tindakan preventif untuk perkara satu ini.”
“Oh, begitu.”
Perbincangan kami mengenai amfiteater sudah berakhir. Selanjutnya, kami kembali menelusuri halaman belakang dan melintasi amfiteater transparan tanpa merasakan kejanggalan sedikit pun. Amfiteater itu benar-benar seperti sesuatu yang tidak pernah ada dan tidak bisa kusentuh meski Ben berkata kalau kami baru saja menembusnya. Memikirkan tentang kehebatan sihir spesial Menteri Shawn itu berhasil menciptakan kegamangan dalam diriku.
Sejujurnya, keberanianku sedikit banyak menciut—sepertinya aku harus tekun dengan mempelajari dan mengendalikan sihir pelenyapku mulai dari sekarang.
“Nah, kita telah memasuki bagian dari asrama selanjutnya—” Ben menghentikan langkah saat visual kami menemukan sebuah paviliun bertingkat satu dengan warna sinkron seperti Pusat Akademi, “—tempat di mana seluruh murid Asrama Nightfall akan memiliki waktu untuk sarapan dan makan malam. Oh ya, untuk jadwal dan seragam biasanya akan dibagikan oleh Roselle Adelard—si ketua asrama putri—saat kau tiba di sana nanti.”
“Bicara soal seragam, mengapa kalian tidak mengenakannya?” Aku baru sadar kalau mereka hanya mengenakan pakaian kasual, alih-alih seragam. Padahal, aku tidak sabar melihat bentuk seragam Asrama Nightfall—barangkali modelnya bisa membuatku terlihat tinggi dari yang seharusnya bak para pedestrian yang kulihat-lihat kemarin.
“Semester awal masih belum dimulai.” Ben mengacungkan masing-masing empat jari dari kedua tangannya. “Besok. Tanggal delapan.”
“Kebetulan sekali.” Senyum lebar tercetak di bibirku kala itu juga, “Aku berulang tahun besok.”
“Oh ya? Ingatkan aku untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu nanti.”
“Tidak perlu,” balasku. “Lupakan soal pertambahan usia itu. Sekarang, teruskan ke bagian dari Asrama Nightfall selanjutnya.”
Ben segera menurut, merespons dengan anggukan dan tidak berkata lebih sampai kami bertiga sudah tiba di bagian selanjutnya. Terdapat dua bangunan berukuran sedang—berdiri di sisi kanan dan kiri dan memiliki jalur tersendiri. Si pemilik surai hijau neon tersebut menjelaskan kedua bangunan itu adalah asrama putri dan asrama putra. Untuk asrama putri berada di sisi kiri, sementara asrama putra berada di sisi yang berkebalikan dengan milik putri.
“Maaf, aku tidak memiliki akses untuk masuk ke asrama putri, jadi sepertinya hanya sampai di sini saja.” Ben menolehkan kepalanya ke arah Tristan setelah menatapku dengan senyum tak enak, “Sekarang, posisiku akan digantikan olehnya. Tristan adalah salah satu pemuda yang diberikan akses menuju asrama putri oleh Roselle. Senang bertemu dengan kau, Candice. Semoga bisa beradaptasi dengan baik di Nightfall.”
Dengan setengah hati, aku mengangguk. Begitu membayangkan kami—aku dan Tristan—hanya berdua saja tanpa perbincangan apa pun, sudah pasti membuatku ingin cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Sikap apatisnya terlampau dahsyat, sampai-sampai jarang sekali bagiku mendengar suaranya. Begitu Ben berjalan ke jalur kanan untuk memasuki asrama putra, Tristan serta-merta berjalan mendahuluiku dan melintasi jalur kiri.
Kesenyapan melingkupi kami. Dalam atmosfer seperti ini, aku mengharapkan kehadiran Glacies. Makhluk itu acap kali berseliweran dan menghilang setelahnya—bahkan aku tidak tahu dan tidak akan peduli ke mana ia sekarang kalau saja masih ada Ben. Tidak ada yang dapat kulakukan untuk mencairkan kesenyapan, sebab aku masih terlalu cerdas untuk sadar kalau Tristan tidak akan merespons apa pun pertanyaan yang kulontarkan.
Tetapi, bibirku tidak secerdas itu karena ia malah bersuara, “Sebutkan satu kata.”
“Apa?”
“Oke, itu termasuk satu kata.” Aku beringsut menyusul langkah Tristan yang sudah lebih dulu masuk ke dalam asrama putri. “Bagaimana kau bisa mendapatkan akses menuju asrama ini—namun tidak dengan Ben? Maksudku, kau bahkan bukan tipe pemuda yang terlihat memiliki animo kepada lawan jenis.”
“Bukan urusanmu.”
Dua kata itu mampu membuatku mengerucutkan bibir. Sepertinya, Tristan tidak memiliki selera humor sama sekali. Pemuda itu masih tetap saja menampakkan ekspresi datarnya, padahal aku sengaja berkelakar agar bisa mencairkan kesenyapan. Atau selera humorku memang seburuk itu—sampai-sampai ia tidak bereaksi sedikit pun?
“Kau—”
Belum sempat aku kembali mengutarakan pertanyaan, Tristan mendadak berhenti—dan kebetulan aku sudah berdiri di belakangnya karena kesulitan menjangkau pemuda itu. Jadi, kepalaku langsung membentur punggungnya yang solid. Dengan segera, aku menarik kepalaku menjauh dan meringis seraya menyentuh hidungku—mulai menduga-duga semenjak kapan Tristan mulai berlatih dengan raganya sehingga memiliki bentuk fisik yang padat seperti ini.
Tanpa merasa oleng akibat terbentur oleh kepalaku, ia memutar knop dan mendorong sebuah pintu paling besar di hadapan kami. Tidak ada ornamen yang terukir seperti pada permukaan pintu Pusat Akademi—kosong melompong dan hanya bercat putih gading. Kurasa pemilik Asrama Nightfall sangat tergila-gila dengan warna putih gading, sampai-sampai hampir seluruh bagian dari Asrama Nightfall memiliki warna tersebut yang sinkron dan begitu mendominasi.
Yang benar saja, aku bahkan tidak pernah menyangka terdapat makhluk sefanatik seperti ini. Tidak ada kewarasan sama sekali.
“Cobalah mengetuk pintu sesekali, sayang.”[]